Menakar Kekuatan Lawan Indonesia di Piala Asia 2027: Jepang, Qatar, dan Thailand

Menakar Kekuatan Lawan Indonesia di Piala Asia 2027: Jepang, Qatar, dan Thailand

Timnas Indonesia dijanjikan tantangan maha berat di Piala Asia 2027. Skuad Garuda asuhan John Herdman tergabung di Grup F bersama Thailand, Qatar, dan Jepang. Tiga lawan ini memiliki karakter, sejarah, dan kualitas yang berbeda satu sama lain.

Memetakan kekuatan ketiganya menjadi kunci bagi Indonesia. Berikut analisis mendalam terhadap calon lawan Garuda di Arab Saudi pada Januari-Februari 2027.

Jepang: Raksasa Asia Stok Melimpah Pemain Liga Top Eropa

Jepang berstatus tim peringkat tertinggi Asia. Berdasarkan rilis FIFA per 1 April 2026, Samurai Biru bertengger di posisi 18 dunia, jauh di atas tim Asia lain seperti Iran (21), Korea Selatan (25), dan Australia (27).

Status sebagai raksasa Asia bukan klaim kosong. Jepang sudah mengoleksi empat trofi Piala Asia, sekaligus pemegang rekor juara terbanyak di kompetisi tersebut, meski terakhir kali angkat trofi pada 2011.

Skuad Berkelas Eropa

Hajime Moriyasu masih menjadi nakhoda Samurai Biru. Pelatih asal Jepang ini telah menangani timnas senior sejak 2018 dan akan tampil di Piala Dunia keduanya bersama Jepang pada musim panas 2026.

Kekuatan Jepang terletak pada kedalaman skuad yang menyebar di liga-liga top Eropa. Beberapa nama bintang yang menghuni tim antara lain:

  • Kaoru Mitoma (Brighton & Hove Albion) — winger eksplosif yang menjadi salah satu sayap paling berbahaya di Premier League
  • Takefusa Kubo (Real Sociedad) — playmaker kreatif binaan akademi Barcelona
  • Daichi Kamada (Crystal Palace) — gelandang serang yang konsisten di Premier League
  • Wataru Endo (Liverpool) — kapten dan jangkar lini tengah
  • Ritsu Doan (Eintracht Frankfurt) — winger pencetak gol penting di Bundesliga
  • Ko Itakura dan Hiroki Ito — pilar pertahanan yang merumput di Bundesliga

Rekor Mengesankan Lawan Tim Elite

Jepang punya catatan mengesankan melawan tim besar dunia. Sejak 2022, Samurai Biru sukses menumbangkan Jerman dua kali, Brasil, dan Inggris.

Mereka juga menjadi tim Asia pertama yang lolos otomatis ke Piala Dunia 2026. Pencapaian itu menunjukkan dominasi Jepang di kualifikasi zona AFC.

Bagi Indonesia, pertemuan ini menjadi reuni pahit. Pada kualifikasi Piala Dunia 2026, Garuda dibantai 0-6 oleh Jepang. Catatan tersebut menjadi pengingat keras tentang jurang kualitas yang ada.

Qatar: Juara Bertahan dengan Mental Pemenang

Qatar menjadi lawan paling unik dari sisi pengalaman. The Maroon merupakan satu-satunya tim di Grup F yang berstatus juara bertahan Piala Asia.

Skuad asuhan Julen Lopetegui — pelatih asal Spanyol yang juga pernah menangani Real Madrid dan timnas Spanyol — kini berada di peringkat 55-56 dunia versi FIFA. Qatar juga lolos otomatis ke Piala Dunia 2026 sebagai tim kedua dari zona AFC yang mengamankan tiket.

Dua Trofi Beruntun

Qatar mencatat sejarah dengan menjuarai dua edisi Piala Asia secara beruntun, yakni 2019 di UEA dan 2023 di kandang sendiri. Pencapaian ini menjadikan Qatar salah satu dari hanya lima tim dalam sejarah yang sukses mempertahankan gelar Piala Asia.

Final 2023 menjadi panggung sempurna bagi Qatar. The Maroon mengalahkan Yordania 3-1 di Stadion Lusail dengan disaksikan 86.500 penonton.

Akram Afif: Bintang Utama The Maroon

Nama Akram Afif wajib digarisbawahi. Winger Al Sadd ini menjadi MVP sekaligus top scorer Piala Asia 2023 dengan delapan gol dan tiga assist dalam tujuh laga.

