Garuda Indonesia dianggap perlu mencari rute yang menguntungkan, sekaligus perketat efisiensi. (Foto: Dok. Garuda Indonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah rapor merah yang mencatatkan lonjakan kerugian hingga 4,5 kali lipat sepanjang 2025, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dituntut untuk merombak total strategi bisnisnya. Fokus pada pencarian rute-rute yang menguntungkan (profitable) dan pengetatan efisiensi operasional menjadi harga mati agar maskapai pelat merah ini tidak terus ‘bocor’ secara finansial.
Pengamat penerbangan, Gatot Rahardjo, menekankan bahwa meskipun Garuda telah menerima suntikan dana segar senilai Rp23,7 triliun dari Danantara, penambahan pesawat saja bukan jaminan pemulihan. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana manajemen mengelola utilisasi armada pasca-perawatan.
“Manajemen harus tetap mencari rute-rute yang menguntungkan. Jangan sampai penambahan pesawat dan frekuensi penerbangan justru membuat pendapatan turun karena load factor-nya rendah,” tegas Gatot kepada Inilah.com di Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Waspada Lonjakan Harga Avtur April
Selain persoalan rute, efisiensi operasional menjadi krusial mengingat tekanan eksternal dari harga bahan bakar yang tidak menentu. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah menyeret harga avtur internasional ke level yang mengkhawatirkan.
Gatot mengingatkan Garuda untuk tidak terlena dengan ‘diskon’ avtur domestik selama periode Lebaran. Pasalnya, pergerakan harga bahan bakar per 1 April mendatang diprediksi akan melambung tinggi mengikuti tren global.
“Perlu kewaspadaan tinggi. Efisiensi operasional tidak bisa ditawar lagi untuk menghadapi kenaikan harga avtur yang kemungkinan melambung pasca-Maret ini,” tambahnya.
Ujian Likuiditas di Balik Rapor Merah
Kebutuhan akan strategi rute yang matang ini dipicu oleh kinerja keuangan GIAA tahun buku 2025 yang babak belur. Beberapa poin kritis yang menjadi sorotan antara lain:
- Kerugian Bersih: Membengkak menjadi US$322,4 juta (naik 4,5 kali lipat).
- Pendapatan Tergerus: Turun 5,85 persen secara tahunan menjadi US$3,21 miliar.
- Beban Keuangan: Meningkat 9,56 persen menjadi US$525,7 juta.
Strategi Pasca-Suntikan Danantara
Dengan kepemilikan saham pemerintah mencapai 91,11 persen melalui Danantara, Garuda kini memiliki modal untuk menyelesaikan masalah armada yang sempat grounded.
Namun, Gatot mengingatkan bahwa rute penugasan negara (konektivitas) harus dipisahkan secara jernih dari rute komersial agar beban perusahaan tetap terukur.
Di pasar modal, saham GIAA sendiri masih berada dalam tren koreksi dengan penurunan lebih dari 28 persen secara year-to-date (YTD).
Publik kini menunggu keberanian manajemen untuk memangkas rute-rute ‘gemuk’ yang tidak produktif dan menggantinya dengan strategi terbang yang lebih menghasilkan cuan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












