Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal. (Foto: Dok. Antara/ Muhammad Heriyanto)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat mulai mengancam stabilitas ekonomi banyak negara. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menyebut pertumbuhan ekonomi global berisiko terkoreksi lebih dalam jika tensi ini terus berlanjut.
Menurut Faisal, konflik tersebut memicu inflasi dan mengganggu arus perdagangan dunia. Harga barang-barang diprediksi akan semakin mahal seiring terganggunya rantai pasok.
“Karena kondisi perang ini meningkatkan inflasi global dan mengganggu rantai pasok dan juga berarti mengganggu sistem perdagangan sehingga volume perdagangan terganggu kemudian harga barang-barang yang diperdagangkan itu juga jadi lebih mahal dan juga mengganggu iklim investasi dari sisi stabilitas keamanannya,” ucap Faisal, Minggu (12/4/2026).
Kenaikan harga barang ini berdampak langsung pada daya beli dan konsumsi masyarakat. Ketika permintaan menurun, produsen akan membatasi kapasitas produksi, yang pada akhirnya menekan angka pertumbuhan ekonomi nasional.
“Walau kalau dari CORE sendiri tahun ini kita masih memprediksikan di 4,9-5,1 persen pertumbuhan ekonominya. (Apabila eskalasi geopolitik berlanjut) kemungkinan (pertumbuhan ekonomi) akan berada di batas bawah 4,9 persen di bawah lima persen bahkan kalau lebih panjang lagi ini bisa jatuh di bawah 4,9 persen,” ungkap Faisal.
Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7 persen, dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen.
Meski demikian, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menilai Indonesia memiliki daya tahan yang relatif lebih baik karena rendahnya ketergantungan pada impor minyak dibandingkan negara tetangga.
“Kami menilai Indonesia relatif tangguh karena ketergantungan terhadap impor minyak, misalnya, lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Mattoo, Kamis (9/4/2026).
Data menunjukkan impor bersih migas Indonesia pada 2024 hanya sekitar satu persen dari PDB. Angka ini jauh lebih rendah dibanding Thailand yang mencapai tujuh persen, Filipina tiga persen, dan Vietnam dua persen.
Namun, Indonesia tidak bisa sepenuhnya lepas dari guncangan. Kenaikan harga minyak dunia tetap akan menambah beban fiskal pemerintah melalui subsidi dan kompensasi energi. Selain itu, lonjakan harga pupuk dan semikonduktor berpotensi mendorong inflasi pada sektor pangan dan industri manufaktur dalam negeri.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














