Artificial General Intelligence (AGI) atau kecerdasan buatan tingkat manusia telah menjadi buzzword primadona di industri teknologi selama setahun terakhir. Janji akan hadirnya AGI sering kali digunakan oleh perusahaan teknologi raksasa untuk menjustifikasi pembakaran modal gila-gilaan dan konsumsi energi pusat data yang masif.
Namun, apakah kita benar-benar sudah mencapai era AGI? Menurut CEO NVIDIA, Jensen Huang, jawabannya adalah: Sudah. Tetapi, klaim tersebut ternyata bersandar pada definisi yang sangat longgar dan bisa dibilang penuh celah.
Definisi Fleksibel di Podcast Lex Fridman
Dalam sebuah wawancara terbaru di podcast Lex Fridman, Huang mendiskusikan berbagai topik mulai dari geopolitik hingga masa depan pusat data. Diskusi memanas ketika Fridman memberikan sebuah tantangan definisi AGI: Apakah sebuah AI mampu memulai, menumbuhkan, dan menjalankan perusahaan teknologi bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS dalam 5 hingga 20 tahun ke depan?
Mengingat pesatnya perkembangan alat AI agen (agentic AI) seperti OpenClaw belakangan ini, Huang menjawab dengan sangat percaya diri bahwa kita tidak perlu menunggu 5 atau 20 tahun.
“Saya rasa waktunya adalah sekarang. Saya pikir kita telah mencapai AGI,” jawab Huang lugas.
Celah “Aplikasi Viral 1 Miliar Dolar”
Klaim berani Huang tersebut ternyata didasarkan pada interpretasi yang sangat sempit terhadap pertanyaan Fridman. Bagi Huang, entitas AI tidak perlu membangun sesuatu yang bertahan lama, tidak perlu mengelola sumber daya manusia, atau menavigasi dewan direksi. AI tersebut hanya perlu menyentuh valuasi 1 miliar dolar AS satu kali saja.
“Anda bilang satu miliar (dolar), dan Anda tidak bilang (harus bertahan) selamanya,” kilah pria yang memimpin perusahaan bervaluasi sekitar $4 triliun tersebut.
Huang memaparkan skenario di mana agen AI menciptakan sebuah layanan web sederhana atau aplikasi viral. Aplikasi tersebut kemudian digunakan oleh beberapa miliar orang yang masing-masing membayar 50 sen, mencapai pendapatan 1 miliar dolar, lalu diam-diam mati dan dilupakan. Ia menyamakan skenario ini dengan era dot-com, di mana banyak situs web bernilai jutaan dolar sebenarnya tidak lebih canggih dari apa yang bisa di-generate oleh AI saat ini.
Nol Persen Peluang Membangun NVIDIA
Menariknya, di tengah klaim optimis tersebut, Huang tetap realistis mengenai batasan kemampuan AI saat ini. Ia secara terbuka mengakui bahwa kecerdasan kolektif dan institusional yang dibutuhkan untuk membangun perusahaan perangkat keras raksasa belum bisa digantikan oleh mesin.
“Peluang 100.000 agen (AI) tersebut untuk membangun NVIDIA,” aku Huang, “adalah nol persen.”
Pernyataan ini seolah menjadi antiklimaks. Apa yang dideskripsikan Huang pada dasarnya hanyalah sebuah skrip pembuat aplikasi viral yang berumur pendek, bukan AGI transformatif pengubah tatanan ekonomi dunia yang selama ini mendominasi narasi publik.














