Pedagang kopi keliling mengayuh sepedanya saat menjajakan minuman kopi di Kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (31/5/2023). (Foto: Inilah.com/Didik Setiawan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Lonjakan harga plastik hingga 50 persen sejak awal April 2026 mulai mencekik pedagang kopi keliling di kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat. Selasa (7/4/2026), para pedagang mengeluhkan keuntungan yang kian menipis akibat mahalnya harga gelas plastik, sedotan, hingga kantong kresek.
Meski biaya operasional membengkak, para pedagang memilih bertahan dengan harga lama karena takut kehilangan pembeli. Saat ini, segelas kopi panas tetap dibanderol Rp5.000, sementara kopi es dijual Rp8.000.
Erna, salah satu pedagang kopi keliling, mengaku pasrah dengan kondisi ini demi menjaga loyalitas pelanggan.
“Saya tidak menaikkan harga walaupun harga plastik naik sekitar 50 persen. Keuntungan memang jadi sedikit, tetapi demi menjaga pelanggan saya tetap bertahan,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Siti. Baginya, menaikkan harga jual di tengah persaingan yang ketat bukanlah pilihan bijak, meski ia harus rela membawa pulang uang lebih sedikit.
“Saya masih jual Rp5.000 untuk kopi biasa dan Rp8.000 untuk kopi pakai es. Tidak berani naikkan harga, takut pelanggan kabur. Mau tidak mau keuntungan jadi tipis, yang penting masih bisa berputar, alhamdulillah,” katanya.
Para pedagang menengarai kenaikan harga ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku plastik global akibat konflik di Timur Tengah. Kini, mereka hanya bisa berharap harga kembali stabil agar usaha kecil mereka tetap bisa bernapas di tengah ketatnya persaingan pasar.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














