Kafe 24 Jam Jadi Ruang Publik Darurat di Kota yang tak Ramah Warga

Kafe 24 Jam Jadi Ruang Publik Darurat di Kota yang tak Ramah Warga

Vonita Medium.jpeg

Minggu, 11 Januari 2026 – 23:27 WIB

Suasana kafe 24 jam di salah satu sudut Kota Jakarta, saat tengah malam. (Foto: Inilah.com/Vonita)

Suasana kafe 24 jam di salah satu sudut Kota Jakarta, saat tengah malam. (Foto: Inilah.com/Vonita)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kota sudah tidur. Lampu toko satu per satu padam, trotoar kosong bak halaman buku yang tak sempat ditulis. Di antara gedung perkantoran yang dingin, ada kafe kecil yang lampunya menolak padam. Meja-meja penuh gelas kopi bekas, colokan listrik dikuasai charger, dan musik pelan jadi latar buat mereka yang belum selesai dengan harinya.

Buat sebagian orang, ini semacam rumah cadangan. Tempat berteduh ketika ruang publik sudah menggembok pintu. Raka (24), penulis lepas, mengaku hampir tiap malam bertengger di kafe. Laptop di hadapannya lebih sering hidup daripada kasur di rumah.

“Kalau mau kerja malam, ya di sini. Tempat lain tutup semua,” kata Raka, sambil menyingkirkan rambut dari keningnya.

Bukan gaya hidup hipster, apalagi cari suasana. Ia hanya butuh tempat aman, terang, dan tidak mengusirnya pada jam sembilan atau sepuluh malam.

“Ya mau enggak mau akan nyari kafe. Kalau ruang publik kayak perpus gitu bukannya engga ada yang sampe dini hari, paling jam 10 (malam) tutup,” ujarnya.

Begitulah kota bekerja. Ketika malam turun, ruang publik ikut menghilang. Taman dikunci, perpustakaan mematikan lampu, tempat yang seharusnya untuk semua mendadak kehilangan fungsinya menyediakan ruang.

Kafe akhirnya jadi penambal keadaan, menampung yang masih terjaga, entah itu pekerja lepas, mahasiswa, atau orang-orang yang cuma ingin merasa aman sendirian di luar rumah. Tempat pertemuan, kantor darurat, sekaligus ruang hening buat menenangkan kepala. Tapi, tidak ada yang gratis.

“Ya kalau kerja dari kafe kan otomatis harus beli kopi. Enggak enak juga kalau belinya satu tapi duduknya berjam-jam, jadi beli makan. Mentok abis Rp50 ribu lah sekali ke sini,” tutur Raka.

Selain tak gratis, ketenangan juga tidak sepenuhnya didapat.  Di satu meja, seseorang balapan dengan deadline. Di meja lain, rombongan teman membicarakan hidupnya dengan volume yang susah diatur. Satu ruangan, dua kebutuhan.

Selama taman tak dibuka lebih lama, selama perpustakaan tak berani buka 24 jam, selama kota buru-buru menutup akses begitu jam operasional selesai, kafe akan terus menampung mereka. Raka dan mereka yang lain akan terus datang, mengetik, menunggu pagi, sambil menghabiskan uang yang seharusnya bisa ditabung.
 

Visited 3 times, 1 visit(s) today