Ogah Mundur karena Dinilai Gagal Stabilkan Rupiah, Bos BI Masih ‘Pede’ Rupiah Bakal Menguat

Ogah Mundur karena Dinilai Gagal Stabilkan Rupiah, Bos BI Masih ‘Pede’ Rupiah Bakal Menguat

Clara Medium.jpeg

Senin, 18 Mei 2026 – 19:31 WIB

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (18/5/2026). (Foto: Tangkapan Layar TV Parlemen).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (18/5/2026). (Foto: Tangkapan Layar TV Parlemen).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nampaknya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo tidak akan merespons desakan mundur dari anggota Komisi XI DPR RI asal Fraksi PAN, Primus Yustisio, terkait kinerja bank sentral yang dinilai gagal menstabilkan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$), maupun mata uang negara lain.

Bos BI itu malah optimistis mata uang Garuda bakal menguat pada Juli-Agustus 2026. Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5/2026), Perry menjelaskan nilai rata-rata tahunan rupiah pada 2026 seharusnya berada di level Rp16.900 per dolar AS. Ia pun mengakui posisi rupiah saat ini sudah berada di atas rata-rata tersebut.

“Apakah stabilitas nilai tukar rupiah mau diukur dengan rentangnya, dengan asumsi nilai tukar? Kan kira-kira ada average tahunan berapa, kisaran bawah dan kisaran atas untuk 2026. Seingat saya, dalam budget Rp16.500 per dolar AS. Atau kisaran bawahnya Rp16.200, kisaran atasnya Rp16.800 per dolar AS,” kata Perry.

“Nanti kami jelaskan bagian kedua untuk year-to-date, sekarang average year-to-date rupiah sekitar Rp16.900 sekian. Wah, berarti sudah di atas nih,” imbuh Perry.

Pada periode April-Juni, menurut Perry, rupiah memang lazim mengalami tekanan. Namun, ia yakin mata uang domestik akan kembali menguat pada semester kedua tahun ini.

“Tapi yang kita bicarakan rata-rata tahunan. Kalau kita lihat dari tahun ke tahun, rupiah memang dalam tekanan pada April, Mei, dan Juni karena demand-nya tinggi. Periode Juli-Agustus menguat. Coba lihat Juli, Agustus, dan September. Karena kami melihat grafiknya, itu yang membuat kami yakin,” jelasnya.

Lebih lanjut, Perry mengatakan kebanyakan bank sentral di dunia tidak menetapkan target nilai tukar mata uang. Hanya beberapa negara seperti Singapura dan Hong Kong yang menerapkan kebijakan tersebut, sementara negara lain menyerahkannya kepada mekanisme pasar.

“Kalau negara lain, volatilitasnya lebih besar meski depresiasinya tidak terlalu besar. Jadi kami gunakan volatilitas, dasarnya standar deviasi. Kan itu ukuran statistik. Mohon maaf, saya tidak bermaksud menggurui. Standar deviasi kan bisa kita ukur. Jadi bukan kembali ke level awal,” bebernya.

Dalam paparannya, Perry sama sekali tidak menanggapi desakan mundur yang disampaikan Primus. Padahal, kader PAN itu cukup “nyelekit” saat menyampaikan kritiknya.

“BI sudah mengenyampingkan kredibilitas, dan Anda sebagai pimpinan BI harus gentleman. Harus berani melawan. Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan. Mungkin sekarang saatnya Anda mengundurkan diri,” tutur Primus.

Primus menilai kemerosotan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, melainkan juga terhadap berbagai mata uang global lainnya. Ia pun mendesak BI menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate demi menjaga stabilitas rupiah.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 4 times, 1 visit(s) today