Maduro Ditahan di New York, Rezim Chavista Siapkan Perlawanan di Caracas

Maduro Ditahan di New York, Rezim Chavista Siapkan Perlawanan di Caracas

Ibnu Medium.jpeg

Minggu, 4 Januari 2026 – 13:52 WIB

Para pengunjuk rasa menggelar aksi unjuk rasa di Bogota, Kolombia setelah penangkapan Nicolás Maduro. (Foto: Getty images)

Para pengunjuk rasa menggelar aksi unjuk rasa di Bogota, Kolombia setelah penangkapan Nicolás Maduro. (Foto: Getty images)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Penangkapan dramatis Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores oleh militer Amerika Serikat pada akhir pekan lalu telah memicu gelombang kejut global. Namun, per Minggu (4/1/2026), harapan akan runtuhnya rezim otoriter di Caracas tampaknya masih jauh dari kenyataan.

Meskipun Maduro kini dilaporkan telah mendekam di Rumah Tahanan Metropolitan Brooklyn, New York, struktur kekuasaan “Chavista” di Venezuela tetap solid dan justru memperketat kendali militer atas rakyat sipil.

Estafet Kekuasaan di Lingkaran Loyalis

Kekosongan kursi kepresidenan di Istana Miraflores langsung diisi oleh Wakil Presiden Delcy Rodriguez. Dalam pernyataan pertamanya, Delcy menuntut Amerika Serikat memberikan bukti hidup (proof of life) berupa foto atau video Maduro dan Flores, sembari menegaskan penolakannya terhadap intervensi asing.

Analisis situasi menunjukkan bahwa penangkapan Maduro tidak otomatis memicu pergantian rezim. Struktur komando Venezuela masih dikuasai oleh loyalis mendiang Hugo Chavez. Jika Delcy berhalangan, tampuk kekuasaan akan jatuh ke kakaknya, Jorge Rodriguez (Ketua DPR), diikuti oleh Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dan Menteri Pertahanan Vladimir Padrino.

“Ini adalah waktu yang sangat genting jika kita ingin merombak ideologi Chavista,” ujar tokoh oposisi Edmundo Gonzalez, yang menyerukan persatuan faksi-faksi anti-pemerintah. Namun, peluang Gonzalez maupun tokoh oposisi Maria Corina Machado untuk mengambil alih kekuasaan dinilai masih sangat kecil di tengah pemberlakuan darurat militer saat ini.

Euforia Diaspora vs Realitas Geopolitik

Di luar negeri, kabar penangkapan Maduro disambut dengan perayaan jalanan. Di Miami, Madrid, hingga Guatemala, diaspora Venezuela bersorak “Si, se puede” (Ya, kita bisa). Sekitar 7,7 juta warga Venezuela yang melarikan diri sejak 2014 melihat ini sebagai secercah harapan.

“Rasanya lega melihat kebebasan datang,” ujar Edgar, diaspora di Miami. Namun, sentimen ini bercampur dengan kehati-hatian. Jurnalis Venezuela di Madrid, Jose Gonzalez Vargas, mengingatkan agar tidak terjebak euforia. “Saya harus memastikan semua faktor memungkinkan perubahan positif, bukan masa kegelapan berikutnya,” ujarnya. Mayoritas diaspora menyatakan enggan pulang sebelum pemilu jujur digelar dan tahanan politik dibebaskan.

Agenda Transaksional Trump

Di New York, Maduro dan Flores tiba di Bandara Stewart, Orange County, di bawah pengawalan ketat Badan Narkotika AS (DEA) sebelum dipindahkan ke Brooklyn. Di saat yang sama, protes merebak di AS menentang apa yang disebut demonstran sebagai “invasi ilegal”.

Harian Caracas Chronicles memberikan analisis tajam: Presiden AS Donald Trump mungkin tidak peduli pada demokrasi Venezuela. Fokus utamanya dinilai transaksional—mengamankan minyak, menghentikan imigran gelap, dan memutus aliran narkoba.

Dengan Maduro yang masih memegang “kartu” negosiasi dan loyalisnya yang menguasai militer, skenario terburuk bagi rakyat Venezuela adalah terjadinya kesepakatan elit antara Washington dan Caracas, tanpa perbaikan demokrasi yang substansial.

Visited 4 times, 1 visit(s) today