Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini. (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ekonom senior Indef, Prof Didik J Rachbini memberikan catatan kritis sektor ekonomi menjelang puncak HUT ke-81 RI.
Dia menyebut, pemerintahan Prabowo Subianto mewarisi penurunan kesejahteraan golongan masyarakat yang sudah naik kelas, kemudian anjlok lagi. Karena, pertumbuhan ekonomi hanya bergerak moderat di level 5 persen saja.
Kelompok menengah tergerus tabungannya, terlihat kelompok penabung paling bawah dengan nilai Rp100 juta ke bawah, semakin banyak jumlahnya.
Pada 2019, jumlahnya 292 juta rekening dengan nilai rata-rata tabungan Rp2,9 juta per tabungan, menjadi 666 juta rekening dengan nilai rata-rata Rp2,7 juta per tabungan.
“Sementara kelompok atas, pemilik tabungan di atas Rp5 miliar meningkat jumlahnya dari 8.500 orang, menjadi 129.000 orang. Dengan rata-rata tabungan meningkat dari Rp24 miliar menjadi Rp35 miliar,” ungkapnya di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Selanjutnya, rektor Universitas Paramadina ini menyitir hasil studi LPEM FEB UI yang menyebut 8,5 juta rakyat Indonesia, turun kelas, dari kelas menengah di 10 tahun pemerintahan Jokowi.
“Ini artinya turun kelas dan semakin miskin. Kepemimpinan Jokowi lebih banyak akrobat politik ketimbang membangun strategi dan kebijakan ekonomi,” tegasnya.
Pada 2018, lanjut pria berdarah Madura ini, LPEM UI mencatat, jumlah kelas menengah sekitar 60 juta orang atau 23 persen dari total penduduk Indonesia. Namun pada 2023, turun menjadi 52 juta orang. Atau setara 18,8 persen dari populasi. “Ini pertanda bahwa kesejahteraan golongan menengah dan bawah, masih menjadi masalah besar di negeri ini,” ungkapnya.
Namun demikian, kata dia, selama Indonesia merdeka, sudah banyak capaian ekonomi yang berhasil diraih. Namun, Presiden Prabowo berdiri sebagai pemimpin yang berada dalam kondisi tidak ideal.
“Ketika kelas menengah turun, dan ketika tabungan masyarakat tergerus, maka daya tahan terhadap guncangan ekonomi, menurun. Konsumsi barang tahan lama ditunda, investasi pendidikan dan kesehatan keluarga dikurangi,” papar Didik.
Berbagai masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat, kata dia, memunculkan berbagai kecemasan. Terkait masa depan pekerjaan dan pendapatan. Dalam ekonomi, perilaku kehilangan rasa aman sering kali memengaruhi persepsi terhadap pemerintah dan kebijakan.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian, karena bisa menjadi sumber destabilisasi ekonomi dan sosial politik,” tandasnya.
Dengan dasar inilah, kata dia, Presiden Prabowo berusaha mengubah haluan kebijakan yang lebih dominan peran negara, ketimbang mengembangkan swasta dan pasar.
“Presiden Prabowo, sepanjang yang saya tahu, berkali-kali menyebut Indonesia dikuasai konglomerasi. Dan, kredit bank menjadi kasir pengusaha besar,” imbuhnya.
Ke depan, struktur ekonomi harus ditransformasikan dari struktur ekonomi segitiga yang berpucuk ke atas, menjadi struktur ekonomi belah ketupat. Di mana, porsi tengah dan kelas menengahnya diperkuat.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










