Tampaknya, bisnis rokok yang memasuki masa paceklik bakal terus menggelayuti perjalanan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Pionir industri rokok asal Kediri, Jawa Timur itu, menghentikan pembelian tembakau Temanggung sejak tahun lalu.
Artinya, GGRM memang sudah ancang-ancang mengurangi produksi. Pertanda ada masalah besar di perusahaan yang didirikan 26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo alias Tjoa Ing Hwie itu.
Jawabannya, tekanan ekonomi yang sulit diatasi. Penjualan terus merosot karena daya beli terkulai berkepanjangan. Di sisi lain, pemerintah menetapkan tarif cukai yang naik tiap tahun.
Kini muncul kabar tak sedap, GGRM bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Informasi ini bergulir cepat lewat media sosial (medsos). Bikin heboh. Apalagi pekerja GGRM mencapai lebih dari 30 ribu orang.
Sejatinya, kinerja perusahaan sudah mulai terlihat menurun sejak 2024. Kala itu, laba perusahaan anjlok terlalu dalam. Bahkan boleh dibilang terjun bebas. Cuan GGRM merosot 81,57 persen, dari Rp5,32 triliun pada 2023, tersisa menjadi Rp980,8 miliar.
Tekanan ini berlanjut ke semester I-2025, di mana GGRM membukukan pendapatan Rp44,36 triliun, berdasarkan laporan keuangan perusahaan. Capaian pendapatan sebesar itu, turun 11,30 persen secara tahunan (year on year/yoy, pada paruh pertama 2024, pendapatan Gudang Garam mencapai Rp50,01 triliun.
Sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, sebesar Rp117,16 miliar. Anggaplah semester kedua sama, maka total laba GGRM hanya sekitar Rp234 miliar. Makin turun ketimbang 2024 yang mencapai Rp980,8 miliar.
Atas sempoyongannya kinerja perusahaan, berdampak kepada harga saham GGRM yang makin hari makin babak belur. Saat masa jaya, saham GGRM dibanderol Rp83.650 untuk selembarnya. Kini turun10 kali lipat menjadi sekitar Rp8.800 per lembar. Pada 8 April 2025, saham GGRM sempat menyentuh titik terendah sepanjang tahun, yakni Rp8.675 per lembar.
Saat ini, mayoritas saham GGRM dikuasai keluarga Wonowidjojo melalui perusahaan induk PT Suryaduta Investama. Porsi saham yang dikempit mencapai 69,29 persen. Di mana, konglomerat Susilo Wonowidjojo, generasi kedua dari Surya Wonowidjojo adalah penguasanya. Selain itu, Susilo memiliki saham langsung sebesar 0,09 persen.
Sedangkan, Juni Setiawati Wonowidjojo atau adik dari Susilo, menggenggam 0,58 persen, menjabat Komisaris Utama Gudang Garam. Di luar keluarga Wonowidjojo, ada Lucas Mulia Suhardja dan PT Suryamitra Kusuma (6,26 persen), sisanya dimiliki publik (23,78 persen).
Rendahnya daya beli masyarakat, mau tak mau GGRM harus luncurkan strategi jitu. Misalnya, mengeluarkan produk baru dengan harga murah meriah. Kalau tidak, pasarnya akan diserobot rokok ilegal, bercukai palsu sehingga harganya lebih murah.














