Moka Si “Anak Bulu”, Pelipur Lara Ayu dan Boni yang Menanti Buah Hati

Moka Si “Anak Bulu”, Pelipur Lara Ayu dan Boni yang Menanti Buah Hati

Haris Medium.jpeg

Minggu, 9 November 2025 – 10:00 WIB

Ilustrasi kedekatan hewan peliharaan dengan pemiliknya di International Pet Expo (IIPE) 2025 di ICE BSD, Tangerang. (Foto: Inilah.com/Harris)

Ilustrasi kedekatan hewan peliharaan dengan pemiliknya di International Pet Expo (IIPE) 2025 di ICE BSD, Tangerang. (Foto: Inilah.com/Harris)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Di sela hiruk-pikuk Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2025 di ICE BSD, Tangerang, sepasang suami istri, Ayu dan Boni melangkah perlahan. Sorot mata mereka lembut, penuh perhatian, berbeda dengan riuh rendah pengunjung lainnya.

Di dalam dekapan Ayu, seekor kucing Siamese berwarna cokelat muda terlihat sangat tenang. Namanya Moka. Sementara Boni setia membawakan keranjang penuh berisi makanan dan berbagai perlengkapan untuk sang “anak”.

“Ya itu,” ucap Ayu sambil menunjuk keranjang belanja yang penuh, “untuk keperluan anak saya ini.” Sapanya hangat disambut tawa saat berbincang dengan Inilah.com.

Suara Ayu lirih, namun matanya berbinar penuh kasih. Jemarinya, yang tampak sudah sangat akrab dengan bulu-bulu halus, sesekali mengelus kepala Moka dengan penuh kelembutan. Ini adalah pengalaman pertama Moka mengunjungi pameran hewan, dan si kucing jantan itu sesekali terlihat gugup.

“Iya dia (Moka) pemalu ini. Coba kalau di rumah, wah manja banget,” timpal Boni, sang suami, melengkapi cerita istrinya.

Bagi Ayu dan Boni, Moka dan dua kucing lainnya di rumah bukan sekadar hewan peliharaan. Mereka adalah keluarga. Ikatan emosional itu terasa begitu kuat, terlebih bagi pasangan yang sudah tiga tahun menikah dan telah lama menanti dikaruniai seorang anak.

“Besar sekali, sangat besar artinya bagi saya,” kata Boni.

“Mereka sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Dan tak ternilai harganya di mata saya,” ujar Ayu menimpali. Suaranya bergetar saat mengenang. “Saya sudah sering kehilangan hewan yang saya cintai terutama kucing, dan sudah sering juga saya terpukul, nangis, terpuruk meratapi kepergian mereka.”

Namun, di balik kasih sayangnya yang tulus pada hewan, Ayu menyimpan luka yang dalam. Hatinya seringkali disayat oleh sikap kejam manusia terhadap makhluk tak berdosa. Ia geram melihat tetangga yang dengan tega mengusir kucing liar dari lingkungannya.

“Kenapa gitu lho? Tidak senang dengan kotorannya? Namanya juga binatang. Kalau manusia diciptakan tanpa akal juga pasti buang kotoran sembarangan,” ujarnya lirih.

Bagi Ayu, memberi makan kucing liar bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk empati terhadap makhluk yang tak punya pilihan atas tempat mereka dilahirkan.

“Kucing itu tidak memilih mau lahir di mana. Kalau ada orang yang mau peduli, kasih makan, bahkan ngerawat, itu bukan zalim. Itu membantu sesama makhluk. Yang zalim itu justru kalau kita melihat makhluk lapar tapi kita tutup mata,” katanya dengan tegas.

Ia sendiri tak segan merawat kucing liar di sekitar rumahnya. Meski kadang kesal dengan kotoran yang berserakan, Ayu memilih untuk tak ambil pusing. Baginya, membersihkan adalah bagian kecil dari tanggung jawab dan kasih sayang.

“Toh, kalau kita ikhlas, itu jadi pahala juga,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun, air matanya masih mudah tumpah. Terutama ketika ia menyaksikan kekejaman terhadap hewan yang beredar di media sosial. Matanya berkaca-kaca menceritakan sebuah video yang baru saja dilihatnya.

“Beberapa hari lalu saya lihat di media sosial, ada satu keluarga di sebuah daerah, rela memakan anjing peliharaannya sendiri,” katanya, sambil menggelengkan kepala. “Lebih sadisnya, anjing itu dibunuh dengan luar biasa kejamnya. Dimasukin dalam karung, terus dipukul pakai balok kayu sampai mati. Manusia kah anda seperti itu?”

Suaranya lirih, bergetar di antara sedih dan marah yang tak terbendung. Hatinya semakin remuk mengetahui praktik konsumsi daging hewan peliharaan seperti anjing dan kucing masih dianggap sebagai budaya di beberapa daerah.

“Sebagai manusia yang berakal, hewan peliharaan juga bukan sebagai bahan konsumsi. Saya masih melihat di beberapa daerah tertentu, masih ada konsumsi daging kucing, anjing dan seterusnya,” terangnya.

Bagi Ayu dan Boni, menjadi manusia berarti memiliki hati untuk melindungi makhluk yang tak bisa membela diri. Mereka berharap ada langkah nyata dari pemerintah untuk menghentikan segala bentuk kekejaman pada hewan. Sebab, kasih sayang bukanlah sesuatu yang eksklusif hanya untuk sesama manusia.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today