Perang Timur Tengah Ancam ‘Rumah’ Paus di Afrika Selatan, Kok Bisa?

Perang Timur Tengah Ancam ‘Rumah’ Paus di Afrika Selatan, Kok Bisa?

Gema peperangan di Timur Tengah ternyata tidak hanya merusak daratan di belahan utara, namun juga mengancam kelestarian biota laut di ujung selatan Afrika. Para peneliti memperingatkan bahwa populasi paus di Afrika Selatan kini berada dalam ancaman serius akibat lonjakan drastis lalu lintas kapal komersial yang menghindari zona konflik.

Dalam makalah yang dipresentasikan di Komisi Perburuan Paus Internasional bulan ini, para ahli menyebutkan bahwa habitat penting paus kini ‘beradu’ dengan koridor pelayaran internasional. Kepadatan ini memicu risiko tabrakan fatal antara kapal raksasa dengan mamalia laut tersebut.

Lonjakan Kapal di ‘Rumah’ Paus

Peneliti Els Vermeulen mengungkapkan adanya ‘tumpang tindih spasial yang luas’ di perairan barat daya Afrika Selatan. Wilayah yang secara global merupakan rumah bagi populasi paus yang signifikan ini, kini justru menjadi jalur pelarian bagi kapal-kapal komersial.

“Peningkatan lalu lintas laut meningkatkan kemungkinan terjadinya tabrakan di habitat-habitat penting tersebut,” ujar Vermeulen sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Senin (11/5/2026).

Data menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan AFP, terhitung sejak 1 Maret hingga 24 April, rata-rata 89 kapal komersial berlayar di sekitar Afrika Selatan setiap harinya. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya yang hanya mencapai 44 kapal per hari.

Efek Domino Penutupan Selat Hormuz

Eksodus kapal ke Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) merupakan dampak langsung dari memanasnya situasi di Selat Hormuz dan Laut Merah. Sejak pembajakan kapal oleh kelompok Houthi pada November 2023 sebagai respons atas agresi di Jalur Gaza, jalur Laut Merah tak lagi dianggap aman.

Kondisi kian kritis setelah pecahnya konflik terbuka antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Serangan gabungan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu aksi balasan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan menutup Selat Hormuz.

Blokade total yang kini diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran semakin mengunci jalur perdagangan di Teluk, memaksa ribuan kapal kargo dan tanker minyak memutar jauh mengelilingi benua Afrika.

Ancaman di Jalur Sibuk

Pesisir barat daya Afrika Selatan selama ini dikenal sebagai wilayah konservasi bagi paus yang bermigrasi. Namun, fungsi wilayah ini sebagai tempat perlindungan kini terganggu oleh kebisingan mesin kapal dan risiko fisik tabrakan yang mematikan.

Para aktivis lingkungan khawatir, jika ketegangan di Timur Tengah tak kunjung mereda, jumlah kematian paus akibat interaksi dengan kapal akan meningkat tajam. Diplomasi yang gagal di belahan dunia lain, secara ironis, harus dibayar mahal oleh ekosistem laut di ujung selatan benua hitam.

Hingga saat ini, otoritas pelayaran internasional masih terus memantau situasi di Selat Hormuz, sementara para konservasionis mendesak adanya pengaturan jalur pelayaran yang lebih aman di sekitar Afrika Selatan guna mencegah tragedi lingkungan yang lebih luas.

Visited 5 times, 1 visit(s) today