Dukung Agenda Hijau Pemerintah, MIND ID Targetkan Pangkas 2 Juta Ton Emisi Karbon

Dukung Agenda Hijau Pemerintah, MIND ID Targetkan Pangkas 2 Juta Ton Emisi Karbon

BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, membidik target besar dalam menjaga kelestarian lingkungan. Perusahaan menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 15,5 persen atau setara dengan dua juta ton CO2 (CO2 equivalent/CO2e) pada tahun 2030 mendatang.

Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen korporasi dalam mendukung agenda hijau pemerintah di sektor hilirisasi tambang yang berkelanjutan.

“Kami berkomitmen mendukung target Indonesia dalam mencapai second NDC tahun 2030 serta aspirasi net zero emissions Indonesia,” ujar Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Tantangan Lonjakan Energi di Tengah Hilirisasi

Binahidra menjelaskan, target pemangkasan dua juta ton emisi ini dicanangkan di tengah proyeksi lonjakan kebutuhan energi operasional yang diperkirakan naik hampir dua kali lipat. Kenaikan ini seiring dengan masifnya program hilirisasi mineral strategis nasional yang menjadi mandat utama perusahaan.

Berdasarkan proyeksi internal, kebutuhan energi Grup MIND ID akan melesat dari kisaran 149.000 terajoule (TJ) pada 2026 menjadi 293.000 TJ pada 2030, alias melonjak lebih dari 90 persen.

“Terlebih, emisi ini diproyeksikan bisa meningkat sekitar 2,1 kali lipat apabila tidak dilakukan intervensi. Dari semula 6.100 kiloton CO2e menjadi 12.900 kiloton CO2e dalam periode yang sama,” urai Binahidra.

Lonjakan tersebut mencerminkan skala ekspansi besar-besaran yang tengah berjalan. Mulai dari pengembangan tambang di Kalimantan, proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur, ekspansi fasilitas aluminium, pembangunan smelter, hingga proyek penambangan bawah laut.

Transisi ke Bahan Bakar Rendah Karbon

Untuk menekan potensi ledakan emisi tersebut, MIND ID menempuh sejumlah langkah strategis. Langkah pertama adalah konversi menuju bahan bakar rendah karbon. Strategi ini meliputi peningkatan penggunaan biodiesel dari B35 ke B40, penggantian high speed diesel (HSD) menjadi liquefied natural gas (LNG), hingga optimalisasi pasokan listrik dari jaringan PLN.

Di tingkat anggota holding, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah mengimplementasikan langkah ini melalui penggunaan bucket wheel excavator (BWE) untuk pengolahan batu bara di Unit Pertambangan Tanjung Enim. Langkah mengganti dump truck berbahan bakar fosil ini sukses menurunkan emisi sekitar 5.200 ton CO2e per tahun.

Sementara itu, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) juga melakukan konversi serupa dari HSD ke LNG pada fasilitas baking plant. Kebijakan ini menghasilkan penurunan emisi sekitar 3.700 ton CO2e sekaligus mendongkrak efisiensi energi operasional.

Perluas Pemanfaatan Energi Terbarukan

Tak hanya konversi bahan bakar, MIND ID juga memperluas pemanfaatan biomassa dan energi surya. PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) telah menerapkan metode co-firing menggunakan biomassa cangkang kelapa sawit sebagai substitusi batu bara, yang mampu menekan emisi sekitar 560 ton CO2e.

Langkah hijau ini diikuti oleh PT Timah Tbk yang mengoperasikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 kilowatt peak (kWp). Fasilitas ini mampu mengurangi emisi sekitar 300 ton CO2e sekaligus mendorong penggunaan energi bersih di kawasan industri.

Sebagai pelengkap, MIND ID juga mengembangkan skema offset karbon melalui proyek berbasis alam (nature-based solutions), pemanfaatan renewable energy certificate (REC), serta partisipasi aktif dalam perdagangan karbon.

Jadi Kunci Daya Saing Produk Mineral Global

Lebih lanjut, Binahidra menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban terhadap lingkungan. Langkah ini sudah menjadi faktor penentu daya saing produk mineral Indonesia di pasar internasional.

Saat ini, para investor, lembaga keuangan, hingga rantai pasok global semakin ketat dalam menetapkan standar keberlanjutan sebagai syarat utama akses pasar.

“Karena itu, seluruh strategi kami harus mengintegrasikan aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) ke dalam operasional perusahaan,” pungkas Binahidra.

Visited 2 times, 2 visit(s) today