Mengapa Topografi Tektonik Sumatera Jauh Lebih Mematikan Dibanding Malaysia dan Thailand?

Mengapa Topografi Tektonik Sumatera Jauh Lebih Mematikan Dibanding Malaysia dan Thailand?

Ibnu Medium.jpeg

Senin, 8 Desember 2025 – 13:04 WIB

Suasana pusat Kota Kuala Simpang yang luluh lantak akibat banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (6/12/2025). (Foto: Antara)

Suasana pusat Kota Kuala Simpang yang luluh lantak akibat banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (6/12/2025). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Bencana hidrometeorologi akibat Siklon Senyar tidak hanya menghantam Indonesia, tetapi juga negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. 

Namun, data terbaru per Minggu (7/12) menunjukkan disparitas korban jiwa yang mencolok: Indonesia mencatat 940 kematian, sementara Thailand 276 jiwa, dan Malaysia hanya 3 jiwa.

Para ahli menyebut tingginya angka kematian di Indonesia tidak bisa sekadar dimaafkan dengan alasan jumlah penduduk yang lebih besar. Kombinasi mematikan antara kerentanan geologis, kegagalan tata ruang, deforestasi masif, dan ironi pemangkasan anggaran penanggulangan bencana menjadi penyebab utamanya.

Anomali Siklon Senyar dan Rapuhnya “Cincin Api”

Mantan Kepala BMKG yang kini menjadi pakar geologi lingkungan UGM, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa Siklon Senyar adalah sebuah anomali. Siklon ini terbentuk di utara Selat Malaka, fenomena yang sangat jarang terjadi di garis khatulistiwa, namun dipicu oleh pemanasan atmosfer akibat perubahan iklim.

“Dampaknya di Sumatera sangat menghancurkan karena siklon ini masuk ke daratan (landfall), bergerak dari barat Sumatera Barat menuju Aceh dan Sumatera Utara,” jelas Dwikorita.

Perbedaan mendasar dengan Malaysia terletak pada topografi. Semenanjung Malaysia memiliki topografi yang lebih landai dan stabil. 

Sebaliknya, Sumatera duduk di atas pertemuan lempeng tektonik aktif (Ring of Fire). 

Tanah di Sumatera secara alami sudah gembur dan rentan longsor; ketika diguyur hujan ekstrem dari ekor siklon, tanah itu berubah menjadi bubur mematikan.

“Dosa” 1,4 Juta Hektare Deforestasi

Kerentanan alami tersebut diperparah oleh ulah manusia. Manajer Kampanye Tata Ruang dan Infrastruktur WALHI, Dwi Sawung, menyoroti data deforestasi yang mengerikan. Antara 2016 hingga 2025, sekitar 1,4 juta hektare hutan di Aceh, Sumut, dan Sumbar telah hilang.

Hilangnya tutupan hutan ini berkaitan erat dengan operasional 631 perusahaan yang memegang izin tambang, perkebunan sawit, hingga pembangkit listrik. 

“Tanah kehilangan kemampuannya menyerap air. Hutan yang seharusnya menjadi spons alami kini gundul, memicu banjir bandang yang membawa material lumpur dan kayu,” ujar Dwi.

Merespons hal ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam rapat dengar pendapat dengan DPR (4/12) menyatakan pihaknya tengah meninjau ulang perizinan dan bersiap mencabut 20 izin hutan produksi yang mencakup luas 750.000 hektare, menunggu persetujuan Presiden Prabowo Subianto.

Ironi Anggaran: Bencana Naik, Dana BNPB Terjun Bebas

Di saat frekuensi bencana hidrometeorologi diprediksi terus meningkat, kapasitas fiskal lembaga penanggulangan bencana justru dikebiri. Analisis menunjukkan tren penurunan drastis anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Tahun 2024: Rp 4,39 triliun

Tahun 2025: Rp 2,01 triliun

Tahun 2026 (Rencana): Rp 491 miliar

“BNPB memiliki sumber daya yang sangat terbatas saat ini,” ujar Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan Universitas Indonesia.

Keterbatasan ini berdampak langsung pada respons tanggap darurat. Mahawan mencontohkan lambatnya pengerahan bantuan kapal rumah sakit yang baru dikirim dari Jakarta beberapa hari setelah kejadian, padahal peringatan dini BMKG sudah keluar 4-8 hari sebelum siklon menerjang.

“Sistem peringatan dini kita seringkali tidak jelas sinyalnya bagi masyarakat awam. Ditambah lagi, fokus mitigasi kita selama ini terlalu berat ke vulkanik dan tsunami, sehingga gagap saat menghadapi bencana hidrometeorologi skala raksasa ini,” kritiknya.

Topik
Komentar

Visited 4 times, 1 visit(s) today