Pelan Tapi Pasti Sudah Terlihat Hasilnya, Bos Bapanas: Pengendalian Harga Beras tak Pernah Kendur

Pelan Tapi Pasti Sudah Terlihat Hasilnya, Bos Bapanas: Pengendalian Harga Beras tak Pernah Kendur

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 29 November 2025 – 05:09 WIB

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Kamis (17/4/2025). (Foto: ANTARA/Harianto).

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Kamis (17/4/2025). (Foto: ANTARA/Harianto).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dalam sebulan terakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras di sejumlah kabupaten dan kota cenderung turun.

Pada minggu ketiga bulan Oktober 2025, masih ada 62 kabupaten dan kota dengan kenaikan harga beras. Namun pada minggu ketiga November 2025, tersisa hanya 37 kabupaten dan kota saja.

“Satgas pengendalian harga beras terus turun. Jadi kemarin ada 48 kabupaten (minggu kelima Oktober), 48 daerah, tapi ini sudah turun (menjadi 37 daerah). Satgas dan Bapanas kan sudah menurunkan harga. Nah sekarang kita mau turunkan lagi. Kita tidak boleh puas,” kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman di Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Penurunan harga beras, baik medium maupun premium, kata Amran, tampak pula pada rata-rata harga secara nasional. Hal itu bisa dicermati dari Panel Harga Pangan yang dikelola Bapanas. Di mana, rata-rata harga beras pada 27 November jika dibandingkan sebulan sebelumnya, harga beras medium turun.

Di zona 1, harga beras per 27 November 2025 berada di level Rp13.078 per kilogram (kg). Atau turun 1,92 persen ketimbang bulan sebelumnya yang berada di Rp13.334 per kg.

Untuk zona 2, harga beras berada di level Rp13.616 per kg. Turun 2,29 persen ketimbang bulan sebelumnya yang masih Rp13.935 per kg. Sementara zona 3, harga beras turun 4,67 persen, dari Rp16.293 menjadi Rp15.532 per kg.

Kendati demikian, rata-rata harga beras premium secara nasional masih perlu intervensi pemerintah untuk pengendaliannya. Rata-rata harga beras premium di zona 1, sebesar Rp14.806 per kg. Atau turun 1,01 persen ketimbang bulan sebelumnya. Untuk zona 2, harga beras premium turun 1,68 persen, dan zona 3 menurun 4,46 persen. Namun, meski turun masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium.

Masih merujuk kepada data BPS, terdapat penurunan harga beras dalam sebulan terakhir. Misalnya, harga beras medium sampai minggu ketiga November 2025, mengalami penurunan 1,54 persen ketimbang Oktober 2025. Sementara untuk harga beras premium menurun 1,67 persen ketimbang bulan sebelumnya.

“Produksi beras Indonesia tahun ini meningkat pesat. Jadi stok beras sangat aman. Masyarakat tidak boleh mendapatkan beras dengan harga yang tidak sesuai HET. Petani pun juga tidak boleh jatuh harganya. Motivasi petani kita harus terus dijaga. Pemerintah harus menjaga petani sampai masyarakat,” pungkas Amran.

Informasi saja, menurut BPS dalam Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2025, produksi beras nasional Januari sampai Desember dapat mencapai 34,77 juta ton.

Capaian ini telah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia setahun ini yang berkisar di angka 30,97 juta ton, sehingga tercipta surplus sebanyak 3,8 juta ton.

Sementara, terdapat perkiraan produksi beras Indonesia yang terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO). Dalam Food Outlook edisi November 2025, FAO memprediksi produksi beras Indonesia untuk periode 2025-2026 dapat mencapai 36 juta ton.

Proyeksi ini meningkat jika dibandingkan Food Outlook FAO edisi Juni 2025 sebelumnya yang memperkirakan produksi beras Indonesia di angka 35,6 juta ton. FAO pun melaporkan musim 2025-2026 akan mencatatkan rekor produksi beras global yang naik 1,2 persen dibandingkan musim sebelumnya.

Dengan produksi beras 36 juta ton tersebut, menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Karena, produksi berasnya melebihi Vietnam 28,2 juta ton, Thailand 22,2 juta ton, Myanmar 16,7 juta ton, Filipina 12,5 juta ton hingga Malaysia 1,5 juta ton.
 

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today