Wakil Ketua Komisi IX, Yahya Zaini angkat bicara soal kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang heboh di media sosial (medsos).
Dia menyebut, Komisi IX DPR akan segera membahas informasi tersebut dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). “Nanti kalau rapat dengan Kemnaker akan kita bahas. Sebagai pimpinan Komisi IX, saya merasa prihatin atas kasus PHK di Pabrik Rokok Gudang Garam tersebut,” ujar Yahya kepada Inilah.com, Jakarta, Minggu (7/9/2025).
Lebih lanjut, Yahya meminta pemerintah bertanggung jawab atas insiden tersebut. Dia pun menyebut PHK terjadi imbas kebijakan pemerintah yang terlampaui ketat terhadap industri rokok.
“Saya meminta pemerintah bertanggung jawab mengatasi masalah tersebut. PKH tersebut terjadi akibat kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap rokok,” jelas dia.
Muncul kabar tak sedap, GGRM bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Informasi ini bergulir cepat lewat media sosial (medsos). Bikin heboh. Apalagi pekerja GGRM mencapai lebih dari 30 ribu orang.
Sejatinya, kinerja perusahaan sudah mulai terlihat menurun sejak 2024. Kala itu, laba perusahaan anjlok terlalu dalam. Bahkan boleh dibilang terjun bebas. Cuan GGRM merosot 81,57 persen, dari Rp5,32 triliun pada 2023, tersisa menjadi Rp980,8 miliar.
Tekanan ini berlanjut ke semester I-2025, di mana GGRM membukukan pendapatan Rp44,36 triliun, berdasarkan laporan keuangan perusahaan. Capaian pendapatan sebesar itu, turun 11,30 persen secara tahunan (year on year/yoy, pada paruh pertama 2024, pendapatan Gudang Garam mencapai Rp50,01 triliun.
Sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, sebesar Rp117,16 miliar. Anggaplah semester kedua sama, maka total laba GGRM hanya sekitar Rp234 miliar. Makin turun ketimbang 2024 yang mencapai Rp980,8 miliar.
Atas sempoyongannya kinerja perusahaan, berdampak kepada harga saham GGRM yang makin hari makin babak belur. Saat masa jaya, saham GGRM dibanderol Rp83.650 untuk selembarnya. Kini turun10 kali lipat menjadi sekitar Rp8.800 per lembar. Pada 8 April 2025, saham GGRM sempat menyentuh titik terendah sepanjang tahun, yakni Rp8.675 per lembar.
Saat ini, mayoritas saham GGRM dikuasai keluarga Wonowidjojo melalui perusahaan induk PT Suryaduta Investama. Porsi saham yang dikempit mencapai 69,29 persen. Di mana, konglomerat Susilo Wonowidjojo, generasi kedua dari Surya Wonowidjojo adalah penguasanya. Selain itu, Susilo memiliki saham langsung sebesar 0,09 persen.
Sedangkan, Juni Setiawati Wonowidjojo atau adik dari Susilo, menggenggam 0,58 persen, menjabat Komisaris Utama Gudang Garam. Di luar keluarga Wonowidjojo, ada Lucas Mulia Suhardja dan PT Suryamitra Kusuma (6,26 persen), sisanya dimiliki publik (23,78 persen).
Rendahnya daya beli masyarakat, mau tak mau GGRM harus luncurkan strategi jitu. Misalnya, mengeluarkan produk baru dengan harga murah meriah. Kalau tidak, pasarnya akan diserobot rokok ilegal, bercukai palsu sehingga harganya lebih murah.














