M Tsaqib Shidiqy bersama temannya saat mendaki puncak Gunung Semeru tahun 2018. (Foto: Dok. Pribadi)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Sejak 2018, M Tsaqib Shidiqy telah menjejakkan kakinya di berbagai puncak gunung se-Nusantara. Ada yang berselimut kabut tebal dan pepohonan rimbun, ada pula yang berdiri gagah dengan tebing-tebing cadas. Setiap gunung, katanya, punya kisah dan ujian tersendiri.
Bagi Diki, sapaan akrabnya, mendaki bukan cuma soal menaklukkan ketinggian, tapi juga tentang menata diri dan membersihkan hati di antara langkah-langkah panjang menuju puncak.
Petualangan pertamanya dimulai di Gunung Semeru, yang menjadi puncak keempat dalam daftar 7 Summits Indonesia. Saat itu, Diki masih benar-benar awam soal dunia pendakian. Ia berangkat hanya dengan celana jeans berwarna biru dengan semangat membara, tanpa sadar bahwa pakaian itu bisa jadi musuh di suhu dingin ekstrem.
“Waktu itu enggak ada rencana mau summit, bayangin aku cuma pakai jeans biru sama hoodie bahkan enggak bawa peralatan lengkap, enggak izin orang tua. Benar-benar nekat,” kenangnya sambil tertawa.
Bersama tiga sahabatnya, Diki menapaki jalur pendakian yang menantang di perbatasan Lumajang dan Malang. Angin gunung yang menggigit sampai ke tulang sempat membuat mereka ingin berhenti di Kalimati. Tapi di tengah kelelahan, datang pertolongan kecil yang berarti besar dari sesama pendaki. “Ada yang kasih roti dan air. Rasanya kayak dikasih semangat baru,” ujarnya.
Perjalanan menuju Mahameru berubah jadi pertarungan melawan diri sendiri. Nafas tersengal, langkah terasa berat, tapi matanya tetap tertuju pada sinar keemasan di ufuk timur. Dan ketika akhirnya sampai di puncak tertinggi Jawa, semua rasa lelah terbayar lunas.
“Begitu lihat matahari muncul di balik lautan awan, semua capek hilang. Enggak sia-sia bagus banget pemandangannya,” katanya.
Dari pendakian nekat itulah tumbuh cinta yang tak bisa padam terhadap dunia pendakian. Semeru menjadi gerbang bagi perjalanan berikutnya menaklukkan Argopuro pada 2022. Bagi Diki, mendaki gunung bukan sekadar tantangan fisik, tapi juga ruang hening untuk berdamai dengan diri sendiri, diselimuti kabut, desau angin, dan cahaya pagi yang lembut menyentuh punggung bukit.
“Awalnya karena penasaran ingin ke sana. Terus kangen alam gitu karena sudah lama dan waktu itu aku ke sana bareng teman-teman baru jadi sekalian kenalan gitu,” ucapnya.
Lelaki asal Jember ini juga punya hobi lain yang berjalan beriringan dengan kecintaannya pada alam, yaitu fotografi. Sejak SMP, kamera sudah jadi sahabat perjalanannya. Ia mengabadikan tiap langkah dengan lensa, dari sunrise di Ranu Kumbolo sampai siluet pendaki di Galo Butak. Bagi Diki, foto bukan sekadar gambar, melainkan catatan perjalanan batin.
“Gunung ngajarin sabar, tapi juga bikin jatuh cinta. Dulu cuma pengin sampai puncak, sekarang aku lebih suka menikmati setiap langkah,” tuturnya.
Dari situ, hobi yang awalnya sekadar pelarian kini justru membuka peluang rezeki. Diki kerap diminta teman-temannya untuk memotret saat pendakian, hingga akhirnya ia membuka bisnis fotografi sendiri.
“Aku suka dipanggil teman untuk kerja bareng project-an gitu. Seneng sih jadinya, ternyata hobi ku bisa jadi cuan juga,” kata dia sambil tertawa.
Kini, setiap kali menatap kembali foto-fotonya di puncak gunung, Diki selalu teringat pelajaran dari pendakian pertamanya. Pesan moralnya, keberanian dan semangat penting, tapi kesiapan dan rasa hormat pada alam adalah segalanya.
Kisah “Puncak Jeans Biru” masih jadi cerita favorit di kalangan teman-teman pendakinya, legenda kecil tentang bagaimana seorang Diki menemukan dirinya di antara dinginnya ketinggian gunung.














