Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyayangkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax sebesar 32 persen menjadi Rp16.250 per liter.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai, kenaikan harga Pertamax bisa jadi tidak terlalu terasa jika dilakukan secara bertahap, bukan langsung melonjak hingga 32 persen.
Akibatnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang signifikan ini berdampak pada harga barang. Celakanya lagi, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi (shock) yang cukup besar bagi masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah.
“Mungkin karena ditunda terus, sehingga kenaikan harganya cukup besar. Seandainya dilakukan pengkondisian sejak awal, dinaikkan pelan-pelan, mungkin bisa lebih baik hasilnya. Tidak menimbulkan shock yang terlalu besar,” kata Faisal di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, sebagai produk BBM nonsubsidi, harga Pertamax sejatinya bersifat fluktuatif mengikuti pergerakan harga minyak mentah internasional atau Indonesia Crude Price (ICP). Meski ICP sudah merangkak naik sejak beberapa bulan lalu, Pertamina baru memutuskan mengerek harga Pertamax saat ini.
Menurutnya, keterlambatan respons ini tidak lepas dari status Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Berbeda dengan badan usaha swasta yang bergerak murni berdasarkan pertimbangan komersial, Pertamina juga memikul tanggung jawab pelayanan publik atau public service obligation (PSO).
“BUMN itu perlu melihat bagaimana menjalankan fungsi PSO-nya. Nah, sementara Pertamax ini adalah BBM nonsubsidi yang makin lama penggunaannya makin besar, proporsinya terhadap total konsumsi BBM juga makin besar,” papar dia.
Ia memprediksi porsi konsumsi Pertamax saat ini kemungkinan sudah melebihi 30 persen, bahkan mendekati 40 persen. Karena itu, kenaikan harga Pertamax sebenarnya sudah dapat diprediksi dan hanya tinggal menunggu waktu.
Namun, ia menyayangkan besarnya lompatan harga yang terjadi akibat penundaan penyesuaian tersebut. Kenaikan yang terjadi secara mendadak dan dalam skala besar ini dipastikan akan memukul daya beli konsumen serta memberi tekanan langsung terhadap inflasi nasional.
Faisal menambahkan, dampak lain dari lonjakan harga yang terlampau tinggi adalah meningkatnya potensi pelaku ekonomi atau konsumen untuk beralih ke jenis BBM yang lebih murah seperti Pertalite.
Namun, Faisal mengingatkan bahwa proses migrasi konsumsi ke Pertalite tidak akan berjalan mudah. Sebab, pemerintah dan Pertamina telah memperketat pengawasan penyaluran BBM bersubsidi demi menjaga kuota dan beban APBN.
“Jadi peralihan konsumen dari Pertamax ke kelas di bawahnya itu juga tidak begitu mudah dilakukan saat ini karena ada kontrol penggunaan, kuota, dan pembatasan suplai untuk Pertalite maupun Solar,” pungkasnya.
Diketahui, harga BBM Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Berikut harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026:
1. Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter
2. Pertamax Green 95 (RON 95): Rp17.000 per liter
3. Pertamax Turbo: Rp20.750 per liter
4. Dexlite: Rp23.000 per liter
5. Pertamina Dex: Rp24.800 per liter
6. Solar Subsidi: Rp6.800 per liter
7. Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter











