Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri (ketiga kanan) didampingi Direktur Reskrimum Kombes Pol Iman Imanuddin (kedua kanan), Kabid Humas Kombes Pol Budi Hermanto (keempat kiri), Dirresiber Kombes Pol Roberto Gomgom Manorang Pasaribu (kanan) dan Ketua KPAI Margaret Aliatul Maimunah (kelima kiri) menyampaikan keterangan terkait kasus ledakan SMAN 72 di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025). (Foto: Antara/Reno Esnir /nz).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Polisi mengungkap kondisi psikologis mendalam yang dialami siswa pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta. Remaja berstatus ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum) itu disebut merasa kesepian dan menyimpan dendam terhadap perlakuan orang-orang di sekitarnya selama berbulan-bulan.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa perasaan tertekan itu telah dimulai sejak awal tahun 2025.
“Dari awal tahun yang bersangkutan sudah mulai melakukan pencarian-pencarian, perasaan merasa tertindas, kesepian, tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa. Lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam terhadap beberapa perlakuan terhadap yang bersangkutan,” kata Mayndra dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Pencarian solusi dari perasaannya itu justru membawanya kepada konten-konten kekerasan. Pelaku aktif mencari informasi tentang kematian dan bergabung dengan grup-grup yang mengagungkan kekerasan di media sosial.
“Di situ menginspirasi bersangkutan, karena yang bersangkutan mengikuti komunitas di media sosial di mana di situ mereka mengagumi kekerasan. Motivasi yang lain ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu mengupload ke media tersebut, komunitas itu akan mengapresiasi sesuatu hal yang heroik. Di situ hal yang memprihatinkan,” jelasnya.
Inspirasi dari pelaku penembakan di luar negeri semakin memperkuat niatnya. Buktinya, siswa ABH ini menuliskan nama-nama pelaku penembakan internasional pada senjata mainan yang dibawanya saat beraksi.
Densus 88 mengidentifikasi enam nama yang menjadi inspirasi pelaku. Tiga di antaranya adalah Alexandre Bissonnette (pelaku penembakan di Quebec City, 29 Januari 2017), Luca Traini (pelaku penembakan enam migran Afrika di Kota Macerata, Februari 2018), dan Brenton Harrison Tarrant (pelaku penembakan massal di dua masjid Christchurch, Selandia Baru, 15 Maret 2019).
Peristiwa ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta terjadi pada Jumat (7/11/2025) saat khotbah salat Jumat berlangsung. Tragedi ini mengakibatkan 96 orang menjadi korban, baik yang mengalami luka-luka maupun trauma mendalam.












