Peringkat Kredit Stabil dari S&P Gagal Jadi ‘Obat Kuat’ untuk Rupiah

Peringkat Kredit Stabil dari S&P Gagal Jadi ‘Obat Kuat’ untuk Rupiah

Clara Medium.jpeg

Selasa, 14 Juli 2026 – 20:18 WIB

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.529 per dolar AS hari ini, Selasa, 12 Mei 2026. (Foto: Antara)

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.529 per dolar AS hari ini, Selasa, 12 Mei 2026. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kinerja nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) melemah, dan menjadi salah satu mata uang yang performanya paling jeblok di Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, secara year-to-date (ytd), kurs rupiah merosot 7,79 persen, dan ditutup di level Rp18.091/US$ pada perdagangan Selasa (14/7/2026).

Anjloknya mata uang Garuda ini, menjadi yang terburuk kedua di kawasan Asia. Melampaui depresiasi rupee India (USD/INR) yang melemah 6,57 persen di level 96,2025.

Fenomena ambruknya rupiah ini, seharusnya tidak terjadi. Karena, lembaga pemerintah dunia yakni S&P baru saja mempertahankan peringkat kredit Indonesia di posisi stabil.

Seharusnya, capaian tersebut melahirkan sentimen positif bagi berototnya rupiah. Ekspektasi pasar sempat mengukir nilai tukar rupiah berada di bawah level psikologis Rp18.000/US$.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut, rupiah diprediksi bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (15/7). “Namun ditutup melemah di rentang 18.090- 18.140 per dolar AS,” kata Ibrahim, Selasa (14/7).

Penguatan rupiah pada hari ini, kata dia, terjadi di saat dolar AS yang juga sedang menguat. Di mana, sentimen global yang memengaruhi adalah ketegangan yang belum mereda di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah pertukaran militer yang diperbarui dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20 persen pada kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutupi biaya keamanan. 

Daya Saing Rontok

Ekonom FEB Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty menduga, turunnya daya saing nasional, memicu kepanikan modal asing di pasar domestik.

Di mana, peringkat daya saing global Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking (WCR) turun dari posisi 40 pada 2025, menjadi peringkat 48 dari 70 negara pada 2026.

Penurunan ini melanjutkan tren sebelumnya yang berasal dari posisi puncak di peringkat 27 pada tahun 2024. Aliran modal asing keluar karena investor mengalihkan ke negara tetangga, seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Selain itu, dia mencermati rentetan kasus korupsi yang menyeret aparat penegak hukum, ikut menggerus kepercayaan pemodal asing. “Banyak hal yang perlu segera diperbaiki. Itu semua menjadi driver penting bagi penguatan nilai tukar di masa depan,” ujar Telisa.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 3 times, 3 visit(s) today