Sebanyak 150 warga Bekasi mengikuti program literasi digital untuk mengenali hoaks, deepfake, dan penipuan berbasis AI. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Universitas Paramadina dan PINTU. (Foto: istock)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Sebanyak 150 warga Kota Bekasi mengikuti program literasi digital yang membahas bahaya hoaks, video deepfake, hingga penipuan siber berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kegiatan ini digelar sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali sekaligus menangkal berbagai ancaman di ruang digital.
Program bertajuk “Cek Sebelum Cekcok” merupakan bagian dari pengabdian masyarakat Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina yang berkolaborasi dengan platform investasi aset kripto PINTU. Kegiatan berlangsung di Trimedia Green Park, Bintara, Bekasi, Jawa Barat, pada 4 Juli 2026.
Acara tersebut turut didukung Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Pemerintah Kota Bekasi, serta akademisi Universitas Paramadina.
Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin, mengatakan literasi digital menjadi kebutuhan penting di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital dan AI.
“Kolaborasi dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen kami terhadap pentingnya literasi digital agar masyarakat semakin waspada menghadapi ancaman siber sekaligus mampu memanfaatkan teknologi secara positif,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Bekasi Miliki 2,2 Juta Pengguna Internet
Anggota DPRD Kota Bekasi, Chairun Nisa, mengatakan literasi digital menjadi semakin penting karena tingginya penetrasi internet di wilayah tersebut.
Menurut dia, dari sekitar 2,8 juta penduduk Kota Bekasi, sebanyak 2,2 juta di antaranya telah menjadi pengguna internet.
“Kita wajib menjadi bagian dari sumber daya manusia Kota Bekasi yang cerdas digital. Hampir setiap orang menghabiskan waktunya di media sosial, sehingga penting melindungi masyarakat dari berbagai praktik penipuan digital,” katanya.
Masyarakat Diminta Kenali Ciri Hoaks
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Rini Sudarmanti, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial.
Ia menjelaskan beberapa ciri informasi palsu, seperti penggunaan judul yang sensasional, gambar atau video hasil rekayasa AI, sumber informasi yang tidak jelas, hingga narasi yang memancing kepanikan.
Rini mengimbau masyarakat membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi.
“Tarik napas, cek faktanya, cari dari sumber yang kredibel, lalu luruskan secara santun,” ujarnya.
Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi digital, terutama para ibu yang menjadi garda terdepan dalam mendampingi anak-anak menggunakan internet.
AI Bisa Dimanfaatkan Secara Positif
Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, mengatakan kemampuan masyarakat dalam mengenali hoaks masih perlu ditingkatkan.
Ia mengutip hasil survei yang menunjukkan sebagian masyarakat masih mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menerapkan prinsip “saring sebelum sharing” agar tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi palsu.
Sementara itu, Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, mengingatkan bahwa pelaku penipuan kini semakin banyak memanfaatkan teknologi AI.
Ia menyarankan masyarakat tidak mudah percaya terhadap pesan atau panggilan yang mengatasnamakan institusi tertentu, selalu memeriksa nomor resmi, serta menghindari mengklik tautan yang tidak dikenal karena berpotensi mengarah ke situs phishing.
Di sisi lain, Reyner menilai AI juga memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara tepat, mulai dari mencari resep masakan, membandingkan produk, hingga membantu pelaku UMKM membuat konten media sosial dan mengelola pembukuan.
Ancaman Penipuan Digital Terus Meningkat
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat adopsi AI yang tinggi.
Berdasarkan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, sebanyak 69 persen pekerja di Indonesia telah memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaan mereka.
Namun, di balik tingginya adopsi teknologi tersebut, ancaman penipuan digital juga meningkat. Data Komdigi menunjukkan kerugian akibat berbagai bentuk penipuan digital di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp7,5 triliun.
Melalui kegiatan literasi digital ini, penyelenggara berharap masyarakat semakin memahami cara mengenali hoaks, deepfake, dan berbagai modus kejahatan siber sehingga mampu memanfaatkan teknologi digital secara aman, produktif, dan bertanggung jawab.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














