Sekitar delapan kilometer dari puncak Gunung Merapi, aktivitas pertanian berlangsung di kawasan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Di antara hamparan lahan, tanaman, air, dan udara pegunungan, seorang lulusan Universitas Al Azhar Kairo memilih menjalani kehidupan yang tidak biasa.
Namanya Ibnu Riza. Setelah lebih dari lima tahun menempuh pendidikan di Mesir, ia kembali ke kampung halaman dan memilih menjadi petani.
Keputusan itu mungkin terlihat sederhana. Dengan latar belakang pendidikan agama, Ibnu sebenarnya memiliki banyak pilihan profesi, mulai dari menjadi dai, ustaz, guru, dosen, hingga mengabdi di pesantren.
Namun, ia justru menemukan ruang dakwah di lahan pertanian.
“Untuk fokus ibadahnya, lewat dunia tani ini. Berdakwah di pertanian,” kata Ibnu.
Bagi Ibnu, dakwah tidak selalu harus disampaikan dari atas mimbar. Nilai-nilai agama yang dipelajarinya di Al Azhar dapat diwujudkan melalui cara bekerja, memperlakukan orang lain, menghadapi kegagalan, serta menjaga hubungan manusia dengan alam.
Memilih Bertani di Tengah Zaman Digital
Ibnu melihat pertanian sebagai pekerjaan yang memiliki masa depan. Di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi, industri, dan kecerdasan buatan, ada satu kebutuhan manusia yang tidak berubah: makanan.
“Kita sampai kapanpun tetap makan,” ujarnya.
Menurut dia, manusia mungkin dapat hidup tanpa mobil mewah, gedung tinggi, atau berbagai fasilitas modern. Namun kebutuhan terhadap pangan akan selalu ada.
Karena itu, Ibnu tidak menganggap pertanian sebagai pekerjaan kelas dua. Justru ketika semakin sedikit generasi muda yang tertarik menjadi petani, ia melihat peluang untuk mengembangkan sektor tersebut.
Ia juga berusaha melihat pertanian dalam perspektif jangka panjang. Ketika jumlah orang yang masuk ke sektor ini semakin sedikit, persaingan di masa depan juga berpotensi lebih longgar.
“Takutlah di saat orang lain rakus,” katanya, mengutip prinsip investasi yang ia kenal dari Warren Buffett.
Namun menjadi petani bukan berarti selalu mendapatkan keuntungan. Ada masa ketika hasil panen melimpah, tetapi harga di pasar justru jatuh.
Ketika Panen Tidak Berarti Keuntungan
Pengalaman itu dirasakan Ibnu ketika tanaman pakcoy yang telah dirawat sejak benih menghadapi harga pasar yang rendah.
Biaya untuk benih, pupuk, air, tenaga, dan perawatan sudah dikeluarkan. Namun ketika sampai di pasar, hasil panen belum tentu memberikan keuntungan sesuai harapan.
Ibnu tidak melihat kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti.
Sebagian pakcoy yang tidak terserap pasar ia kirimkan ke pesantren tempat dahulu menimba ilmu agama. Sebagian lainnya dikembalikan ke tanah.
Bagi Ibnu, tanaman yang tidak terjual bukan berarti sepenuhnya sia-sia. Hasil pertanian tersebut tetap dapat memberi manfaat, baik menjadi makanan bagi manusia maupun kembali menjadi bagian dari tanah.
Cara pandang tersebut membuatnya tidak selalu mengukur keberhasilan pertanian hanya dari jumlah uang yang masuk.
Menurutnya, kehidupan petani memang terdiri dari berbagai musim. Ada saat ketika harga tinggi dan panen berhasil. Ada pula masa ketika harga jatuh atau tanaman tidak menghasilkan sesuai harapan.
Kegagalan dalam satu musim tidak berarti seluruh perjalanan berakhir.
Belajar dari Petani dan Tanah
Kembali menjadi petani juga membuat Ibnu terus belajar. Ia mengaku banyak menggali pengetahuan dari petani-petani senior, membaca buku, mencari informasi pertanian melalui internet, serta mempelajari berbagai materi yang tersedia melalui Kementerian Pertanian.
Menurutnya, kegagalan dalam bertani tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak cocok menjadi petani.
Bisa jadi, kegagalan tersebut menunjukkan masih ada pengetahuan yang harus dipelajari.
