Keberangkatan Prabowo Subianto ke China Selasa (2/9) malam, jadi pertanda gelombang demonstrasi yang diwarnai kericuhan hingga penjarahan, sudah selesai!
Prabowo berani meninggalkan tanah air setelah memerintahkan kepolisian untuk membongkar dalang dibalik dugaan makar yang terjadi dalam aksi demo selama satu pekan di berbagai daerah.
Namun patut dicatat, meski upaya makar yang disebut Prabowo gagal terlaksana, kerugian materiil yang ditimbulkan mendekati sangat dalam.”Biayanya total seluruh Indonesia, kemarin kami hitung, hampir sekitar Rp 900 miliar,” kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo.
Belum lagi, laporan Komnas HAM, sebanyak 10 nyawa melayang dari rentetan demonstrasi yang terjadi pada 25-31 Agustus 2025.
Dengan kerugian yang dalam, bayarannya harus sepadan. Mencari, membongkar dan menangkap aktor dan dalang dibalik gelombang demonstrasi yang menyerang Indonesia dari berbagai lini.
Nama taipan minyak Muhammad Riza Chalid mencuat setelah sejumlah Menteri Prabowo, ramai-ramai membuat story Instagram tentang perlawanan mafia dibalik aksi demo anarkis, dan nama Riza disebut di dalamnya.
Masalahnya, Riza tak lagi berada di Indonesia sejak ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi minyak mentah dengan kerugian mencapai Rp285 Triliun.
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menyatakan adanya campur tangan pihak luar negeri terkait demonstrasi ricuh di depan Gedung DPR Senayan.
“Orang yang dari luar hanya menggerakan kaki tangannya yang ada di dalam dan saya sangat yakin bahwa kaki tangannya di dalam ini tidak ngerti bahwa dia dipakai. Tapi pada waktunya nanti harus dibuka, ” kata Hendro di Istana Negara, Kamis (28/8).
Mengikuti Jejak Komando Aksi Anarkis
Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen, satu hari setelah aksi anarkis mereda, patut mendapat perhatian lebih.
Kapolri yang mendapat perintah langsung dari Prabowo untuk menangkap dalang dibalik kerusuhan, mulai bergerak menelusuri rantai komando ajakan makar.
Penangkapan Delpedro bisa jadi pintu masuk untuk mengejar dalang dibalik gelombang demonstrasi anarkis seminggu terakhir, namun tidak mudah.
Selain Delpedro, ada juga staf Lokataru, Muzaffar Salim, yang ikut ditangkap atas tuduhan yang sama, provokasi di media sosial. Penyidik pasti sudah tahu lalu lintas percakapan bahkan rencana aksi sebelum menangkap paksa Delpedro serta Salim.
Jika analisis keterlibatan Delpedro benar, polisi tinggal mengikuti rantai komando untuk sampai ke aktor intelektual. Dengan teknologi seperti CCTV hingga alat komunikasi yang semakin canggih, harusnya pekerjaan untuk mengidentifikasi kelompok ‘invisible hand’ dalam aksi anarkis seminggu terakhir tidaklah sulit. Polda Metro Jaya mulai membereskan aktor-aktor lapangan serta provokator yang aktif di media sosial untuk mengajak kericuhan.
Dari hasil monitoring polisi, ada pola yang seragam di media sosial. Mereka aktif menyebarkan flyer atau selebaran digital untuk mendorong aksi anarkis.”Aksi unjuk rasa dengan kelompok yang banyak dan besar memang sangat rawan ditunggangi dan dibelokkan pada isu-isu lain di luar tujuan aksi,” kata Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto kepada inilahcom.
“Deteksinya memang tak mudah, tetapi indikasi-indikasinya bisa sangat terlihat,” sambungnya.
Diantaranya kata Bambang, adalah masuknya entitas-entitas lain di luar rencana, tanpa koordinasi dan tiba-tiba. Kelompok-kelompok tersebut bisa memiliki isu atau agenda tersendiri bahkan sama dengan kelompok utama. Tujuannya adalah membelokkan tujuan aksi. Ini bisa dilakukan sebagai bentuk kontra intelejen pihak-pihak yang kontra dengan aksi utama.
Untuk aksi massa di DPR yang jadi awal perkara, tuntutan massa adalah soal tunjangan selangit Anggota DPR. Setelah korban tewas atas nama Affan Kurniawan yang merupakan pengemudi ojol, tuntutan aksi berubah dan targetnya adalah petugas kepolisian yang jadi pemicu kematian Affan.
Setelah itu, eskalasi aksi semakin tinggi dengan pembakaran sejumlah fasilitas umum, hingga diakhiri dengan penjarahan rumah sejumlah anggota dewan serta kediaman Menkeu Sri Mulyani.
Setelah satu minggu penyelidikan dan penyidikan, polisi baru sampai pada dua layer demo ricuh, provokator dan massa aksi yang terprovokasi.
