DPR: Percuma Gencar Kampanye Produk Lokal, UMKM Justru Dihambat Maju Permainan di Bea Cukai

DPR: Percuma Gencar Kampanye Produk Lokal, UMKM Justru Dihambat Maju Permainan di Bea Cukai

Diana Medium.jpeg

Minggu, 19 Oktober 2025 – 17:42 WIB

Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Kebankitan Bangsa (F-KB), Chusnunia Chalim. (Foto: Antara/HO-Pribadi).

Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Kebankitan Bangsa (F-KB), Chusnunia Chalim. (Foto: Antara/HO-Pribadi).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Wakil Komisi VII DPR Chusnunia Chalim yang akrab disapa Nunik, mendukung penuh langkah bersih-bersih Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa di Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) yang dianggap merongrong usaha wong cilik.

Seperti pernah disampaikan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, beberapa waktu lalu.

“Setiap tindakan yang merugikan UMKM tidak boleh dibiarkan. Kita selama ini selalu mengampanyekan cinta produk dalam negeri, tapi tentu menjadi rusak dan kontradiktif jika justru direcoki oleh anak negeri sendiri,” tegas Nunik di Jakarta, Minggu (19/10/2025).

Menurutnya, pemerintah telah bekerja keras mendorong daya saing produk UMKM bisa naik kelas, mudah menembus pasar global. Namun, berbagai praktik tidak etis di lapangan seperti pungutan tidak wajar, hambatan birokrasi, hingga penyalahgunaan kewenangan oleh aparat justru dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

“Saya mendukung penuh langkah Menkeu Purbaya untuk melakukan penindakan tegas. Ini bukan sekadar soal disiplin aparatur, tapi soal keadilan dan keberpihakan terhadap jutaan pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional,” jelasnya.

Sekretaris Fraksi PKB MPR sekaligus Ketua DPW PKB Lampung itu, menilai, peran UMKM terbukti sangat penting bagi ketahanan ekonomi bangsa, terutama saat pandemi COVID-19. ketika banyak sektor besar terpukul, namun UMKM tetap bertahan dan menjadi penopang utama lapangan kerja.

“UMKM adalah pahlawan ekonomi rakyat. Maka sudah sepatutnya negara hadir melindungi, bukan malah menjadi penghalang. Setiap tindakan yang menghambat perkembangan UMKM harus ditindak tegas dan dijadikan contoh agar tidak terulang kembali,” tegasnya.

Lebih lanjut, Nunik mendorong Kemenkeu untuk memperkuat mekanisme pengawasan internal di lingkungan Bea dan Cukai, termasuk membuka kanal pelaporan publik agar pelaku usaha kecil bisa menyampaikan keluhan tanpa takut akan intimidasi.

“Penegakan disiplin harus dibarengi dengan reformasi birokrasi yang berkelanjutan. Ini momentum baik untuk memperbaiki tata kelola lembaga dan memulihkan kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons, pernyataan Menteri Maman yang menuding ada oknum Bea Cukai meloloskan barang ilegal.

Menkeu Purbaya menyayangkan informasi itu tidak langsung disampaikan kepadanya, seraya berjanji akan menindak tegas berbagai informasi terkait penyelewengan di jajaran DJBC yang masuk ranah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

“Oh, Pak Maman bilang gitu? Kenapa nggak lapor saya, kenapa lapornya sama Anda? Kalau lapor sama saya, saya beresin. Sebelah mana pemainnya, siapa, nanti kita beresin,” ujar Purbaya kepada wartawan, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10/2025) malam.

Menkeu Purbaya menyatakan komitmen untuk melakukan pembersihan di tubuh institusi yang dipimpinnya. Saat ini, proses identifikasi dan pengumpulan informasi terhadap oknum yang diduga melakukan pelanggaran sedang digencarkan.

“Saya sedang giatkan lagi Bea Cukai untuk me-list atau memperbaiki kinerjanya. Jadi pertama kita list pemainnya siapa-siapa saja sih, nanti kita tangkap, kita proses satu-satu,” ucap dia.

Menkeu Purbaya berpesan kepada Menteri Maman, agar seluruh laporan dan informasi terkait oknum Bea Cukai yang menghambat UMKM, bisa disampaikan melalui saluran yang tepat. Agar bisa ditindaklanjuti secara internal.

“Jadi apalagi kalau Pak Maman ada permasalahan seperti itu, kasih tahu saya, jangan kasih tahu Anda (wartawan). Nanti saya beresin gitu. Nanti tolong kasih tahu dia ya,” sambungnya.

Mengingatkan saja, Menteri Maman menyoroti dampak serius dari derasnya produk ilegal dari luar negeri terhadap sektor UMKM. Praktik inilah yang menyulitkan produk UMKM lokal bisa bersaing di pasar dalam negeri.

“Kita tahu bahwa masih banyaknya oknum-oknum di Bea Cukai yang bermain. Saya sebut oknum ya, saya tidak sebut institusi, yang bermain. Akhirnya barang-barang selundupan atau pun barang-barang yang katanya ilegal tetapi disebut legal juga banyak masuk. Ini yang akhirnya membuat usaha mikro, kecil, menengah kita jadi nggak mampu bersaing,” ucap politikus Partai Golkar itu.

Sebagai salah satu solusi, dia mengusulkan strategi yang tak biasa. Misalnya, mendorong pelaku UMKM meniru model dari produk terkenal. Seperti yang sering dilakukan pengusaha di China.

“Ya udah kita dorong para pengrajin-pengrajin tas kita, membuat produk yang sama seperti produk-produk tas branded dalam hal ini, tas-tas China itu. Misalnya namanya apa tuh, Louis? Louis Vuitton. Ya gua sarankan kita buat barangnya sama kurang lebih, tapi namanya kita sebut Louis Vuttong,” jelas Menteri Maman yang sempat heboh karena istrinya memanfaatkan fasilitas negara saat pelesiran ke luar negeri itu.

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today