Hansi Flick punya rencana yang tidak biasa untuk Minggu malam. Bukannya duduk di sofa menatap layar TV menunggu nasib Real Madrid menentukan trofi Barcelona, sang pelatih asal Jerman justru memilih menghadiri pertunjukan pesulap terkenal Spanyol El Mago Pop di kota Catalonia.
Pilihan yang penuh kepercayaan diri — sekaligus sangat khas Flick. Sang pelatih menolak terjebak dalam ketegangan yang biasanya menyelimuti momen-momen krusial perebutan gelar. Bagi Flick, biarkan sepak bola berjalan apa adanya, sementara ia mengisi waktu bersama istri menikmati ilusi panggung.
Posisi Hampir Tak Tergoyahkan
Barcelona berhasil mengalahkan Osasuna 2-1 di Stadion El Sadar, Sabtu (2/5/2026), untuk melebarkan keunggulan mereka di puncak klasemen LaLiga menjadi 14 poin atas Real Madrid. Hasil tersebut membuat Blaugrana praktis sudah satu kaki di kursi juara, tinggal menunggu konfirmasi matematis.
Skenarionya kini sangat sederhana. Bila Real Madrid gagal menang lawan Espanyol pada Minggu (3/5/2026), Barcelona resmi merebut Trofi LaLiga musim 2025/2026 — gelar back-to-back kedua di bawah arahan Flick. Bila Madrid menang, perebutan akan berlanjut ke partai akbar El Clasico 10 Mei mendatang.
“Saya Tak Akan Pernah Nonton Itu”
Saat ditanya wartawan di konferensi pers usai laga apakah ia akan menonton Madrid versus Espanyol, jawaban Flick langsung tegas dan jujur.
“Tidak, percayalah saya tidak akan menonton Madrid,” kata Flick. “Saya tidak akan pernah melakukan itu. Itu bukan untuk saya. Mungkin saya akan pergi ke El Mago Pop. Saya pikir itu hari terakhir [Minggu]. Mungkin saya akan pergi bersama istri saya.”
Yang menarik, Flick punya cara cerdas tetap update dengan situasi tanpa harus terjebak menonton langsung.
“Saya akan memantau grup WhatsApp [untuk melihat] kalau ada sesuatu yang terjadi. Kemudian saya tahu ‘OK, ini hal yang bagus.’ Saya harus menunggu,” tambah Flick.
Filosofi yang menarik dari pelatih top dunia — gelar tidak diraih dengan menonton TV, melainkan dengan kerja keras yang sudah selesai dilakukan tim di lapangan.
Perjuangan di El Sadar yang Tak Mudah
Kemenangan di markas Osasuna tidak datang dengan mudah. Robert Lewandowski dan Ferran Torres baru mencetak gol di 10 menit terakhir untuk memberi Barcelona kemenangan susah payah di Pamplona.
Drama belum berakhir. Raul Garcia memperkecil kedudukan untuk Osasuna di menit ke-88, menciptakan finale yang menegangkan. Untungnya, Barcelona berhasil bertahan hingga peluit panjang dan mencatat kemenangan beruntun ke-10 mereka di LaLiga musim ini.
Konsistensi yang mengerikan. Sepuluh kemenangan beruntun di kompetisi domestik adalah catatan luar biasa, terutama mengingat ketatnya persaingan di liga papan atas Spanyol yang penuh klub berkualitas.
Flick: “Belum Saatnya Merayakan”
Meski mahkota juara hampir di tangan, Flick menolak membiarkan diri dan tim mabuk euforia prematur. Pelatih yang membawa Bayern Munich meraih treble pada 2020 itu masih meminta anak asuhnya menjaga fokus.
“Tidak, ini bukan saatnya untuk itu,” tegasnya. “Kita harus menunggu. Mungkin besok, mungkin pekan depan melawan Madrid.”
Flick kemudian memuji ketangguhan timnya sepanjang laga melawan Osasuna.
“Kami menyelesaikan tugas kami hari ini. Inilah yang sangat saya hargai dari tim. Kami juga bertahan dengan baik melawan lawan yang sangat kuat dengan umpan silangnya.”
Lalu sang pelatih menutup dengan pernyataan refleksif tentang perjalanan panjang sepanjang musim.
“Kami dekat dengan memenangi LaLiga. Inilah tujuan kami. Sepanjang musim kami memberikan segalanya. Sekarang kami dekat.”
El Clasico Bisa Jadi Penentu
Bila Real Madrid berhasil mencuri kemenangan di kandang Espanyol, momentum penobatan akan ditunda hingga partai akbar El Clasico pada 10 Mei mendatang di Santiago Bernabéu. Sebuah skenario yang sebenarnya juga menarik — Barcelona berpotensi merebut Scudetto-nya Spanyol langsung di markas rival abadi.
Bagi Real Madrid yang sedang dirundung krisis cedera (Mbappé masih meragukan, Militão operasi di Finlandia), tugas mengalahkan Blaugrana di depan publik sendiri dengan harga mati ekstra berat. Apalagi mengingat Barcelona sedang dalam form puncak dan belum kalah dalam 10 laga LaLiga terakhir.
El Mago Pop: Ilusi yang Pas untuk Momen Sempurna
Pemilihan El Mago Pop sebagai destinasi Minggu malam Flick juga punya simbolisme menarik. Antonio Díaz, atau yang dikenal sebagai El Mago Pop, adalah salah satu pesulap paling sukses di Spanyol — bahkan sempat tampil di Broadway, New York. Kemampuannya mengubah hal mustahil menjadi mungkin terasa pas dengan situasi Barcelona musim ini.
Tahun lalu, banyak yang meragukan keberlanjutan proyek Flick di Camp Nou setelah meraih treble. Kini, sang pelatih asal Jerman justru semakin solid — dengan Lamine Yamal makin matang, Pedri kembali bugar, dan Lewandowski masih ganas di usianya yang tak muda lagi.
Flick mungkin bukan pesulap dalam arti harfiah, tapi sentuhan ajaibnya pada Barcelona membuat banyak orang berdecak kagum. Andai Real Madrid gagal menang lawan Espanyol Minggu malam, gelar LaLiga akan datang sebagai hadiah ulang tahun bagi seorang pelatih yang lebih memilih menghabiskan malam menonton ilusi panggung daripada terjebak ketegangan TV.
Dan jujur saja — siapa yang bisa menyalahkan keputusannya?














