Diplomasi Macet, Relawan Konvoi Darat Global Sumud Flotilla Menuju Gaza Malah Jadi ‘Tahanan’ di Libya

Diplomasi Macet, Relawan Konvoi Darat Global Sumud Flotilla Menuju Gaza Malah Jadi ‘Tahanan’ di Libya

Armada Sumud pro-Palestina, Global Sumud Flotilla (GSF) menyatakan telah mengakhiri misi pengiriman bantuan darat ke Jalur Gaza setelah sejumlah anggotanya ditahan di Libya saat berupaya menegosiasikan akses perjalanan menuju Mesir.

“Konvoi darat Global Sumud Flotilla terpaksa mengakhiri misi kemanusiaan daratnya ke Gaza setelah penahanan 10 perwakilan yang sedang berupaya menegosiasikan jalur aman konvoi menuju Mesir,” demikian pernyataan GSF diterima inilah.com, Jumat (29/5/2026).

Misi kemanusiaan itu sebelumnya membawa ratusan peserta dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia, dengan sejumlah ambulans, rumah bergerak, dan truk bantuan yang berisi pasokan penyelamat nyawa untuk warga Gaza.

Para aktivis mengeklaim otoritas di Libya timur meminta agar bantuan tersebut diserahkan kepada Bulan Sabit Merah Libya untuk kemudian dikirim ke Mesir, dengan mengacu pada perintah dari otoritas Mesir.

Pernyataan itu menambahkan GSF terus berusaha menegosiasikan akses melintasi perbatasan, sebelum akhirnya para perwakilannya ditahan.

Dalam keterangan resminya, GSF menyebut 10 anggota delegasi negosiasi ditahan setelah mendatangi otoritas Libya timur untuk membahas kelanjutan jalur bantuan menuju perbatasan Mesir.

Mereka dilaporkan dipindahkan menggunakan kendaraan tanpa tanda resmi menuju lokasi yang tidak diketahui. 

Komunikasi dengan para negosiator juga sempat terputus sebelum otoritas Libya timur mengumumkan penahanan tersebut dengan tuduhan pelanggaran prosedur izin masuk.

GSF mengecam tindakan penahanan terhadap warga sipil tak bersenjata yang sedang menjalankan misi kemanusiaan. Mereka juga menuding adanya penghalangan bantuan kemanusiaan melalui “perang birokrasi” yang menghambat akses bantuan menuju Gaza.

Selain itu, konvoi kemanusiaan tersebut mengaku mendapat intimidasi saat berkemah di dekat Sirte, Libya. 

Sejumlah kendaraan tanpa identitas disebut mengepung area kamp dan memaksa para peserta meninggalkan lokasi. Beberapa peserta laki-laki dan perempuan dilaporkan mengalami kekerasan fisik.

Armada Sumud mendesak pembebasan tanpa syarat terhadap seluruh negosiator yang ditahan serta meminta pemerintah negara asal para peserta untuk segera melakukan intervensi diplomatik.

Mereka menegaskan misi solidaritas untuk Gaza akan terus dilanjutkan melalui jalur darat, laut, maupun langkah hukum internasional hingga blokade terhadap Gaza dihentikan.

Visited 3 times, 1 visit(s) today