Perubahan Perilaku Jadi Faktor Utama Meningkatnya Penderita Diabetes di Indonesia

Perubahan Perilaku Jadi Faktor Utama Meningkatnya Penderita Diabetes di Indonesia

Diana Medium.jpeg

Jumat, 17 April 2026 – 15:45 WIB

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Siti Nadia Tarmizi membahas diabetes melitus dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/4/2026). (Foto: Inilah.com/ Diana Rizky)

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Siti Nadia Tarmizi membahas diabetes melitus dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/4/2026). (Foto: Inilah.com/ Diana Rizky)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Siti Nadia Tarmizi menyebut faktor utama yang meningkatkan jumlah penderita diabetes melitus (DM) di Indonesia, yaitu perubahan perilaku.

“(Penyebabnya karena) faktor perilaku, keturunan juga ada, tapi penyebab utamanya apa? Perilaku kan. Dan kalau sakit penyakit tidak menular itu, jarang umumnya kita langsung dapat pada usia muda. Tapi karena perilaku yang tidak benar, itu yang kemudian bergeser (di mana pengidap DM kini sejak usia muda),” tutur Nadia di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026).

Ia lantas menyoroti perilaku anak muda zaman sekarang yang banyak mengonsumsi minuman dan makanan manis.

“Fakta nyata kan minuman manis yang berkemasan maupun yang siap saji, itu terus-menerus meningkat kan. Apalagi sekarang tren gen Z beli kopinya segelas, duduknya 4 jam gitu ya. Kenapa sih kok masih kenyang? Ternyata karena kadar kopi gulanya yang sangat tinggi, cuma Americano kan yang enggak ada gulanya,” jelasnya.

Obesitas

Selain itu, salah satu faktor risiko lainnya adalah obesitas. Bahkan kata Nadia, para pengidap DM juga cenderung akan mengalami sakit ginjal yang kini penderitanya meningkat sebanyak 20,84 persen.

“(Lalu) ini yang sempat disampaikan oleh Pak Menkes sebelumnya, bahwa kalau kita data 2009-2023 DM itu meningkat menjadi urutan keempat dari urutan kesembilan penyakit di Indonesia. Jadi berarti memang jumlahnya banyak dan terjadi peningkatan itu 40 persen atau 37 persen,” ungkap Nadia.

Di sisi lain, dengan jumlah penderitanya yang semakin meningkat, ia menuturkan bila untuk pengendalian penyakit DM di Indonesia juga selalu tertinggal, bila dibandingkan dengan negara lain.

Tak hanya itu, DM kata dia juga dapat menyebabkan disabilitas karena organ lain yang terdampak, dapat terjadi kerusakan. “Jadi kita jangan berpikir bahwa oh kalau sakit DM, tenang-tenang saja. Kalau gula darahnya naik baru kita minum obat. Enggak, dampaknya luar biasa,” tegasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 10 times, 1 visit(s) today