“Kalau kita diterjun di pertanian kok gagal terus, ya mungkin pasti belajarnya kurang,” ujarnya.
Ia kemudian mempelajari berbagai aspek yang berkaitan dengan pertanian, mulai dari kondisi tanah, kebutuhan air, pupuk, cuaca hingga persoalan hama.
Baginya, lahan pertanian adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai.
Setiap tanaman memiliki karakter. Setiap musim menghadirkan tantangan berbeda. Karena itu, seorang petani harus terus mengamati, mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki cara bertani.
Menemukan Makna Dakwah dari Tanah
Pilihan Ibnu menjadi petani juga tidak terlepas dari keyakinan spiritual yang ia miliki.
Ia merefleksikan pesan Al Quran dalam Surah Yasin ayat 33-35 tentang bumi yang mati kemudian dihidupkan Allah dan menghasilkan biji-bijian yang menjadi sumber makanan manusia.
Ayat tersebut menjadi salah satu cara Ibnu melihat aktivitas pertanian.
Manusia hanya dapat menyiapkan tanah, menanam benih, memberikan air, memberikan pupuk, mengendalikan hama, dan merawat tanaman. Namun, hasil akhirnya tetap berada di luar kendali manusia.
Di situlah ia menemukan makna ikhtiar dan tawakal.
Petani bekerja dengan pengetahuan dan tenaga yang dimiliki, tetapi tetap menyadari bahwa pertumbuhan tanaman memiliki banyak faktor yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Bagi Ibnu, kesadaran tersebut juga merupakan bagian dari dakwah.
Ia tidak hanya ingin berbicara mengenai nilai agama, tetapi berusaha menjalankannya melalui pekerjaan sehari-hari.
Pulang dari Kairo, Kembali ke Tanah Kelahiran
Perjalanan Ibnu menyimpan sebuah paradoks. Ia pergi jauh ke Mesir untuk menuntut ilmu, tetapi setelah menyelesaikan pendidikan justru kembali ke kampung halaman dan memilih mengolah tanah.
Bagi sebagian orang, pilihan tersebut mungkin tampak tidak sejalan dengan latar belakang pendidikannya.
Bagi Ibnu, justru di situlah ia menemukan ruang untuk mengamalkan ilmu.
Dakwah baginya tidak hanya berbentuk ceramah. Ia dapat hadir dalam cara memperlakukan pekerja, menghargai petani, menghadapi hasil panen yang tidak sesuai harapan, serta memaknai rezeki.
Ketika harga panen jatuh, ia memilih berbagi sebagian hasilnya dengan pesantren dan mengembalikan sebagian lainnya kepada tanah.
Menanam akhirnya bukan sekadar aktivitas ekonomi.
Menanam adalah bagian dari upaya menjaga kehidupan.
1 Miliar Kebaikan Ikut Menyemai
Perjalanan Ibnu kemudian mendapat dukungan melalui program 1 Miliar Kebaikan inilah.com. Dukungan tersebut diberikan untuk membantu aktivitas pertanian yang telah dijalankannya.
Bantuan berupa dua karung pupuk dan tiga alat penyiram atau kocor diberikan untuk menunjang kegiatan di lahan. Selain itu, inilah.com juga memberikan dukungan materiil untuk membantu pengembangan pertanian Ibnu Riza.
Dukungan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengubah jalan hidup Ibnu secara instan. Bantuan itu menjadi bagian kecil dari perjalanan yang telah ia bangun melalui proses belajar, bekerja, dan bertani.
Seperti benih yang ditanam di tanah, manfaat sebuah kebaikan tidak selalu dapat langsung dilihat. Nilainya dapat tumbuh melalui proses dan waktu.
Kisah Ibnu menunjukkan bahwa dakwah dapat mengambil banyak bentuk. Seorang lulusan Al Azhar tidak harus selalu berada di ruang pengajian untuk menyampaikan nilai agama.
Ia dapat berada di sawah, mengolah tanah, menanam, merawat tanaman, berbagi hasil panen, dan tetap menjalankan prinsip yang diyakininya.
Selama manusia masih membutuhkan pangan, pertanian akan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan.
Bagi Ibnu, mungkin di situlah makna dakwah yang ingin ia jalani: menanam sesuatu yang bermanfaat, meski belum tentu ia sendiri yang akan memanennya.














