Diusir AS karena Tuduhan Teroris, Wasit Omar Artan Malah ‘Diarak’ Bak Pahlawan di Somalia

Diusir AS karena Tuduhan Teroris, Wasit Omar Artan Malah ‘Diarak’ Bak Pahlawan di Somalia

Ibnu Medium.jpeg

Rabu, 10 Juni 2026 – 21:37 WIB

Wasit Piala Dunia 2026 asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk AS karena dituduh terkait jaringan teroris. Ia sempat diinterogasi 11 jam di bandara Miami. (Foto: EPA)

Wasit Piala Dunia 2026 asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk AS karena dituduh terkait jaringan teroris. Ia sempat diinterogasi 11 jam di bandara Miami. (Foto: EPA)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Alasan sebenarnya di balik insiden pendeportasian wasit Piala Dunia 2026 asal Somalia, Omar Artan, akhirnya mencuat ke publik. 

Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) pada Selasa (9/6) malam waktu setempat membocorkan bahwa Artan dilarang masuk ke Negeri Paman Sam lantaran dicurigai memiliki “keterkaitan dengan terduga anggota organisasi teroris”.

Pernyataan pejabat yang enggan disebutkan namanya tersebut mengonfirmasi spekulasi yang beredar usai Artan dicegat oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) di Bandara Internasional Miami akhir pekan lalu.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Gugus Tugas FIFA Gedung Putih, Andrew Giuliani, menegaskan bahwa penolakan Artan didasari oleh “alasan yang sangat kuat”, meski ia menolak merinci detail keamanan tersebut.

Interogasi 11 Jam dan Ditahan di Sel

Omar Artan, yang dinobatkan sebagai wasit pria terbaik Afrika tahun 2025, membeberkan pengalaman pahitnya kepada The New York Times. Ia mengungkapkan telah menjalani interogasi intensif selama 11 jam oleh petugas perbatasan di Miami.

Meski telah menunjukkan dokumen resmi dari FIFA, portofolio karier wasitnya, serta visa yang diterbitkan secara sah oleh Kedutaan Besar AS di Kenya, otoritas setempat terus mencecarnya dengan pertanyaan seputar politik Somalia dan kelompok militan Al-Shabab.

Usai interogasi yang melelahkan, Artan dimasukkan ke dalam sel tahanan sementara sebelum akhirnya diterbangkan kembali ke Istanbul, Turki, rute transit asalnya.

“Saya pikir mereka memiliki masalah dengan negara saya,” ujar Artan yang menegaskan tidak pernah diberi tahu alasan resmi penolakannya.

Disambut Layaknya Pahlawan di Mogadishu

Menyusul insiden diplomatik dan olahraga ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga Somalia sempat berupaya melobi Kedutaan AS agar Artan bisa tetap bertugas di Piala Dunia. Namun, keputusan otoritas keamanan AS tampaknya sudah final.

Alih-alih terpuruk, Artan yang kembali tiba di ibu kota Mogadishu pada Rabu (10/6) pagi justru disambut layaknya pahlawan. Ratusan suporter yang mengibarkan bendera Somalia, pejabat pemerintah, hingga petinggi Federasi Sepak Bola Somalia memadati Bandara Internasional Aden Adde untuk memberikan dukungan moral.

“Saya berjanji kepada kalian, insyaallah, saya akan hadir di (Piala Dunia) edisi berikutnya,” tegas Artan di hadapan kerumunan massa sebelum dikawal ke terminal VIP. “Saya ingin masyarakat Somalia mengambil hikmah dari hal ini dan tetap percaya diri.”

Insiden pendeportasian perangkat pertandingan resmi FIFA ini terbilang sangat langka. Kasus Artan kian menyoroti dampak kebijakan pembatasan perjalanan ketat era pemerintahan Donald Trump yang menargetkan hampir 40 negara, memicu kekhawatiran bahwa staf, pemain, maupun suporter berisiko menjadi korban birokrasi keamanan AS.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 1 visit(s) today