Kaum ‘Mager’ Hati-hati, Diabetes tak Lagi Menunggu Usia

Kaum ‘Mager’ Hati-hati, Diabetes tak Lagi Menunggu Usia

Diana Medium.jpeg

Minggu, 4 Januari 2026 – 22:30 WIB

Ilustrasi anak dengan diabetes. (Dokumentasi: Istockphoto)

Ilustrasi anak dengan diabetes. (Dokumentasi: Istockphoto)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Setiap malam, Lilla Syifa selalu menyiapkan air minum di sisi tempat tidurnya. Bukan satu botol, tapi beberapa. Rasa haus datang berulang, seolah tak pernah benar-benar pergi.

Ia mengira tubuhnya hanya kelelahan. Begadang, kerja konten, makan manis, lalu mengulanginya lagi keesokan hari. Tak pernah terlintas di kepalanya bahwa tubuhnya sedang memberi peringatan serius.

Di usia 29 tahun, Lilla si content creator asal Surabaya didagnosis diabetes tipe 1,5 atau Latent Autoimmune Diabetes in Adults (LADA). Saat dokter menyebut angkanya, gula darahnya sudah melonjak ke 356 mg/dL.

Kondisinya jatuh cepat. Ia dilarikan ke ICU, tak sadarkan diri selama 12 hari. Di titik itu, diabetes tak lagi terdengar seperti penyakit orang tua.

Belakangan, penyebabnya mengarah pada kebiasaan sehari-hari. Dessert hampir selalu hadir di setiap waktu makan. Aktivitas fisik nyaris tak ada. Tidur kerap dikorbankan.

“Karena aku sama sekali enggak punya keturunan diabetes dari keluarga, jadi memang murni dari lifestyle. Sering banget makan dessert, tiga kali sehari bisa kali ya,” ungkap Syifa.

Cerita serupa datang dari rumah lain, dengan usia yang jauh lebih muda. Nabila baru 14 tahun ketika tubuhnya mulai melemah. Haus tak tertahankan, lemas seperti kehabisan tenaga.

Orang tuanya mengira dehidrasi biasa. Hingga suatu hari, ia harus dilarikan ke rumah sakit. Hasil tes laboratorium menjawab semuanya. Diabetes, tanpa satu pun riwayat keluarga.

“Kami enggak tahu awalnya, dia cuma ngeluh haus terus padahal sudah minum. Terus lemas gitu kayak dehidrasi. Pas dibawa ke rumah sakit, terus dites segala macam baru ketahuan dia diagnosis diabetes. Padahal (keluarga) enggak ada riwayat,” jelas ibunda Nabila, Sofi kepada Inilah.com saat dihubungi.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Pengamat Kesehatan Hermawan Saputra menyebut lonjakan diabetes usia muda didorong dua faktor. Genetika dan perubahan gaya hidup.

“Faktor dan kontribusi terbesar itu lebih pada gaya hidup. Gaya hidup ini ada dua, pertama yang sifatnya konsumtif yang sudah polanya bergeser, karena kecenderungan anak dan remaja kita pola konsumsi makanannya, pada makanan-makanan yang cepat saji dan makanan-makanan yang sudah mengandung banyak sekali unsur gula dan pemanis,” jelas Hermawan kepada Inilah.com saat dihubungi.

Masalahnya, kata Hermawan, bukan hanya soal apa yang dimakan, tapi juga apa yang tak lagi dilakukan. Ia menyebutnya sebagai sedentary lifestyle, gaya hidup mager yang pelan-pelan menjadi ancaman besar.

“Sedentary lifestyle ini adalah gaya ‘mager’ (alias) malas gerak, di mana dengan teknologi semua orang termanjakan, terlena. Anak dan remaja kita ini biasanya di dalam rumah kalau pesan makanan, tinggal (pesan secara daring melalui aplikasi,” kata dia.

Aktivitas fisik menyusut. Konsumsi gula meningkat. Kombinasi itu menjadi pintu masuk penyakit kronis di usia yang seharusnya paling produktif. Diabetes, kata Hermawan, kerap dijuluki The Mother of All Disease. Ia jarang datang sendirian.

“Maka itu harus sedini mungkin dicegah, bahkan dikontrol kalau memang sudah punya riwayat dari para orang tua sebelumnya,” pungkasnya.

Visited 3 times, 1 visit(s) today