Harga Pangan Jinak, Indonesia Alami Deflasi 0,15 Persen di Awal Tahun 2026

Harga Pangan Jinak, Indonesia Alami Deflasi 0,15 Persen di Awal Tahun 2026

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 2 Februari 2026 – 21:46 WIB

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin (2/2/2026). (Foto: Antara/A. Muzdaffar Fauzan)

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin (2/2/2026). (Foto: Antara/A. Muzdaffar Fauzan)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kabar gembira datang dari meja makan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Januari 2026. Turunnya harga pangan menjadi aktor utama di balik merosotnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,92 pada pengujung 2025 menjadi 109,75.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi cukup dalam, yakni 1,03 persen, dengan andil terhadap deflasi total mencapai 0,30 persen.

“Komoditas pangan menyumbangkan andil deflasi bulanan terbesar pada Januari 2026,” ujar Ateng di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Berkah Panen Raya Hortikultura 

Jinakinya harga bahan pokok ini bukan tanpa sebab. Melimpahnya pasokan akibat masa panen di awal tahun menjadi pemicu utama. Cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,16 persen, disusul cabai rawit (0,08 persen), bawang merah (0,07 persen), dan daging ayam ras (0,05 persen).

Secara khusus, Ateng menyoroti komoditas bawang merah yang produksinya melonjak tajam. 

“Peningkatan ini didukung oleh panen raya di hampir seluruh sentra, terutama Brebes dan kawasan dataran tinggi,” jelasnya.

BBM dan Tiket Pesawat Ikut Melandai 

Tak hanya urusan perut, ongkos transportasi juga ikut menyusut. Penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax per 1 Januari lalu memberikan andil deflasi 0,03 persen. 

Senada, tarif angkutan udara juga deflasi 0,03 persen berkat kebijakan stimulus diskon tiket pesawat 13-14 persen yang diguyur pemerintah hingga 10 Januari lalu.

Emas dan Ikan Segar Masih ‘Pedas’

Kendati demikian, tren penurunan harga ini belum merata ke semua sektor. Kelompok harga inti justru mengalami inflasi 0,37 persen. Emas perhiasan masih menjadi primadona inflasi dengan andil 0,16 persen, diikuti ikan segar (0,06 persen), dan tomat (0,02 persen).

“Hanya komponen inti yang mengalami inflasi. Sementara komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) dan harga bergejolak (volatile food) kompak mengalami deflasi,” tukas Ateng.

Selain emas, kenaikan harga sewa rumah, sepeda motor, serta nasi dengan lauk pauknya menjadi catatan yang perlu diwaspadai sebagai pendorong inflasi di sela-sela tren deflasi awal tahun ini.

Visited 9 times, 1 visit(s) today