Nama Livano Comenencia belum pernah bersinar seterang sekarang. Kisahnya dikulik dan dibicarakan, seiring masa lalunya ditampilkan dalam deretan kata artikel-artikel media internasional.
Comenencia menjadi buah bibir setelah mengukir sejarah untuk timnas Curacao dengan melesakkan gol pertama mereka di Piala Dunia saat bersua Jerman pada laga Grup A Piala Dunia 2026 di Stadion Houston, Amerika Serikat, Senin (15/6) dini hari WIB.
Saking berartinya gol tersebut bagi masyarakat dan insan sepak bola Curacao, kekalahan 1-7 dari Jerman seolah-olah terlupakan begitu saja.
Timnas Curacao, yang berstatus tim debutan di Piala Dunia 2026, dianggap sudah memberikan upaya maksimal, bahkan sejak fase kualifikasi.
Dengan penduduk hanya kurang lebih 156 ribu orang, yang membuat Curacao menjadi negara terkecil yang pernah berkompetisi di Piala Dunia, sulit membayangkan mereka mampu tampil di Piala Dunia 2026 dari fase kualifikasi.
Akan tetapi, di bawah bayang-bayang pesimisme, Curacao tetap fokus. Memulai kualifikasi dari putaran kedua zona Concacaf, Curacao tampil apik dan dominan.
Catatan mereka mentereng, empat kali menang dari empat pertandingan yang tentu saja menempatkan mereka di posisi puncak Grup C putaran kedua kualifikasi.
Melaju ke putaran ketiga, Curacao lagi-lagi tidak terkalahkan dengan torehan tiga kemenangan dan tiga kali seri yang membuat mereka menjuarai Grup B dan lolos ke Piala Dunia 2026, Piala Dunia pertama Curacao sejak negara tersebut mendapatkan status otonominya pada 2010.
Dari banyak pemain yang memperkuat Curacao pada kualifikasi tersebut, Livano Comenencia menjadi salah satu yang paling menonjol.
Mampu mengisi posisi bek kiri, kanan dan gelandang bertahan, pemain berumur 22 tahun itu merupakan tipe pesepak bola versatile yang diidamkan banyak pelatih termasuk juru taktik timnas Curacao, Dick Advocaat.
Berasal dari Belanda
Hubungan erat Curacao dengan Kerajaan Belanda membuat banyak warga negara tersebut tinggal di Negeri Kincir Angin, termasuk keluarga dan orang tua Comenencia.
Livano Comenencia lahir di Breda, Belanda, pada 3 Februari 2004. Awalnya, sampai usianya di kisaran tujuh tahun, dia mengasah kemampuan sepak bolanya di akademi TVC Breda, klub amatir lokal.
Bakatnya semakin terasah ketika dia bergabung ke akademi klub papan atas Belanda, PSV Eindhoven pada tahun 2012.
Di akademi tersebut, di mana dia salah satunya dilatih eks penyerang tim nasional Belanda dan Manchester United Ruud van Nistelrooy, Comenencia dianggap sebagai salah satu pemain terbaik.
Performanya yang di atas rata-rata membuat Comenencia diganjar kontrak profesional pada Februari 2022, yang mengikatnya di PSV sampai tahun 2025.
Pada 2021, media Inggris The Guardian memasukkan nama Comenencia sebagai salah satu dari 60 pesepak bola muda terbaik dunia, bersama gelandang timnas Indonesia Marselino Ferdinan.
Di PSV, dia mengisi tim U17 sampai U21. Dia pun kerap dipanggil ke timnas Belanda usia muda, mulai U15 hingga U20. Comenencia sempat pula menjadi kapten timnas U18 Belanda.
“Dia seorang pemimpin sejati di lapangan. Sering dibandingkan dengan Virgil van Dijk (bek timnas Belanda-red) yang juga lahir di Breda, tetapi dia berharap menjadi gelandang seperti Georginio Wijnaldum,” tulis The Guardian.
Belum sampai menghabiskan kontraknya di PSV, Comenencia dipinang oleh Juventus pada September 2023 dan memperkuat Juve Next Gen (tim U23 Juventus).
Di Juventus Next Gen pada 2023-2025, dikutip dari Transfermarkt, Comenencia tampil 38 kali dengan torehan dua gol dan delapan assist.
Konsisten berkontribusi di skuad belia Juventus, dia didatangkan klub Liga Swiss, FC Zurich, pada Agustus 2025. Pada musim 2025/2026, dia bermain 25 kali untuk Zurich.
Walau dibesarkan oleh sepak bola Belanda, Comenencia memutuskan untuk memperkuat timnas Curacao pada tahun 2024, alih-alih skuad Oranje. Sampai sekarang, dia telah bermain 20 kali untuk Curacao dengan torehan tiga gol.
Di timnas Curacao, Comenencia memberikan segalanya yang dia punya. Tidak pernah mengeluh meski fasilitas sepak bola Curacao berbeda sangat jauh dengan Belanda.
“Kami berlatih dan bermain di lapangan yang kondisinya kurang baik. Namun kami bertarung dengan darah, keringat dan air mata. Kami pantas berada di Piala Dunia,” ujar Comenencia kepada FIFA pada Desember 2025.
FIFA pun sangat menghargai perjuangan timnas Curacao dan memutuskan untuk mengabadikan perjuangan mereka bertarung di kualifikasi sampai berhasil melaju ke Piala Dunia 2026 di Museum FIFA.
Sebagai simbol, FIFA memilih untuk menyimpan jersei yang dikenakan Comenencia pada laga kontra Jamaika di Grup B putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Concacaf, Oktober 2025, di museum mereka.
Alasannya, Comenencia dinilai sebagai pemain paling menentukan pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Ergilio Hato, Willemstad, Curacao, itu.
Comenencia membuka keunggulan Curacao pada menit ke-14, lalu digandakan Kenji Gorre (68′). Kemenangan 2-0 atas Jamaica, yang menjadi pesaing berat mereka di kualifikasi, itu pun menjadi momen kunci yang membuka lebar jalan Curacao ke Piala Dunia 2026.
“Di Museum FIFA, kami tidak hanya merayakan dan mengabadikan masa lalu. Namun, kami mendokumentasikan sejarah yang sedang berlangsung. Jersei Livano ini mewakili babak baru yang luar biasa di permainan global ini,” kata Direktur Museum FIFA Marco Fazzone.
Fazzone menyebut bahwa Comenencia dan timnas Curacao sudah menjadi bagian dari sejarah sepak bola.
“Menerima jersei ini langsung dari Livano, menjadi momen istimewa dan memungkinkan kami melestarikan terobosan Curacao sebagai bagian dari sejarah sepak bola,” tutur dia.
Di Piala Dunia 2026, Curacao berada di Grup E bersama Pantai Gading, Ekuador dan Jerman. Mereka berkesempatan menorehkan sejarah lain lantaran masih memiliki dua pertandingan tersisa melawan Ekuador pada 20 Juni dan Pantai Gading lima hari kemudian.










