Misbakhun: Pelemahan Rupiah Saat Ini Beda dengan Krismon 1998

Misbakhun: Pelemahan Rupiah Saat Ini Beda dengan Krismon 1998

Clara Medium.jpeg

Sabtu, 23 Mei 2026 – 22:09 WIB

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun saat ditemui di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun saat ditemui di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat ini, tidak bisa langsung disamakan dengan kondisi krisis ekonomi (krismon) 1998.

Pernyataan itu disampaikan Misbakhun dalam sesi “1 on 1 Legislative with Mukhamad Misbakhun” pada Jogja Financial Festival 2026 yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan di Jogja Expo Center, Sabtu (23/5/2026).

“Kita harus meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa nilai rupiah terhadap dolar AS di level Rp17.800 memang menjadi fenomena. Angka itu sangat tinggi untuk saat ini, tetapi perlu diingat kondisi rupiah sekarang berbeda dengan krisis 1998,” kata Misbakhun.

Menurut dia, pelemahan rupiah pada 1998, terjadi dengan titik awal dan struktur ekonomi yang berbeda dibandingkan kondisi saat ini.

“Rupiah pada saat krisis 1998 menyentuh Rp17.500-Rp17.800, tetapi berangkat dari level Rp2.400 per dolar AS. Sementara rupiah saat ini berada di kisaran Rp17.600 setelah sebelumnya ada di level Rp16.000-an. Struktur ekonomi kita sudah berbeda,” ujar Misbakhun.

Dia menilai, pada 1998 banyak sektor mengalami tekanan berat akibat tingginya utang dalam denominasi dolar AS, serta lemahnya praktik lindung nilai atau hedging.

Karena itu, kata dia, kondisi saat ini, belum menunjukkan tekanan yang sampai memicu kegagalan sektor perbankan maupun swasta seperti yang terjadi pada krisis 1998.

“Sekarang rupiah di level Rp17.600, tetapi belum ada perbankan atau sektor swasta yang mengalami kegagalan. Tantangan saat ini bukan hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga membangun pemahaman publik agar tidak mudah terpengaruh sentimen di media sosial,” kata politikus Partai Golkar.

Ia juga menyoroti pengaruh media sosial terhadap persepsi masyarakat mengenai kondisi ekonomi nasional. “Sentimen kita sekarang banyak ditentukan media sosial. Cara pandang kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di media sosial,” ujar pria asal Pasuruan, Jawa Timur (Jatim). 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 5 times, 1 visit(s) today