Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025 di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (20/10/2025). (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan pernyataan mengejutkan, mendesak Bank Indonesia (BI) agar segera menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) kembali ke level sangat rendah, yakni 3,5 persen. Angka ini jauh di bawah posisi BI Rate saat ini yang masih bertengger di 4,75 persen –sesuai hasil Rapat Dewan Gubernur per 17 September 2025.
Purbaya menegaskan, kunci utama untuk memaksa bank sentral memangkas suku bunga acuannya hingga ke level 3,5 persen –seperti yang pernah terjadi pada periode Februari 2021 hingga Juli 2022– adalah dengan cara menjaga tekanan inflasi secara konsisten di kisaran 2,5 persen.
“Kalau inflasi bisa terus-terusan 2,5 persen, BI harus dipaksa. Pelan-pelan akan bisa dipaksa menurunkan suku bunga acuannya ke 3,5 persen. Harusnya bunga pinjamannya juga turun ke 7 persen atau lebih rendah lagi,” kata Purbaya dengan nada tegas saat menghadiri Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (20/10/2025).
Mengendalikan BI dengan Inflasi
Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini menjelaskan bahwa upaya pemerintah, baik di pusat maupun daerah, untuk mengendalikan inflasi melalui pembentukan Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), memiliki tujuan strategis tersembunyi.
Tujuan sedari awal pembentukan tim ini memang untuk memberikan tekanan balik kepada BI agar terus menjaga suku bunga tetap rendah.
Pemerintah, kata Purbaya, menyadari bahwa kebijakan utama bank sentral adalah inflation targeting regime. Artinya, suku bunga dikendalikan sesuai dengan laju inflasi, atau suku bunga digunakan sebagai instrumen untuk mengendalikan inflasi.
“Biasanya sih bunganya berapa persen di atas inflasi. Kalau inflasinya misal 7 persen, dia (BI) bunga acuannya bisa 8 persen atau lebih sedikit, bunga pinjamannya lebih tinggi lagi,” jelas Purbaya.
Oleh karena itu, pemerintah dan BI sepakat untuk menargetkan inflasi terkendali serendah mungkin. Dengan inflasi yang rendah, BI akan memiliki ruang manuver untuk menurunkan suku bunga acuannya. Konsekuensinya, bunga pinjaman perbankan pun akan ikut melandai, yang pada akhirnya akan mendorong aktivitas perekonomian nasional.
“Karena pemerintah waktu itu enggak bisa mengendalikan bank sentral, jadi cara kita mengendalikan bank sentral adalah mengendalikan inflasi ini,” paparnya.
Suku bunga pinjaman yang rendah adalah harga mati untuk menjaga daya saing ekonomi Indonesia. Purbaya menunjuk Malaysia sebagai perbandingan.
“Kalau itu yang terjadi, maka ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat lagi atau paling enggak bisa bersaing dengan negara lain. Karena di Malaysia, bunga pinjaman paling 5 persen. Kalau di sini ketinggian, perusahaan kita kalah bersaing,” pungkas Purbaya, menyoroti urgensi pemangkasan suku bunga demi memacu pertumbuhan dan daya saing global.











