Bumi sedang melaju menuju salah satu episode iklim paling ekstrem dalam sejarah modern. Sejumlah ilmuwan memperkirakan fenomena El Nino “super” akan menerjang akhir tahun ini, menempatkan 2026 sebagai tahun terpanas kedua yang pernah tercatat — sekaligus membuka pintu bagi kemungkinan rekor baru pada 2027.
Prediksi ini tidak datang dari satu sumber tunggal. Sebagaimana dilaporkan Euronews, data suhu dari lima kelompok penelitian berbeda dan analisis lingkungan Carbon Brief sampai pada kesimpulan serupa: suhu global akan terus meningkat sepanjang tahun, didorong potensi El Nino berskala raksasa pada musim gugur.
Apa Itu El Nino “Super” dan Mengapa Berbahaya?
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan air laut di Pasifik tropis yang memengaruhi pola cuaca seluruh dunia. Ketika fenomena ini mencapai intensitas “super”, dampaknya bisa terasa di hampir setiap benua — mulai dari kekeringan parah, banjir bandang, hingga gelombang panas laut yang merusak ekosistem perikanan.
Carbon Brief menyatakan model iklim terbaru memberikan perkiraan median kenaikan suhu hingga 2,2 derajat Celcius pada September mendatang. Angka ini, jika terealisasi, akan menempatkan dunia di bawah ancaman serius El Nino “super” — kategori yang sebelumnya hanya tercatat beberapa kali dalam catatan ilmiah modern.
Pemanasan diprediksi terus meningkat setelah September, dengan puncak El Nino umumnya terjadi antara November hingga Januari. “Jika terjadi El Nino ‘super’, maka kemungkinan tahun 2027 akan jadi tahun terpanas yang pernah tercatat,” tulis Carbon Brief dalam analisisnya.
Terobosan Ilmiah: Prediksi El Nino 15 Bulan Sebelumnya
Yang membuat prediksi tahun ini berbeda dari biasanya adalah lompatan akurasi metode peramalan. Secara historis, memprediksi kekuatan El Nino di awal tahun memang sulit. Ilmuwan biasanya butuh menunggu beberapa bulan lagi sebelum berani memberi prediksi tegas mengenai fenomena besar semacam ini.
Namun para peneliti dari Hawaii University baru-baru ini menerbitkan studi terobosan di jurnal Geophysical Research Letters. Mereka mengklaim mampu memprediksi El Nino dan La Nina secara akurat hingga 15 bulan sebelumnya — lompatan signifikan dalam ilmu peramalan iklim.
Penulis utama studi, Yuxin Wang, menjelaskan kunci akurasi tersebut terletak pada dua variabel pengamatan: suhu permukaan laut global dan ketinggian permukaan laut. Perubahan tinggi permukaan laut, kata Wang, dapat mengungkap penumpukan panas tersembunyi di Pasifik tropis. Sementara anomali suhu permukaan laut — bahkan di luar Pasifik tropis — turut berkontribusi pada perkembangan El Nino atau La Nina beberapa bulan setelahnya.
“Kami menemukan bahwa alat ini dapat memprediksi El Nino dan La Nina dengan sangat baik, dengan akurasi yang berguna hingga sekitar 15 bulan ke depan,” ujar Wang.
Pasifik Timur: Lebih Panas 2 Derajat dari Normal
Hasil model prediksi terbaru menunjukkan sinyal yang mengkhawatirkan. Wilayah Pasifik timur Khatulistiwa diperkirakan akan menghangat lebih dari 2 derajat Celcius di atas suhu normal menjelang akhir tahun ini — tanda klasik perkembangan El Nino kategori kuat.
Angka 2 derajat Celcius mungkin terdengar kecil, tapi dalam skala iklim global, deviasi sebesar itu cukup untuk mengubah pola hujan, jalur badai, dan suhu permukaan di belahan dunia yang jauh dari Pasifik.
Dampak Berantai: Dari Panen hingga Kesehatan Publik
Konsekuensi El Nino “super” tidak akan berhenti pada angka termometer. Sejarah mencatat fenomena serupa pernah memicu gagal panen massal di Asia Tenggara dan Afrika, gelombang kebakaran hutan di Australia, banjir besar di Amerika Selatan, hingga lonjakan kasus penyakit yang ditularkan melalui air.
Bagi Indonesia, ancaman ini perlu dicermati serius. Kementerian Kesehatan sebelumnya telah mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap fenomena El Nino, terutama bagi anak-anak yang rentan terhadap dampak suhu ekstrem. BMKG juga telah memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih panjang dari biasanya, dengan ketersediaan air sebagai isu yang patut diperhatikan.
Sinyal yang Tak Bisa Diabaikan
Akumulasi temuan ini membentuk gambaran yang sulit diabaikan: dunia memasuki fase iklim baru yang lebih ekstrem dan lebih sulit diprediksi. Yang membedakan situasi sekarang dari dekade-dekade sebelumnya bukan hanya intensitasnya, melainkan juga kemampuan ilmuwan mendeteksinya jauh lebih awal.
Pertanyaan yang tersisa kini bukan lagi “apakah akan terjadi”, melainkan “seberapa siap dunia menghadapinya.” Bagi pemerintah, sektor pertanian, dan masyarakat luas, 15 bulan ke depan akan menjadi periode persiapan yang menentukan.













