Mantan Presiden FIGC Beberkan Akar Masalah dan Solusi Krisis Sepak Bola Italia

Mantan Presiden FIGC Beberkan Akar Masalah dan Solusi Krisis Sepak Bola Italia

Ibnu Medium.jpeg

Rabu, 8 April 2026 – 21:10 WIB

Para pemain Italia berpose untuk foto tim sebelum pertandingan babak play-off Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Eropa antara Bosnia dan Herzegovina dan Italia di Stadion Bilino Polje pada 31 Maret 2026 di Zenica, Bosnia dan Herzegovina. (Foto: Getty Images/Getty Images)

Para pemain Italia berpose untuk foto tim sebelum pertandingan babak play-off Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Eropa antara Bosnia dan Herzegovina dan Italia di Stadion Bilino Polje pada 31 Maret 2026 di Zenica, Bosnia dan Herzegovina. (Foto: Getty Images/Getty Images)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Meski telah mengumumkan pengunduran dirinya pada pekan lalu akibat kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026, Gabriele Gravina tetap menunjukkan kepeduliannya. 

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang akan segera lengser itu mempublikasikan sebuah laporan komprehensif mengenai kondisi krisis yang melanda sepak bola Italia, lengkap dengan sejumlah proposal untuk mengatasinya.

Gravina, yang memimpin Italia menjuarai Euro 2020 namun gagal menembus dua edisi Piala Dunia, akan tetap menjabat sebagai pelaksana tugas administratif hingga presiden baru terpilih pada 22 Juni mendatang. 

Laporan yang ia bagikan pada Rabu (8/4) tersebut sejatinya dijadwalkan untuk dipresentasikan di hadapan Parlemen Italia pekan lalu, namun sidang itu dibatalkan menyusul keputusannya untuk mundur.

“Saya membagikan dokumen ini dengan harapan dapat merangsang refleksi dan analisis yang lebih dalam, termasuk di antara mereka yang dalam beberapa hari terakhir merasa memiliki solusi paling jitu,” ujar Gravina, menyindir banyaknya kritikus dadakan pascakegagalan Gli Azzurri.

Gravina menegaskan bahwa akar masalah sepak bola Italia adalah defisiensi struktural yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Ia menuntut kejelasan tanggung jawab antara Federasi, Liga, dan institusi publik (pemerintah).

“Terlalu banyak ketidakakuratan, dan terkadang kebohongan yang disengaja, yang memicu pencarian kambing hitam. Area-area yang langsung di bawah tanggung jawab federasi telah mencapai hasil signifikan. Kegagalan terjadi di area di mana kepentingan berbagai pihak tumpang tindih hingga melumpuhkan sistem,” tegasnya.

Minim Pemain Muda dan Kecepatan Bermain yang Rendah

Dalam laporannya, Gravina membeberkan deretan masalah krusial di Serie A. Mulai dari tingginya persentase pemain asing, rata-rata usia pemain yang menua, hingga minimnya jam terbang bagi pemain muda lokal.

“Italia berada di peringkat 49 dari 50 liga yang dipantau dalam hal persentase menit bermain oleh pemain U-21 yang memenuhi syarat untuk tim nasional, yakni hanya sebesar 1,9 persen,” ungkap Gravina menyoroti minimnya investasi di sektor pemain muda.

Selain itu, ia juga membeberkan statistik yang menunjukkan tertinggalnya kualitas permainan di kancah domestik. Kecepatan rata-rata aliran bola di Serie A hanya berada di angka 7,6 m/s, jauh di bawah rata-rata Liga Champions (10.4 m/s) dan liga top Eropa lainnya (9.2 m/s). Serie A juga tidak masuk dalam daftar 10 liga teratas untuk jarak tempuh sprint pemain.

Meski demikian, Gravina menekankan bahwa membatasi jumlah pemain asing di Serie A adalah hal yang mustahil secara hukum karena melanggar prinsip kebebasan bergerak bagi pekerja profesional di Eropa.

Tuntutan Bantuan Finansial dari Pemerintah

Sebagai solusi, Gravina mengajukan beberapa proposal yang sebelumnya terus ia dorong namun terhambat. Ia menuntut adanya dukungan finansial riil dari pemerintah, mencontohkan bagaimana acara olahraga lain di Italia—seperti Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina—mendapat pendanaan miliaran euro, sementara sepak bola (bahkan untuk Euro 2032) tidak mendapat sepeser pun.

Proposal perbaikannya meliputi:

  • Alokasi persentase dari pendapatan judi olahraga untuk pengembangan pemain muda dan infrastruktur.
  • Pencabutan larangan iklan dan sponsor oleh operator judi.
  • Penerapan kredit pajak dan pengembalian “rezim pajak preferensial” (Growth Decree) untuk memfasilitasi klub.
  • Dukungan nyata dari negara untuk membangun stadion baru atau merenovasi stadion lama.
  • Perombakan struktur liga (Serie A, B, C, D) serta proyek reformasi sektor wasit.

“Tanpa kemauan yang kuat dan bulat untuk memprioritaskan kebaikan bersama di atas pertahanan posisi individu, dan tanpa politik yang menciptakan kondisi dan alat yang diperlukan, tidak ada satu individu pun yang dapat mencapai kebangkitan sejati bagi sepak bola Italia,” pungkas Gravina memperingatkan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 16 times, 1 visit(s) today