Profil Putrama Wahju Setyawan (Foto: BNI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dugaan bahwa perbankan lebih memilih memarkir duitnya di instrumen keuangan aman dan cuan, akhirnya terjawab. Pantas saja banyak bank malas mengguyur kredit kepada pebisnis, akhirnya berdampak kepada seretnya roda perekonomian.
Tak sedang bercanda, Direktur Utama (Dirut) BNI yang juga Ketua Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), Putrama Wahju Setyawan menyebut maraknya bank menempatkan dana repurchase agreement (repo) Surat Berharga Negara (SBN) ke SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia).
Dengan kata lain, bank tersebut menggadaikan SBN-nya untuk diparkir ke SRBI. Tentu saja alasannya imbal hasil alias yield SRBI yang lebih cuan ketimbang SBN. Praktik ini tentu saja berdampak kepada fungsi bank sebagai intermediator alias pengguyur kredit bagi sektor usaha.
Untuk SBN bunga berada di kisaran 6,05 persen hingga 6,75 persen per tahun. Sedangkan SRBI bunganya 6,21 persen bertenor 6 bulan, sebesar 6,31 persen bertenor 9 bulan, dan 6,45 persen bertenor 12 bulan.
Jika pebisnis sulit mendapatkan kredit maka jangan harap ekonomi bakal bertumbuh tinggi. Ironisnya, dana repo SBN jumlahnya cukup besar yakni sekitar Rp238 triliun. Namun dana tersebut tidak dialirkan ke sektor riil tapi untuk memborong SRBI.
“Diputar untuk SBN. Ketika melihat imbal hasil dari SRBI lebih menarik, SBN di-repo (gadai), kemudian ditaruh ke SRBI,” kata Putrama di Komisi XI DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (3/6/2026).
Fenomena ini, menurut Putrama, merupakan salah satu dari penyebab fungsi intermediasi perbankan berjalan kurang optimal. Tercermin dari rasio kredit terhadap perekonomian yang relatif rendah dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara. “Rasio kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya 32 persen. Masih di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam,” imbuhnya.
Akan tetapi, kata Putrama, jangan khawatir. Karena, masih ada waktu dan cara untuk mengubah. Masih ada ruang yang besar bagi perbankan nasional untuk meningkatkan kapasitas penyaluran kredit demi menumbuhkan ekonomi nasional.
Konsolidasi perlu dilakukan untuk mendorong kapasitas tersebut. Dan, konsolidasinya bukan semata-mata adalah pengurangan jumlah bank, melainkan penguatan kapasitas industri dengan tujuan adalah membentuk sebuah institusi yang memiliki skala usaha lebih kuat, resilien, serta memiliki daya saing regional maupun global.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











