Puluhan juta warga di kawasan Eropa bagian timur kini terancam terjangan suhu panas ekstrem. Ancaman ini menyusul pergerakan gelombang panas atau heatwave yang mulai bergeser dari wilayah barat menuju timur.
Meski wilayah Eropa barat diprediksi mengalami sedikit penurunan suhu pada Minggu (28/6/2026), para peramal cuaca di Jerman memperingatkan bahwa rekor suhu tertinggi masih berpotensi pecah sepanjang akhir pekan.
Lonjakan angka kematian serta laporan tumbangnya layanan kesehatan di Eropa barat memicu alarm bahaya bagi negara-negara Eropa timur. Peringatan siaga pun langsung dikeluarkan untuk mengantisipasi situasi beberapa hari ke depan.
Berdasarkan analisis AFP, hampir 200 juta orang harus bertahan di bawah panggangan suhu di atas 35 derajat Celsius pada Sabtu (27/6/2026). Gelombang panas dahsyat ini sebelumnya telah memecahkan rekor suhu tertinggi di Inggris, Prancis, dan Swiss.
Korban Jiwa Berjatuhan dan RS Kewalahan
Dampak mematikan dari cuaca ekstrem ini mulai terlihat nyata. Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengungkapkan negaranya mencatat lonjakan angka kematian yang tidak biasa akibat gelombang panas yang melanda kawasan tersebut.
“Kami melihat indikator bahwa angka kematian kemungkinan besar akan lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu,” ujar Rist kepada surat kabar La Tribune.
Kondisi serupa terjadi di Spanyol. Otoritas setempat melaporkan gelombang panas ini berkaitan erat dengan kematian 212 orang hanya dalam waktu empat hari.
Tak hanya itu, fasilitas medis di kota-kota besar Eropa mulai kewalahan. Rumah sakit di Paris melaporkan kunjungan ke ruang gawat darurat melonjak hingga 36 persen pada Jumat dan Sabtu (26-27 Juni 2026). Sementara di Wina, layanan gawat darurat menjadi 15 persen lebih sibuk hingga memaksa pihak manajemen menambah jumlah staf medis.
Kondisi darurat ini juga memaksa pembatalan sejumlah pesta jalanan dan festival musik di Prancis, Jerman, dan Belanda. Kendati demikian, parade Pride March di Budapest tetap digelar di tengah bayang-bayang peringatan panas ekstrem.
Rekor Suhu Tertinggi Sepanjang Sejarah
Layanan Cuaca Jerman (DWD) telah merilis peringatan merah untuk sebagian besar wilayah negaranya. Pada Sabtu sore, Jerman mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang masa mencapai 41,5 derajat Celsius di wilayah timur.
“Tidak tertutup kemungkinan suhu bisa mendekati 42 derajat Celsius,” tulis pernyataan resmi DWD, yang mengindikasikan rekor baru bisa kembali tercipta hanya berselang sehari.
Lompatan suhu ekstrem juga terjadi di Denmark. Layanan cuaca setempat melaporkan suhu sempat menyentuh angka 37 derajat Celsius di dua lokasi dekat Aarhus, memecahkan rekor tertinggi negara tersebut meski hanya bertahan selama satu jam.
Setali tiga uang, Republik Ceko ikut mencatatkan rekor baru dengan suhu mencapai 40,8 derajat Celsius di utara Praha. Namun, puncak panas di negara tersebut diprediksi baru terjadi pada Minggu dengan suhu mendekati atau bahkan melampaui 41 derajat Celsius.
Sementara di Swiss, rekor hari terpanas pada bulan Juni pecah selama tiga hari berturut-turut setelah kota Basel di bagian utara mencatatkan suhu 39 derajat Celsius.
Dampak Nyata Pemanasan Global dan Ancaman Kubah Panas
Para ilmuwan menegaskan bahwa gelombang panas yang berulang ini merupakan bukti nyata dari pemanasan global akibat aktivitas manusia yang membakar bahan bakar fosil. Fenomena ini diprediksi akan terjadi lebih sering, lebih lama, dan dengan intensitas yang jauh lebih kuat.
Para ahli menjelaskan, cuaca ekstrem ini dipicu oleh fenomena “kubah panas” (heat dome), yakni udara panas yang terperangkap dari Afrika Utara. Meskipun fenomena ini bukan yang pertama kali terjadi, suhu yang dihasilkan kali ini adalah yang terpanas dalam sejarah.
Kini, ancaman nyata bergeser ke timur. Rumania menjadi negara terbaru yang mengeluarkan peringatan merah. Seluruh wilayah negara tersebut diprediksi akan menghadapi panas ekstrem mulai Senin hingga Rabu depan.
Langkah serupa juga diambil oleh Slovakia. Sementara itu, Republik Ceko, Hongaria, Moldova, serta negara-negara di kawasan Balkan kini berada dalam status siaga tertinggi menghadapi ancaman mematikan ini.














