Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengeluarkan laporan mengkhawatirkan mengenai intensitas operasi militer Israel di Jalur Gaza. OCHA menyebutkan bahwa militer Israel mengintensifkan serangan udara dengan frekuensi sangat tinggi, yakni rata-rata satu serangan dilancarkan setiap delapan hingga sembilan menit, yang berakibat ‘menghancurkan’ warga sipil.
Laporan yang dirilis pada Jumat (26/9/2025) tersebut mencatat lonjakan drastis dalam serangan Israel selama 24 jam terakhir, dengan dampak besar pada penduduk sipil, termasuk ribuan orang yang terpaksa mengungsi dari Kota Gaza yang terkepung.
OCHA mengungkapkan, otoritas kesehatan di Gaza melaporkan peningkatan tajam dalam serangan Israel. Tim PBB di lapangan juga melaporkan adanya bombardir, tembakan dari helikopter dan quadcopter, serta tembakan yang diarahkan ke warga sipil yang sedang mengantre bantuan.
“Puluhan orang dilaporkan tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka,” lapor OCHA, menggambarkan situasi yang semakin genting.
Eskalasi serangan ini memicu gelombang pengungsian massal. OCHA mencatat, tim yang memantau pergerakan orang di dalam Jalur Gaza mencatat sekitar 16.500 warga mengungsi dari Gaza utara ke selatan dalam sehari. Namun, kondisi di Gaza selatan digambarkan sebagai ‘sangat buruk’, menambah penderitaan para pengungsi.
Sementara itu, ratusan ribu warga yang masih bertahan di Kota Gaza sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan karena layanan penting seperti kesehatan dan fasilitas publik terpaksa ditutup atau dipindahkan akibat konflik.
Akses Bantuan yang Dibatasi dan Logistik yang Rumit
Kendati kebutuhan bantuan sangat mendesak, OCHA menggarisbawahi tantangan signifikan yang dihadapi tim kemanusiaan. OCHA menyebutkan bahwa mereka terus dihadapkan pada penolakan akses dan tantangan logistik yang mencegah dukungan disalurkan pada skala yang dibutuhkan.
Dari 15 operasi yang coba dikoordinasikan PBB dengan otoritas Israel untuk mendukung warga di berbagai wilayah Gaza pada Kamis (25/9/2025), OCHA melaporkan hanya tujuh yang difasilitasi sepenuhnya.
Meskipun demikian, tim kemanusiaan berhasil mengumpulkan bahan bakar, perlengkapan medis, dan pasokan lainnya dari perlintasan perbatasan Kerem Shalom (Karem Abu Salem). Namun, mereka dilarang keras mengangkut air di wilayah utara dan tidak diizinkan mengakses perlintasan lain, termasuk untuk mengambil makanan.
OCHA mengeluarkan peringatan keras kepada Israel, Hamas, dan kelompok bersenjata mana pun bahwa pekerja bantuan kemanusiaan dan kendaraan mereka tidak boleh diserang atau ditolak akses penting di darat, sesuai dengan hukum humaniter internasional.
Krisis di Tepi Barat dan Kendala Perbatasan Yordania
Di saat yang sama, OCHA menyoroti krisis di Tepi Barat yang diduduki Israel. Penutupan perlintasan perbatasan langsung antara Yordania dan Tepi Barat, yakni Jembatan Allenby, masih berlangsung untuk impor dan ekspor kargo, termasuk bantuan kemanusiaan.
OCHA menyatakan, penutupan ini menjadi kekhawatiran yang signifikan, mengingat sekitar 35 persen pasokan yang telah disetujui dan siap dikirim ke Gaza saat ini tertahan di Yordania.
Sejak 7 Oktober 2023, jumlah warga Palestina di Tepi Barat yang mengungsi akibat serangan pemukim Israel dan pembatasan akses telah melampaui 3.000 jiwa. Separuhnya adalah anak-anak, terutama dari komunitas Badui dan penggembala.
OCHA menekankan pentingnya mengakhiri kekerasan dan memastikan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional di seluruh wilayah Tepi Barat.














