Minggu sore yang kelabu di Old Trafford (11/1) menandai babak baru dalam buku sejarah kelam Manchester United. Tanpa manajer permanen, tanpa peluang trofi, dan nyaris tanpa harapan, The Red Devils resmi menyentuh titik nadir baru usai dipermalukan Brighton & Hove Albion 1-2 di putaran ketiga Piala FA.
Sejak Sir Alex Ferguson pensiun 13 tahun lalu, United telah mengalami banyak musim buruk. Namun, kampanye musim 2025/26 ini memiliki tempat tersendiri dalam daftar kegagalan tersebut.
Musim Berakhir di Bulan Januari
Kekalahan dari Brighton memastikan peluang trofi United musnah bahkan sebelum kalender genap memasuki pertengahan Januari. Sebelumnya, mereka telah dipermalukan oleh tim League Two, Grimsby Town, di ajang Carabao Cup pada Agustus lalu.
Ditambah dengan pemecatan Ruben Amorim pekan lalu, musim ini telah menjadi bencana total. Statistik mencatat fakta yang mengerikan:
Paling Sedikit Bermain: United diproyeksikan hanya akan memainkan sekitar 40 pertandingan musim ini. Ini adalah jumlah laga paling sedikit dalam satu musim penuh sejak kampanye 1914-15.
Ironi Manajerial: Musim ini, United memiliki lebih banyak manajer (3 orang: Amorim, Fletcher, dan calon interim) daripada jumlah pertandingan piala domestik yang mereka mainkan (2 laga: vs Grimsby & Brighton).
Reaksi Emosional Fletcher
Pelatih caretaker (sementara), Darren Fletcher, tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya dalam konferensi pers pasca-laga.
“Di sinilah posisi kami saat ini, kami tidak bisa lari dari kenyataan itu,” ujar Fletcher dengan suara yang terkadang bergetar menahan emosi. “Ini bukan level Manchester United atau apa yang diharapkan.”
Satu-satunya target yang tersisa bagi Fletcher—atau siapa pun yang akan memimpin tim—hanyalah berjuang mati-matian untuk finis di empat besar demi tiket Liga Champions.
“Kami harus mengambil langkah maju dengan lolos ke Liga Champions… Kami harus mencari cara untuk memenangkan pertandingan, dan dari sana membangun kepercayaan diri,” tambahnya.
Kartu Merah Shea Lacey dan Jadwal Neraka
Situasi semakin rumit bagi United. Wonderkid berusia 18 tahun, Shea Lacey, yang diharapkan menjadi pembeda, justru memperburuk keadaan. Baru masuk sebagai pemain pengganti, Lacey menerima kartu kuning kedua (kartu merah) hanya dalam tempo dua menit karena melakukan protes keras (dissent) dengan membanting bola ke tanah.
Akibatnya, Lacey dipastikan absen dalam laga krusial pekan depan. United harus menghadapi “jadwal neraka”: menjamu Manchester City di Old Trafford, disusul lawatan ke markas pemuncak klasemen, Arsenal, tujuh hari kemudian.
Bursa Pelatih Interim: Panggil Legenda Lagi?
Di tengah kekacauan ini, manajemen United sedang berpacu dengan waktu untuk menunjuk manajer interim yang akan bertugas hingga Mei 2026.
Laporan menyebutkan dewan klub telah melakukan pembicaraan dengan beberapa kandidat, termasuk mantan pelatih dan legenda klub seperti Ole Gunnar Solskjær, Michael Carrick, dan Ruud van Nistelrooy. Siapa pun yang terpilih, mereka akan mewarisi skuad yang “sakit”, tanpa arah, dan kehilangan kepercayaan diri.
Untuk saat ini, Old Trafford diliputi atmosfer apatis. Fans yang meninggalkan stadion di tengah hujan Manchester sadar bahwa tanpa perbaikan radikal di musim panas nanti, klub kesayangan mereka hanya akan terus berputar dalam lingkaran kegagalan.










