Kemarau berkepanjangan menyebabkan warga di sejumlah wilayah Boyolali dan Grobogan, Jawa Tengah, mengalami krisis air bersih. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berdampak terhadap pertanian, peternakan, dan perekonomian masyarakat.
Di Dukuh Joho, Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, warga menghadapi menyusutnya persediaan air setelah kemarau berlangsung dalam waktu panjang. Kondisi tersebut semakin berat karena mayoritas masyarakat menggantungkan hidup sebagai petani jagung dan peternak domba maupun sapi.
Dampak kekeringan bahkan mulai dirasakan terhadap aktivitas ekonomi warga. Petani kesulitan mengolah lahan dan memulai musim tanam berikutnya, sementara sebagian warga harus meluangkan waktu untuk mencari sumber air.
“Karena kekeringan di ladang mereka, yang kedua tidak bisa menanam lagi, kemudian yang pekerja itu ikut istrinya mencari air. Jadi dampak spesifiknya masalah perekonomian warga karena terdampak kekeringan,” kata Dai Pemberdaya Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Nur Cholis.
Warga Gali Sumur di Sungai yang Mengering
Kondisi kekeringan membuat warga Dukuh Joho mencari sumber air dengan memanfaatkan dasar sungai yang telah mengering.
Warga menggali lubang-lubang kecil menyerupai sumur untuk mendapatkan rembesan air. Sumber air tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Namun, untuk mendapatkan air, warga harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga satu kilometer. Sebagian warga menggunakan sepeda motor, sementara lainnya berjalan kaki sambil membawa jeriken.
“Sejak Mei sudah tidak ada hujan, warga sudah mencari air bersih di sungai yang mengering. Dibuatlah sumur kecil demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka,” ujar Nur Cholis.
Krisis air juga memberikan tekanan terhadap sektor pertanian. Sebagian besar warga Dukuh Joho merupakan petani jagung yang menggarap lahan milik Perhutani. Untuk mengelola lahan tersebut, warga harus membayar biaya sewa sekitar Rp1,3 juta setiap musim panen atau setiap tahun.
Kemarau yang berkepanjangan membuat keberlangsungan musim tanam berikutnya ikut terancam.
Kekeringan Juga Melanda Grobogan
Krisis air bersih serupa terjadi di Kabupaten Grobogan. Di Dukuh Kedung Bunder, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, sebanyak 120 kepala keluarga mulai mengalami kekeringan sejak pertengahan Juli 2026.
Sementara itu, sebanyak 80 kepala keluarga di Dukuh Brumbung, Desa Panimbo, Kecamatan Kedungjati, menghadapi kondisi serupa sejak akhir Juli.
Ketika sumber air semakin terbatas, warga mengandalkan sumur-sumur kecil yang digali di dasar sungai yang mengering untuk memperoleh air.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memperbesar beban masyarakat yang harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendapatkan air bersih.
Dompet Dhuafa Salurkan 36 Ribu Liter Air
Melihat kondisi tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan di Boyolali dan Grobogan.
Pada akhir Juli 2026, sebanyak empat truk tangki air didistribusikan ke wilayah terdampak. Setiap truk memiliki kapasitas 9.000 liter sehingga total bantuan yang disalurkan mencapai 36.000 liter air bersih.
Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 370 warga yang terdampak krisis air bersih.
Salah seorang warga mengaku bantuan tersebut sangat membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air.
“Sangat bersyukur sekali, karena dengan adanya air bersih dari DMC itu sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk mencuci, mandi dan sebagainya,” ujarnya.
Kemarau Berdampak hingga Ekonomi Warga
Bagi masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan peternak, kekeringan memiliki dampak berlapis. Tidak tersedianya air bukan hanya menyulitkan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menghambat kegiatan ekonomi.
Kondisi lahan yang kekurangan air membuat petani kesulitan melanjutkan aktivitas pertanian. Di sisi lain, waktu yang biasanya digunakan untuk bekerja harus dialihkan untuk mencari air bersih.
Dompet Dhuafa melalui DMC menilai distribusi air bersih menjadi salah satu bentuk respons untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kemarau berlangsung.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga sekaligus memastikan kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari tetap terpenuhi di tengah keterbatasan sumber air akibat kemarau panjang.