Afif mengukir rekor sebagai pencetak hat-trick pertama dalam sejarah final Piala Asia. Tiga gol penaltinya di partai pemungkas membungkam Yordania.

Pemain berdarah Somalia-Yaman ini juga dua kali meraih AFC Player of the Year (2019 dan 2023). Ia menjadi pemain Qatar pertama yang meraih gelar tersebut dua kali, menyamai legenda Jepang Hidetoshi Nakata dan pemain Uzbekistan Server Djeparov.

Selain Afif, Qatar mengandalkan striker veteran Almoez Ali, kiper Meshaal Barsham yang dinobatkan sebagai Best Goalkeeper Piala Asia 2023, serta gelandang Mohammed Waad dan bek Lucas Mendes.

Filosofi Lopetegui

Lopetegui membawa filosofi sepak bola Spanyol ke skuad Qatar. Pendekatannya berfokus pada build-up yang terorganisir, struktur pressing, dan presisi teknis.

Tactical DNA ini berpadu apik dengan latar belakang pemain Qatar yang mayoritas dibesarkan di Aspire Academy. Hasilnya adalah tim yang teknis, disiplin, dan klinis di momen krusial.

Thailand: Derbi ASEAN dengan Catatan Mengkhawatirkan

Thailand menjadi lawan yang secara teori paling realistis bagi Indonesia. Tim Gajah Perang berada di peringkat 96-99 dunia versi FIFA, lebih tinggi dari Indonesia yang menempati posisi 122 dunia.

Pergantian Pelatih Jelang Piala Asia

Thailand mengalami pergolakan kepelatihan menjelang Piala Asia 2027. Masatada Ishii — pelatih Jepang yang sebelumnya membawa Thailand lolos 16 besar Piala Asia 2023 — dipecat pada Oktober 2025 buntut perbedaan visi strategis dengan federasi.

Posisinya digantikan Anthony Hudson, pelatih Inggris-Amerika yang sebelumnya pernah menjadi pelatih sementara Timnas AS pada 2023 dan menukangi Colorado Rapids di MLS (2017-2019). Hudson juga sempat menangani BG Pathum United di Liga Thailand.

Debut Hudson cukup menjanjikan dengan kemenangan telak 6-1 atas Chinese Taipei di kualifikasi Piala Asia. Filosofinya menekankan permainan berbasis penguasaan bola dan high pressing.

Catatan Kelam di AFF Cup 2024

Catatan terbaru Thailand justru cukup mengkhawatirkan. War Elephants gagal mempertahankan gelar AFF Cup setelah kalah agregat 3-5 dari Vietnam di final Januari 2025. Padahal sebelumnya Thailand juara dua kali beruntun pada 2020 dan 2022.

Thailand juga gagal lolos ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka harus puas finis di posisi tiga Grup C kualifikasi putaran kedua, di bawah Korea Selatan dan China.

Kekuatan dan Kelemahan

Thailand tetap menjadi raksasa di kawasan ASEAN dengan tujuh trofi AFF Championship — terbanyak sepanjang sejarah. Mereka punya pemain-pemain teknis seperti Supachok Sarachat, Sarach Yooyen, dan kiper Saranon Anuin yang sempat tampil heroik di Piala Asia 2023.

Namun, kelemahan Thailand terletak pada inkonsistensi hasil melawan tim Asia papan atas. Mereka juga kerap kesulitan mengonversi peluang, masalah klasik yang menjadi titik fokus evaluasi tim pelatih.

Skenario Pertarungan untuk Indonesia

Dari analisis ini, peluang realistis Indonesia terletak pada laga melawan Thailand di matchday ketiga. Walau War Elephants secara ranking lebih tinggi, gap kualitas tidaklah selebar dengan Jepang atau Qatar.

Laga melawan Qatar di matchday kedua menjadi pertaruhan menarik. Faktor adaptasi Qatar dengan iklim Saudi sebagai sesama negara Teluk menjadi keunggulan tersendiri, namun Indonesia bisa memanfaatkan momentum jika berhasil curi poin di laga pembuka.

Pertemuan dengan Jepang di pembuka grup hampir mustahil dimenangi di atas kertas. Namun, Indonesia bisa fokus meminimalkan kekalahan untuk menjaga selisih gol — faktor penting jika kelak bersaing di jalur peringkat ketiga terbaik.

John Herdman dan stafnya kini punya tugas berat menyusun strategi yang efektif. Menakar kekuatan lawan secara objektif menjadi langkah awal untuk meracik taktik yang tepat di setiap pertandingan.

Visited 13 times, 1 visit(s) today