Jika Suhu Bumi Terus Naik, Indonesia Bisa Kehilangan Ribuan Pulau pada Akhir Abad Ini

Jika Suhu Bumi Terus Naik, Indonesia Bisa Kehilangan Ribuan Pulau pada Akhir Abad Ini

Komisaris Utama Telkomsel sekaligus Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz F. M. Hendropriyono mengingatkan dampak serius perubahan iklim terhadap Indonesia. Salah satunya adalah ancaman tenggelamnya ribuan pulau akibat kenaikan suhu bumi dan permukaan air laut.

Hal itu disampaikan Diaz dalam acara “Telkomsel Impact in 2025: Empowering Future Generations” di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).

Menurut Diaz, berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan Intergovernmental Panel on Climate Change, suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,4 hingga 1,6 derajat Celsius dibandingkan periode awal abad ke-20.

“Dan dilihat bahwa ada peningkatan sebanyak 1,4 sampai 1,6ºC. Jadi kenaikan seluruh bumi itu sudah sangat parah. Kalau sampai menyentuh angka 2ºC, ini merupakan kekhawatiran yang sangat luar biasa,” ujar Diaz.

Ia menjelaskan dunia saat ini masih berupaya menahan kenaikan suhu global agar tidak melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius secara konsisten. Jika batas tersebut terlampaui, berbagai dampak lingkungan diperkirakan akan semakin sulit dikendalikan, termasuk kenaikan permukaan air laut.

Mengutip sejumlah studi, termasuk penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Diaz menyebut permukaan laut di Indonesia diperkirakan naik sekitar 56 sentimeter pada 2050.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak besar bagi wilayah kepulauan Indonesia. Berdasarkan kajian yang ia sebutkan, sekitar 1.500 pulau berisiko tenggelam apabila tren kenaikan muka laut terus berlanjut.

“Ketika naik 56 cm dampaknya apa kepada Indonesia? Ada lembaga lain dari Inggris bilang 1.500 pulau akan tenggelam,” katanya.

Ancaman itu diperkirakan semakin besar menjelang akhir abad ini. Menurut Diaz, sejumlah studi memperkirakan permukaan laut dapat meningkat hingga 90 sentimeter pada tahun 2100.

Ia menambahkan BRIN juga memperkirakan sedikitnya 115 pulau berukuran lebih besar berpotensi tenggelam apabila skenario tersebut terjadi.

Menurut Diaz, masyarakat perlu memahami bahwa emisi gas rumah kaca tidak hanya menyebabkan peningkatan suhu udara, tetapi juga memicu berbagai dampak lanjutan yang mengancam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

“Dan kenaikan permukaan laut ini pemanasan global sudah sangat terjadi dan dampaknya di Indonesia pun juga sangat, sangat terlihat dan terasa,” tegasnya.

Sebagai contoh, Diaz menyoroti suhu ekstrem yang pernah terjadi di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, yang mencapai 38,4 derajat Celsius pada Oktober 2023. Suhu tersebut disebut sebagai salah satu yang tertinggi yang pernah tercatat di wilayah tersebut.

Ia juga mengutip peringatan dari World Meteorological Organization yang memproyeksikan kemungkinan terjadinya suhu yang lebih panas dalam beberapa tahun mendatang.

Selain itu, Diaz menyoroti mencairnya es abadi di kawasan Puncak Jaya atau Gunung Jaya Wijaya di Papua sebagai salah satu bukti nyata dampak perubahan iklim.

Menurutnya, ketebalan es di kawasan tersebut menyusut drastis dari sekitar 32 meter pada 2010 menjadi hanya sekitar 4 meter dua tahun lalu.

“Tahun 2010 yang lalu ketebalannya bisa sampai 32 meter. Dua tahun yang lalu tinggal 4 meter, mungkin very soon sudah enggak ada es lagi,” ujarnya.

Diaz menegaskan pemerintah terus mendorong berbagai upaya penurunan emisi karbon sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan di Indonesia.

Visited 2 times, 1 visit(s) today