Pegiat fotografi, traveler, dan fotografer jalanan, Dina Kartika Gumanty, yang menjadi penggagas pameran foto bertajuk “Pasar Santa Saat Ini!” (Foto: Inilah.com/Wahyu Praditya)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Lorong-lorong di Pasar Santa, Jakarta Selatan, siang itu tak lagi sekadar jalur sempit penghubung kios. Ada sesuatu yang berbeda, membuat langkah kaki para pengunjung melambat dan pandangan bertahan lebih lama. Di antara pintu-pintu rolling door yang biasanya terkunci rapi, tergantung potongan-potongan cerita kehidupan yang selama ini mungkin kerap luput dari perhatian.
Sabtu (25/7/2026), pasar rakyat yang ikonik itu menjelma menjadi ruang tafsir visual. Bertajuk “Pasar Santa Saat Ini!”, sebanyak 30 karya fotografi dipajang rapi di sepanjang koridor lantai satu. Tanpa sekat antara karya dan lingkungannya, foto-foto para pedagang, pembeli, hingga sudut-sudut unik pasar hadir tepat di tempat kisah itu berawal.
Seorang pengunjung tampak terpaku di depan sebuah kios, menatap lekat gambar yang merekam aktivitas harian yang boleh jadi baru saja terjadi di titik yang sama. Realitas dan hasil rekam gambar seolah saling bercermin.
Menyatu Tanpa Sekat di Dinding Galeri
Gagasan pameran yang membumi ini berangkat dari pengamatan Dina Kartika Gumanty. Pegiat fotografi, traveler, dan fotografer jalanan itu mencermati bagaimana pengunjung Pasar Santa sering kali terpikat pada detail-detail kecil: warna-warni kios, susunan barang dagangan yang artistik, hingga interaksi spontan antarmanusia.
Dari sana muncul ide menghadirkan pameran yang tak berjarak dengan keseharian. “Vibes-nya asyik,” ujarnya. Koridor pasar pun dipilih menjadi ruang pamer, menggantikan galeri berdinding putih yang acap kali terasa steril dan formal.
Keputusan tersebut berhasil mengubah cara orang menikmati karya seni. Pengunjung tak sekadar datang untuk melihat, melainkan turut mengalami atmosfernya. Mereka berjalan perlahan, berhenti, mengamati, lalu kembali melangkah.
Tanpa disadari, langkah-langkah itu kerap terhenti di depan kios yang tengah beroperasi. Sebagian pengunjung lantas memesan secangkir kopi, menyisir rak piringan hitam, atau sekadar berbincang santai dengan pedagang. Di titik inilah seni dan denyut ekonomi warga bertemu dalam satu ritme yang harmonis.
Hawa siang yang terik dan sedikit pengap tak sedikit pun menyurutkan antusiasme. Keringat yang mengucur justru menguatkan fakta bahwa pasar ini tetap hidup dan terus berdenyut.
Tempat Tradisi Bertemu Subkultur Urban
Dari sekitar 80 karya yang masuk ke meja panitia, kurator memilih 30 foto terbaik untuk dipajang. Kurator Muhammad Adimaja memandang pameran ini sebagai ikhtiar merekam dinamika modernisasi pasar. Bukan dalam bingkai menggusur yang lama, melainkan mengolahnya menjadi sebuah kebaruan.
Dalam pandangannya, Pasar Santa adalah ruang adaptasi yang inklusif, tempat tradisi berbaur dengan subkultur urban tanpa kehilangan marwahnya sebagai pusat ekonomi rakyat.
Gayung pun bersambut dari pihak pengelola. Kepala Pasar Santa, Shifa Ramadhania, menilai pameran ini membuka perspektif baru tentang bagaimana sebuah pasar rakyat dapat dimaknai. Pasar tak lagi melulu soal transaksi jual-beli, tetapi juga wadah kreatif yang fleksibel untuk terus berkembang.
Menariknya, seluruh konsep dan eksekusi pameran ini murni lahir dari inisiatif komunitas fotografi, sementara pengelola pasar memfasilitasi ruangnya.
Lebih dari Sekadar Tempat Berbelanja
Menjelang sore, lorong-lorong pameran perlahan kembali ke ritme sediakala. Lalu lalang orang, transaksi dagang, dan riuh suara tawar-menawar kembali memenuhi udara. Namun ada jejak cerita yang kini tertinggal dan makin benderang untuk disaksikan.
Pameran sederhana ini seolah menyentil kesadaran bersama, bahwa di balik hiruk-pikuk dan kesibukan pasar, tersimpan bertumpuk kisah humanis yang teramat berharga untuk diabadikan.
Hari itu, Pasar Santa tak cuma menjadi tempat orang berburu barang belanjaan. Ia telah bertransformasi menjadi ruang untuk berhenti sejenak, menatap lebih dalam, dan menyadari bahwa riak kehidupan sehari-hari sejatinya adalah sebuah karya seni yang utuh.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














