Bumi Makin Mendidih! Ilmuwan Ungkap Skenario Pemanasan Global Masa Depan

Bumi Makin Mendidih! Ilmuwan Ungkap Skenario Pemanasan Global Masa Depan

Anomali cuaca dan gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia belakangan ini bukan lagi gertak sambal. Suhu Bumi diperkirakan bakal terus melonjak dalam beberapa dekade mendatang seiring pemanasan global yang makin tak terkendali.

Kondisi gerah yang membakar ini dipastikan bakal terus berlangsung sampai emisi gas rumah kaca yang memenjarakan panas—terutama karbon dioksida dan metana—benar-benar bisa ditekan hingga nol (net zero emission).

Mengutip Mashable.com, Senin (10/8/2026), deretan rekor suhu ekstrem yang tercipta sejak 2023 menjadi cermin betapa nyatanya ancaman krisis iklim saat ini.

Rekor Panas Ekstrem Pecah di Berbagai Belahan Dunia

Suhu ekstrem yang menggulung sejumlah wilayah dunia tak lagi bisa dianggap sebagai fenomena alam biasa. Di Kota Phoenix, Amerika Serikat, warga harus mengurut dada setelah dipanggang suhu di atas 110 derajat Fahrenheit (sekitar 43,3 derajat Celsius) selama lebih dari 30 hari berturut-turut.

Kondisi tak kalah mengerikan terjadi di China yang mencatatkan rekor 126 derajat Fahrenheit (52,2 derajat Celsius). Bahkan kawasan Death Valley mencatat suhu gila-gilaan mencapai 120 derajat Fahrenheit (48,9 derajat Celsius) tepat pada pukul 01.00 dini hari. Sementara itu, Roma di Italia ikut membara di angka 109 derajat Fahrenheit (42,8 derajat Celsius).

Gelombang panas memang fenomena alamiah, namun pemecahan rekor secara beruntun dan masif di berbagai negara menunjukkan ada sistem bumi yang sedang rusak.

Seberapa panas bumi di masa depan sangat bergantung pada seberapa banyak emisi bahan bakar fosil yang terus disemburkan manusia ke atmosfer. Lantaran perilaku manusia dan arah kebijakan politik sulit ditebak, para ahli iklim merancang beberapa skenario untuk memprediksi nasib bumi.

Ilmuwan iklim dari Cornell University, Flavio Lehner, menegaskan bahwa skenario masa depan sangat bergantung pada tindakan manusia hari ini.

“Perilaku manusia dan arah kebijakan penggunaan energi di masa depan merupakan variabel yang paling sulit diprediksi secara pasti,” ungkap Lehner.

Skenario Terburuk Menjauh, tapi Target 1,5 Derajat Celsius Makin Sulit

Kabar baiknya, skenario paling kelam –di mana suhu bumi melonjak hingga 5 derajat Celsius (9–10 derajat Fahrenheit) dibanding era praindustri– dinilai makin kecil kemungkinannya untuk terjadi.

Skenario terburuk yang dikenal dengan kode SSP5-8.5 itu mengasumsikan penggunaan batu bara melonjak hingga 6,5 kali lipat pada tahun 2100. Kenyataannya, pertumbuhan konsumsi batu bara saat ini sudah tak secepat dulu.

Pemicunya tak lain adalah masifnya transisi energi terbarukan. Energi surya dan angin kini berkembang pesat, bahkan sudah menyumbang sekitar 13 persen dari total pasokan energi di AS.

Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menilai, dunia sedang berada di jalur transisi energi yang tak terbayangkan satu dekade lalu.

“Perkembangan energi saat ini membuat kemungkinan terjadinya skenario masa depan yang paling buruk semakin kecil. Dunia semakin menjauh dari jalur pemanasan ekstrem,” kata Hausfather.

Namun di sisi lain, skenario terbaik (SSP1-1.9) yang ingin membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius (2,7 derajat Fahrenheit) sesuai Kesepakatan Paris 2016 juga tampaknya makin sulit dikejar. Bumi diprediksi bakal menembus ambang batas 1,5 derajat Celsius tersebut, bahkan berpotensi terjadi lebih cepat pada dekade 2030-an.

Skenario Paling Realistis: Suhu Bumi Naik 2,6 Derajat Celsius

Saat ini, bumi sendiri sudah mengalami kenaikan suhu sekitar 1,2 derajat Celsius (2 derajat Fahrenheit) dibanding akhir abad ke-19. Dengan gagalnya skenario terbaik dan menjauhnya skenario terburuk, posisi bumi kini berada di tengah-tengah.

Menurut Hausfather, jalur paling realistis yang tengah dihadapi bumi saat ini mengarah pada skenario SSP2-4.5, yaitu kenaikan suhu sekitar 2,6–2,7 derajat Celsius (4,8 derajat Fahrenheit) pada akhir abad ini.

“Angka tersebut merupakan perkiraan terbaik berdasarkan kebijakan iklim yang berlaku di berbagai negara saat ini, walau kita masih memperhitungkan respons atmosfer terhadap lonjakan karbon dioksida,” jelasnya.

Meski terhindar dari kiamat iklim terburuk, kenaikan 2,6 derajat Celsius tetaplah skenario berbahaya yang wajib dihindari. Hausfather menegaskan dunia harus berbuat lebih dari sekadar mengandalkan kebijakan yang ada sekarang.

Malapetaka Mengerikan Menanti jika Suhu Naik 2 Derajat

Dampak kenaikan suhu 1,2 derajat Celsius yang kita rasakan hari ini saja sudah membikin bergidik. Atmosfer yang panas mengeringkan hutan dan vegetasi, memicu kebakaran hutan yang lebih hebat. Lapisan es raksasa di Greenland terus mencair dan memastikan permukaan air laut bakal naik selama berabad-abad ke depan.

Tak hanya itu, gelombang panas laut kini makin sering terjadi hingga memicu kematian massal terumbu karang. Bencana kekeringan panjang melanda wilayah barat daya AS yang memukul hasil panen secara drastis.

Atmosfer yang hangat juga menampung lebih banyak uap air, pemicu utama hujan ekstrem dan banjir bandang. Sementara suhu laut yang mendidih menjadi ‘bahan bakar’ utama bagi badai dan siklon tropis. Badan Atmosfer dan Kelautan AS (NOAA) memperkirakan intensitas badai bakal meningkat tajam jika bumi memanas 2 derajat Celsius.

Flavio Lehner memperingatkan, jika kenaikan suhu bumi benar-benar menyentuh angka 2 derajat Celsius, dampak bencana alam tidak sekadar bertambah, melainkan bisa melonjak dua kali lipat dalam hal frekuensi maupun keparahannya.

“Berbagai peristiwa ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah muncul ketika pemanasan baru menyentuh 1,2 derajat Celsius. Generasi mendatang akan menanggung akibatnya, dan seberapa parah kondisi itu sangat tergantung pada seberapa kuat kita menekan emisi hari ini,” pungkas Lehner.

Visited 4 times, 4 visit(s) today