Legenda Jerman Philipp Lahm: Piala Dunia Sedang ‘Dijual’ FIFA!

Legenda Jerman Philipp Lahm: Piala Dunia Sedang ‘Dijual’ FIFA!

Legenda sepak bola sekaligus kapten yang membawa Tim Nasional Jerman menjuarai Piala Dunia 2014, Philipp Lahm, melontarkan kritik keras dan pedas yang ditujukan langsung kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Melalui kolom opininya di surat kabar bergengsi Jerman, Die Zeit, Lahm menilai bahwa esensi turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut tengah digadaikan demi meraup keuntungan komersial semata.

Krisis Kredibilitas dan Manipulasi Harga Tiket

Dalam tulisannya, Lahm tidak menahan diri untuk menyuarakan kekhawatirannya terhadap arah kebijakan FIFA di bawah kepemimpinan Infantino.

“Piala Dunia sedang ‘dijual’,” tulis mantan bek sayap Bayern Munchen tersebut. “Ini merampas kredibilitas sepak bola. Akibatnya, para penggemar menjadi resah. Semakin sulit bagi mereka untuk memisahkan antara FIFA dan turnamen itu sendiri.”

Selain menyoroti komersialisasi yang berlebihan, Lahm juga menyinggung polemik melambungnya harga tiket pada Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung di Amerika Utara. Ia secara terbuka menuduh otoritas tertinggi sepak bola dunia itu bermain tidak jujur terkait data penjualan.

“FIFA dituduh tidak memberikan angka yang jujur mengenai permintaan (tiket) yang sebenarnya, dan menggunakan hal ini untuk memaksimalkan pendapatan,” kecamnya.

Beban Pemain dan Penolakan Siklus Dua Tahunan

Kritik pria berusia 42 tahun itu tidak berhenti pada isu Piala Dunia saja. Ia juga mengecam keras penyelenggaraan format baru Piala Dunia Antarklub (Club World Cup) yang diperluas dan mulai bergulir pada musim panas tahun lalu. Menurutnya, penambahan jadwal tersebut memberikan dampak destruktif terhadap tingkat kebugaran para pemain profesional.

Lebih jauh, Lahm kembali menyuarakan rasa frustrasinya terhadap wacana FIFA yang terus-menerus mencoba mendorong agar Piala Dunia digelar setiap dua tahun sekali.

“Saya merasa terganggu dengan usulan berulang untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun. Sebuah turnamen membutuhkan persiapan dan tindak lanjut (evaluasi) untuk bisa memberikan dampak yang langgeng,” tegas Lahm.

Ini bukan kali pertama Lahm bersuara lantang menyerang Infantino. Pada gelaran Piala Dunia 2022 di Qatar lalu, ia secara terang-terangan menyebut bahwa Presiden FIFA tersebut tidak memiliki “integritas”.

Sisi Positif Format 48 Negara

Meski melontarkan kritik tajam yang bertubi-tubi, Lahm tetap berusaha objektif. Ia mengakui bahwa FIFA “melakukan banyak hal dengan benar” di beberapa aspek.

Salah satu kebijakan Infantino yang mendapat pujian dari Lahm adalah perluasan format Piala Dunia menjadi 48 tim pada edisi 2026 ini. Menurutnya, format baru ini telah memberikan ruang bagi negara-negara kejutan atau underdog untuk menciptakan cerita magis di panggung dunia, merujuk pada performa impresif tim-tim seperti Skotlandia, Republik Demokratik Kongo, hingga Tanjung Verde.

Visited 1 times, 1 visit(s) today