Sebanyak tujuh orang jadi tersangka dengan klasifikasi sebagai provokator.
1. WH (31), pemilik akun Instagram @bekasi_menggugat
2. KA (24), pemilik akun Instagram Aliansi Mahasiswa Penggugat
3. LFK (26), pemilik akun media sosial Instagram @Larasfaizati
4. CS (30), pemilik akun TikTok @Cecepmunich
5. IS (39) selaku pemilik akun TikTok @hs02775
6. SB (35), selaku pemilik akun Facebook dengan nama akun Nannu
7. G (20), selaku pemilik akun Facebook dengan nama akun Bambu Runcing
Selanjutnya, ada ratusan tersangka dari berbagai daerah yang terbukti berdasarkan rekaman CCTV salah satunya, melakukan tindakan anarkis selama aksi demo.
Temuan penting selanjutnya yang sedang dikerjakan polisi, adalah aliran uang serta identifikasi kelompok ‘siluman’.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi dalam pernyataan persnya pada Rabu (3/9), menyebut ada sejumlah anak yang diimingi uang untuk ikut aksi.”Ada beberapa pihak yang masih kami dalami karena diduga memberikan imbalan uang dengan rentang Rp62.500, hingga Rp200.000 bagi anak-anak maupun dewasa yang mau hadir melakukan aksi,” kata Ade kepada wartawan.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya juga menemukan sebuah grup WhatsApp (WA) yang digunakan untuk menyebarkan ajakan kerusuhan yang terjadi sejak 25 Agustus 2025. Di dalam percakapan grup tersebut, salah satu topik yang muncul adalah tutorial pembuatan bom molotov.
Selain itu, Polda Metro Jaya mengungkap adanya massa demo tak dikenal atau siluman yang datang ke Gedung DPR pada Kamis (28/8) dengan maksud dan tujuan tertentu yakni membuat kericuhan.
Massa ‘siluman’ ini sengaja datang ke Gedung DPR untuk melakukan perusakan fasilitas umum hingga menutup jalan tol. Mereka datang setelah massa buruh dan mahasiswa membubarkan diri.
“(mereka) Merusak, melempari petugas, kemudian merusak beberapa kendaraan, ada yang membakar, masuk ke dalam jalan tol, melempari masyarakat yang beraktivitas di jalan tol, hingga menutup jalan tol,” ujar Ade Ary.
Dalam melakukan aksi kericuhan, kelompok tersebut sudah membagi tugas masing-masing. Sehingga nantinya mereka bisa memicu terjadinya keributan antara aparat dan massa aksi.
Musuh dari Dalam
Jika Hendropriyono menyebut gelombang demo anarkis selama satu minggu digerakkan asing, tentu akan panjang ceritanya. Namun, ketakutannya sama, kondisi dalam negeri serta pemerintahan Prabowo, sedang digoyang.
Prabowo tak bisa lagi menunggu keadaan baik saja seiring waktu. Sebagai presiden, Prabowo harus mulai bisa memetakan politik orang-orang di bawahnya, tak mulai skeptis terhadap lingkaran sekelilingnya.
“Menurut saya ini (aksi anarkis) nitip pesan ke Prabowo. ‘hey kamu gak cukup kuat lo di republik ini’, itu message-nya,” kata Ketua Dewan Direktur Great Institute Syahganda Nainggolan dalam podcast bersama inilahcom.
Bahasa simbolik Prabowo saat mengajak Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama ketum-ketum partai lainnya ke Istana untuk meredakan situasi, dinilai sebagai pesan tersirat dari presiden dengan siapa dia ‘berdiri’ sekarang.
Menuju setahun pemerintahannya, Prabowo harus tegas soal orang-orang titipan di lingkaran kekuasaanya.
Publik masih ingat betul bagaimana Prabowo dalam setiap kesempatan selalu berapi-api bicara berantas korupsi. Namun hasilnya, Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel justru ditangkap KPK karena korupsi sertifikat K3 di lingkungan Kemenaker.
“Itukan seperti melempar tinja ke wajah Prabowo,” kata Syahganda.
Jika demo anarkis adalah sebuah peringatan, Prabowo punya dua pilihan untuk merespon. Kompromi dengan oligarki, atau melawan dengan keras.
“Kemarin dari Pak Jumhur saya dengar ee apa namanya kabar waktu dia di istana hari Senin kemarin itu Presiden kaget. Ada satu orang demonstran itu dia bilang, “Loh, kok Anda ada di sini? Kan Anda enggak diundang gitu loh. Kan berarti kan presiden ini enggak steril istananya gitu loh,” kata Syahganda.
Menarik ditunggu respon tegas presiden atas gelombang demonstrasi yang cukup dalam “memukul” sendi-sendi dalam negeri. Siapa selanjutnya yang akan ditangkap, jadi tersangka, atau semuanya akan berlalu begitu saja?














