Aktivis lingkungan dari Ecoton membentangkan poster di atas perahu saat aksi simpatik di sungai Kalimas, Surabaya, Jawa Timur, Senin (3/11/2025). Aksi tersebut mendesak pemerintah setempat untuk melakukan pemulihan kualitas air Sungai Surabaya dan menegur serta menindak industri yang membuang limbah ke sungai. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Peneliti dari Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON), Rafika Aprilianti, mengungkapkan bahaya mikroplastik yang berasal dari sampah pakaian terhadap ekosistem sungai dan kehidupan akuatik di Indonesia.
Rafika menjelaskan, mikroplastik tidak hanya berbahaya karena bahan kimianya seperti ftalat dan BPA yang bersifat pengganggu hormon, tetapi juga berfungsi seperti magnet yang menyerap zat beracun lain seperti pestisida dan logam berat di sungai.
“Ketika organisme air menelan mikroplastik, racun-racun ini masuk ke tubuh mereka dan dapat menyebabkan kerusakan organ, gangguan reproduksi, serta menurunkan populasi ikan endemik,” kata Rafika di Jakarta, Senin (10/11/2025) dikutip dari Antara.
Menurutnya, ketika polusi pewarna pakaian dan mikroplastik telah mendominasi, sungai kehilangan fungsi alaminya sebagai sumber air bersih dan penopang kehidupan.
Rafika menyebut bahan sintetis seperti polyester, nylon, dan spandex sebagai penyumbang terbesar polusi mikroplastik dari limbah pakaian. Ia mendorong masyarakat untuk mulai meninggalkan budaya fast fashion yang memproduksi pakaian murah dalam jumlah besar namun berdampak besar pada lingkungan.
“Kalau bosan dengan pakaian itu-itu saja bisa mix and match. Pakaian yang masih layak pakai sebaiknya disumbangkan kepada yang membutuhkan atau ditukar melalui berbagai proyek bersaling-silang,” ujarnya.
Selain itu, ia menyarankan memilih pakaian dengan kandungan serat alami yang lebih tinggi agar pelepasan mikroplastik ke lingkungan bisa ditekan.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, menguatkan temuan tersebut. Ia menyebut, sejak 2022 timnya menemukan mikroplastik dalam seluruh sampel air hujan di Jakarta.
“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka. Yang beracun bukan air hujannya, tapi partikel mikroplastiknya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain,” jelas Reza.
Hasil riset BRIN menunjukkan rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel air hujan di kawasan pesisir Jakarta. Fenomena ini, kata Reza, menandakan bahwa siklus plastik telah menjangkau atmosfer dan turun kembali bersama air hujan.
Untuk menekan polusi mikroplastik dan risikonya terhadap kesehatan manusia, ia menegaskan perlunya mengurangi penggunaan produk plastik sekali pakai dan memperkuat sistem daur ulang nasional.














