Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir terus melakukan evaluasi terhadap aset-aset yang dimiliki Kemenpora. Setelah sebelumnya meninjau Pusat Pelatihan Nasional di Cibubur, kali ini Menpora Erick meninjau P3SON (Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional) Hambalang, di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/10). (Foto: Kemenpora)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Publik sepak bola tengah menunggu evaluasi menyeluruh pasca kegagalan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun alih-alih memimpin rapat Exco PSSI dan mengurai persoalan teknis Garuda, Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, justru terlihat meninjau proyek mangkrak P3SON Hambalang, Rabu (15/10/2025).
Langkah ini menuai tanda tanya besar: apakah fokus Erick kini mulai bergeser dari pembenahan prestasi ke urusan aset dan proyek infrastruktur yang lama terbengkalai?
Publik Tunggu Evaluasi Timnas, Erick Malah ke Hambalang
Hanya dua hari setelah menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto karena gagal meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia, Erick memilih turun ke lapangan—tapi bukan ke lapangan sepak bola, melainkan ke Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang di Kabupaten Bogor.
Di lokasi, Erick terlihat meninjau kompleks yang sudah lama terbengkalai dan ditumbuhi semak setinggi dua meter. Ia datang didampingi Sekretaris Menpora Gunawan Suswantoro dan sejumlah pejabat dari Kemenko Infrastruktur, Kementerian PUPR, hingga Direktur Utama Adhi Karya.
“Setelah kemarin kami datang ke pusat pelatihan atlet Cibubur, hari ini kami mengunjungi P3SON Hambalang untuk mengevaluasi aset-aset yang ada di Kemenpora agar bisa digunakan secara efektif ke depannya,” kata Erick Thohir dalam keterangan resminya.
Namun momentum kunjungan itu dianggap publik tak tepat. Alih-alih memulihkan moral tim dan menuntaskan rapat evaluasi bersama Exco PSSI, Erick justru tampil di proyek lama yang sudah identik dengan simbol kegagalan dan korupsi masa lalu.
Hambalang: Luka Lama yang Kembali Dibuka
Proyek Hambalang bukan sekadar fasilitas olahraga. Ia adalah simbol ambisi besar yang berujung bencana, sejak pertama kali dicanangkan pada 2003 saat Kemenpora masih berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Di atas lahan seluas 32 hektare, pemerintah membangun masjid, asrama, pagar, hingga gedung olahraga serbaguna. Namun setelah dua dekade, hanya sekitar 50–75 persen bangunan yang rampung, sisanya terbengkalai, rusak, dan dikelilingi semak.
Kasus korupsi besar yang menjerat pejabat tinggi Kemenpora pada 2012 membuat proyek ini berhenti total. Sejak itu, Hambalang menjadi “monumen skandal” di dunia olahraga nasional—lambang bagaimana niat baik bisa berubah menjadi luka politik.
Kini, ketika publik menagih evaluasi Timnas, Erick Thohir justru memilih membuka lagi luka lama itu.
Dari Timnas ke Aset, Pergeseran Fokus yang Disorot
Dalam konteks manajemen publik, kunjungan Erick ke Hambalang sah-sah saja. Tapi waktu dan situasinya membuat langkah ini tampak kontraproduktif.
Di tengah tekanan publik, seharusnya Erick memprioritaskan evaluasi performa Timnas bersama Exco PSSI, membahas nasib Patrick Kluivert, dan merancang peta jalan menuju Piala Asia 2027.
Kritik serupa juga ramai di media sosial. Banyak warganet menilai Erick terlalu sibuk mengatur citra sebagai menteri reformis, tapi lalai terhadap tugas utamanya sebagai Ketua Umum PSSI yang baru saja gagal memenuhi janji Piala Dunia.
Banyak pihak berharap Erick segera memimpin rapat Exco PSSI dan menyampaikan rencana konkret: nasib pelatih, evaluasi program naturalisasi, serta transparansi penggunaan dana ratusan miliar rupiah yang telah disuntikkan, termasuk tambahan dari Presiden Prabowo.
Jika tidak, publik akan melihat kunjungan Hambalang hanya sebagai pengalihan isu—sebuah cara klasik untuk menggeser sorotan dari kegagalan Timnas ke panggung baru bernama “reformasi aset”.
Dua peran besar kini membebani Erick Thohir: sebagai Menpora yang mengevaluasi aset, dan sebagai Ketua Umum PSSI yang gagal mengantarkan Timnas ke Piala Dunia.














