China Buka Suara soal Proyek Whoosh yang Dituding ‘Busuk’

China Buka Suara soal Proyek Whoosh yang Dituding ‘Busuk’

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 24 Oktober 2025 – 12:33 WIB

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun. (Foto: Antara/Desca Lidya Natalia)

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun. (Foto: Antara/Desca Lidya Natalia)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Proyek ambisius Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang kini dikenal dengan nama Whoosh, kembali menjadi sorotan tajam. Setelah menuai polemik soal pembengkakan utang hingga label ‘proyek busuk’ yang dilontarkan pejabat tinggi Indonesia, kini giliran Pemerintah China angkat bicara.

Melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, Negeri Tirai Bambu itu memberikan respons resmi terkait kisruh kesulitan keuangan yang diderita PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai buntut dari megaproyek tersebut.

Guo menegaskan, sejak awal pelaksanaan proyek Whoosh, pemerintahan kedua negara telah menjalin komunikasi dan koordinasi yang sangat erat. Koordinasi ini, sebut dia, mencakup seluruh aspek, termasuk penilaian investasi, perhitungan angka-angka keuangan, hingga potensi ekonomi yang bakal didulang.

“Perlu ditegaskan, ketika menilai proyek kereta api cepat, selain angka-angka keuangan dan indikator ekonomi, manfaat publik dan imbal hasil komprehensifnya juga harus dipertimbangkan,” kata Guo Jiakun, seperti dikutip dari laman resmi pemerintah China.

China, lanjut Guo, selalu siap bekerja sama dengan Indonesia untuk terus memfasilitasi pengoperasian Whoosh dengan kualitas tinggi. Tujuannya agar sarana transportasi ini bisa memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong pembangunan ekonomi, sosial, dan meningkatkan konektivitas di kawasan.

Utang Membengkak, Label ‘Busuk’ dari Luhut

Polemik proyek Whoosh kembali memanas setelah besarnya utang proyek tersebut diungkit ke publik. Nilai investasi Whoosh kini tercatat tembus US$7,2 miliar atau setara Rp116,54 triliun (asumsi kurs Rp16.186 per dolar AS).

Angka fantastis ini jauh melampaui proposal awal China yang menawarkan investasi ‘hanya’ US$6,07 miliar atau sekitar Rp86,67 triliun. Mayoritas atau 75 persen pendanaan proyek berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), sementara sisanya ditanggung oleh modal pemegang saham, termasuk KAI.

Besarnya utang inilah yang memicu polemik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, dengan tegas menolak jika utang Whoosh dibayar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Itu kan Whoosh sudah dikelola oleh Danantara (holding BUMN). Danantara sudah ngambil Rp80 triliun lebih dividen dari BUMN, seharusnya mereka manage dari situ saja,” ketus Purbaya usai Sidak di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (13/10/2025). Ia menilai, akan sangat ‘lucu’ jika APBN harus turun tangan lagi.

Tak hanya soal utang, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bahkan pernah mengungkap proyek ini sudah berstatus ‘busuk’ saat ia mulai terlibat.

“Jadi memang saya menerima proyek (Whoosh) sudah busuk itu barang,” kata Luhut di Jakarta, Kamis (16/10/2025) lalu.

Kebusukan yang dimaksud Luhut tidak hanya terkait lonjakan nilai investasi, tetapi juga cara pembangunan yang dianggap serampangan. Kasus pembangunan pilar Light Rail Transit (LRT) yang dikerjakan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) di KM 3+800 tanpa izin resmi hingga pengelolaan sistem drainase yang buruk sempat membuat proyek dihentikan oleh Komite Keselamatan Konstruksi Kementerian PUPR pada 2020. Akibatnya, terjadi genangan air dan kemacetan parah di Tol Jakarta-Cikampek.

Untuk menanggulangi ‘kebusukan’ yang terlanjur terjadi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2021 lalu membentuk Komite Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung, yang dipimpin langsung oleh Luhut Pandjaitan, menunjukkan upaya serius pemerintah memperbaiki proyek strategis nasional ini.
 

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today