Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Berharap nilai tukar rupiah bisa menguat, Bank Indonesia (BI) memborong Surat Berharga Negara (SBN) melalui pasar sekunder senilai Rp111,54 triliun per 21 April 2026. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil, mata uang Garuda justru melemah ke Rp17.181/US$. Semakin merapat ke level Rp17.200/US$.
“BI berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Rinciannya, total pembelian BI mencapai Rp56,53 triliun lewat pasar sekunder. Langkah ini juga didukung dengan penguatan kebijakan transaksi di pasar valuta asing (valas).
“Pembelian SBN mencerminkan sinergi erat antara kebijakan moneter dan fiskal, sekaligus bertujuan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan,” imbuhnya.
Dikatakan Perry, pembelian SBN dilakukan sesuai mekanisme pasar secara terukur, transparan, dan konsisten dengan arah kebijakan moneter. Ke depan, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan demi menjaga stabilitas perekonomian dan mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global.
Guna menjaga mata uang Garuda, BI mengaku telah meningkatkan intensitas intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.
Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing. Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku mulai April 2026.
Alih-alih rupiah perkasa dengan berbagai jurus BI, realitasnya justru makin ‘ndelosor’. Kurs rupiah di pasar spot tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan Rabu (22/4/2026). Rupiah ditutup melemah di level Rp17.181/US$, atau turun 0,22 persen dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.143/US$.
Hingga pukul 15.00 WIB, mata uang di Asia bergerak bervariasi. Rupee India, misalnya mengalami pelemahan terdalam di Asia sebesar 0,38 persen.
Selanjutnya, peso Filipina tertekan 0,31 persen dan dolar Taiwan turun 0,12 persen. Ringgit Malaysia merosot 0,05 persen, sementara dolar Hong Kong melemah tipis 0,02 persen.
Sedangkan won Korea Selatan (Korsel) menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia sebesar 0,36 persen. Diikuti baht Thailand yang naik 0,24 persen, dolar Singapura menguat 0,15 persen, dan yen Jepang menanjak 0,09 persen. Yuan China juga menguat tipis 0,03 persen terhadap dolar AS.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














