Ketua DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia saat diwawancarai di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (20/4/2026). (Foto: Antara/Bagus Ahmad Rizaldi)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tahap selanjutnya akan bergantung pada perkembangan harga minyak dunia.
“(Penyesuaian harga) tahap berikutnya kita lihat penyesuaiannya. Kalau harganya turun, ya tidak naik. Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian,” ujar Menteri Bahlil usai konferensi pers penemuan gas raksasa di Kalimantan Timur, yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Ia menyampaikan, penyesuaian harga tahap pertama telah berlangsung. Per 18 April 2026, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menerapkan harga baru BBM nonsubsidi untuk Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite.
Adapun rincian perubahan harga, yakni Pertamax Turbo dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter, Dexlite dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.900 per liter.
Sementara itu, harga BBM Pertamax (RON 92) masih dipertahankan di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green di Rp12.900 per liter.
Pertamina juga masih mempertahankan harga BBM subsidi jenis Pertalite sebesar Rp10.000 per liter dan Biosolar sebesar Rp6.800 per liter.
“Saya katakan bahwa untuk BBM nonsubsidi memang ada penyesuaian harga. Sementara yang bisa dijamin oleh negara adalah BBM subsidi,” ucapnya.
Penyesuaian harga tersebut selaras dengan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.
Kepmen tersebut mengatur formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum, baik bensin maupun solar, yang disalurkan melalui stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Kalau harga BBM subsidi, sampai dengan rata-rata harga ICP (harga minyak mentah Indonesia) 100 dolar AS, tidak akan naik,” kata Bahlil.
Ia memaparkan, saat ini rata-rata ICP dari 1 Januari hingga 20 April berada di kisaran 76 dolar AS per barel.
“Kalau kemarin sekitar 77 dolar AS per barel, bahkan pernah naik sampai 105–106 dolar AS per barel. Sekarang sudah turun, sudah di bawah 100,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia menegaskan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan naik hingga akhir 2026.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














