Cesc Fabregas tidak bisa memutuskan perasaan apa yang dominan di benaknya. Bangga atau marah? Pelatih Como itu berbagi cerita penuh emosi setelah timnya hanya bermain imbang tanpa gol melawan juara bertahan Napoli, Sabtu (2/5/2026) malam WIB di Stadion Giuseppe Sinigaglia.
Yang menarik, di tengah refleksinya tentang pertandingan, Fabregas juga membocorkan saran khusus yang ia berikan kepada bintang muda Nico Paz — ajakan untuk belajar dari etos kerja Ousmane Dembele yang baru saja ia saksikan langsung di Parc des Princes.
Conte Lagi-Lagi Frustrasi
Hasil ini menjadi pertemuan ketiga musim ini antara Como dan Napoli — dan ketiganya berakhir imbang. Tidak hanya itu, Como bahkan sempat menyingkirkan Napoli lewat adu penalti di babak perempat final Coppa Italia. Sebuah catatan yang pasti membuat eks atasan Fabregas di Chelsea, Antonio Conte, frustrasi setengah mati.
Tim Lariani sebenarnya mendapat peluang lebih bagus di babak awal saat tendangan Tasos Douvikas dibendung Amir Rrahmani di garis gawang. Di pengujung pertandingan, Matteo Politano hampir mencuri kemenangan untuk Napoli, tapi tembakan jarak jauhnya hanya membentur tiang gawang.
“Bangga Setahun Lalu Kami Bukan Apa-Apa, Tapi Marah Tak Bisa Menang”
Saat ditanya wartawan apakah ia lebih puas dengan performa atau jengkel dengan hasilnya, Fabregas memberikan jawaban yang refleksif dan jujur.
“Tergantung. Di kepala saya, mengingat siapa kami satu setengah tahun lalu, saya bisa bilang saya sangat bangga. Tapi kemudian kami mencoba menang hari ini, kami tidak berhasil, jadi dalam hal itu saya marah,” ujar Fabregas kepada DAZN Italia.
Mantan playmaker Arsenal dan Barcelona itu kemudian memuji ketangguhan tim asuhannya yang berani mengambil risiko menyerang Napoli secara langsung.
“Kami mencoba sangat agresif, untuk menekan Napoli, saya melihat tim yang ingin saya lihat, mencoba memenangi pertandingan. Nico Paz, Da Cunha, Perrone bertarung di lini tengah melawan Lobotka, De Bruyne, dan McTominay, jadi itu sesuatu yang juga tidak bisa saya lupakan,” lanjutnya.
Bayang-Bayang Juventus dan Roma di Belakang
Hasil seri ini bisa jadi pukulan bagi ambisi Como di papan atas klasemen. Bila Juventus menang dalam laga selanjutnya, Bianconeri akan unggul lima poin atas tim asuhan Fabregas dalam perebutan posisi empat besar.
Namun Fabregas memilih melihat gambaran lebih besar. Ia menekankan pentingnya menghargai proses panjang yang sedang dijalani Como.
“Saya merasakan pertumbuhan konstan para pemain saya, saya sangat menuntut mereka, dan ketika saya melihat penampilan melawan Sassuolo, Udinese, Parma, Fiorentina di mana mereka tidak memberikan apa yang ingin saya lihat, saya tidak melupakannya.”
“Setelah itu dikatakan, 95 persen waktunya, mereka memberikan apa yang ingin saya lihat. Saya tahu di mana mereka berada beberapa tahun lalu dan bagaimana mereka terus melangkah maju, jadi sebagai pelatih bukan hanya soal menganalisis kemenangan atau kekalahan, ada banyak jam kerja tak terlihat.”
Fabregas menutup refleksinya dengan optimisme. Menurutnya, layak bagi semua pihak untuk merasa senang bahwa Como sedang bersaing untuk posisi-posisi penting setahun setelah kembali ke Serie A — apalagi mengingat klub ini sempat absen dari kasta tertinggi selama 21 tahun.
Nico Paz: “Apakah Anda Yakin Dia Pergi?”
Nama Nico Paz dipastikan ramai dibicarakan musim panas mendatang. Real Madrid memegang opsi pembelian kembali (buy-back clause) bintang muda Argentina itu, dan banyak laporan menyebut Los Blancos berencana mengaktifkan klausul tersebut.
Namun Fabregas tampak tidak yakin Paz benar-benar akan hengkang dari Como.
“Apakah Anda begitu yakin? Ini bukan saatnya membicarakan masa depan. Kami sedang membangun sesuatu di sini, kami telah melihat banyak kemajuan dan ingin terus bekerja sama,” tegasnya.
Pernyataan ambigu yang cukup bertentangan dengan ekspektasi pasar. Apakah Fabregas tahu sesuatu yang publik belum tahu? Atau ini hanya cara halus untuk mengirim pesan ke kubu Real Madrid?
Belajar dari Dembele yang Mau Mengawal Pavlovic
Yang paling menarik adalah pembahasan tentang etos kerja Nico Paz. Wartawan menyoroti perbaikan kerja keras sang pemain malam itu, terutama dalam membantu pertahanan. Di sinilah Fabregas membongkar pesan inspiratifnya.
“Dalam sepak bola modern, ini adalah total football, Anda harus bisa melakukan segalanya,” tegas pelatih asal Spanyol tersebut.
“Saya sempat berkesempatan berada di Paris beberapa hari lalu untuk semifinal Liga Champions dan saya melihat Dembele melakukan man-marking ke Pavlovic. Pemain Ballon d’Or melakukan itu. Jika seorang Ballon d’Or bisa melakukan itu, semua orang juga bisa.”
Pesan yang luar biasa kuat. Bagi Fabregas, jika Ousmane Dembele yang baru saja membawa pulang trofi pemain terbaik dunia bersedia mengejar bek lawan, tidak ada alasan bagi pemain manapun untuk menganggap diri terlalu superior untuk pekerjaan defensif.
“Saya pikir gaya sepak bola ini dapat diadaptasi dengan skuad saya dan apa yang ingin kami lakukan dengan skuad yang sangat muda,” tambahnya.
Trik PSG yang Bisa Diadopsi Como
Fabregas juga ditanya soal adopsi taktik unik PSG yang sengaja menendang bola keluar lapangan untuk memulai membangun serangan dari belakang — sebuah trik yang ia saksikan langsung dalam kemenangan dramatis 5-4 PSG atas Bayern.
“Jika Anda telah mengikuti Como, Anda akan tahu kami pernah melakukannya sebelumnya, meski sedikit berbeda,” senyum Fabregas.
“Anda ingin menciptakan situasi di mana lawan dapat dipaksa melakukan kesalahan. Kami tidak melakukannya persis seperti mereka, tapi mungkin akan lakukan di masa depan.”
Sebuah jawaban diplomatis yang menggambarkan otak taktis Fabregas selalu berputar — selalu mencari cara baru untuk mengoptimalkan timnya.













